Idul Fitri: Manifestasi Kebaikan Bersama dan Momentum Bangun Bangsa
Guru Besar UIN Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menjelaskan Idul Fitri sebagai manifestasi kebaikan bersama dan momentum untuk membangun bangsa yang lebih baik, sejahtera, dan berakhlak mulia.

Jakarta, 31 Maret 2024 (ANTARA) - Idul Fitri 1446 Hijriah bukan hanya sekadar momen kembali suci, melainkan juga manifestasi kebaikan bersama dan momentum untuk membangun bangsa yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar sekaligus Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie, dalam khotbah Shalat Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Dalam khotbahnya, Prof. Tholabi menekankan bahwa otentisitas seorang hamba di hadapan Allah SWT diwujudkan melalui pikiran dan tindakan yang bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. Ia menjelaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan bukan hanya untuk perbaikan spiritual individu, tetapi juga sebagai modal sosial dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Puasa, menurutnya, membentuk pribadi, kelompok masyarakat, bahkan negara menjadi lebih baik dan lebih beradab.
Lebih lanjut, Prof. Tholabi memaparkan pentingnya keadaban publik sebagai hasil dari amaliah Ramadhan. Zakat, infak, dan sedekah, bukan hanya ibadah personal, tetapi juga instrumen untuk memperkuat solidaritas sosial dan menciptakan keadilan ekonomi. Beliau mengutip laporan The World Giving Index 2024 yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia, sebagai bukti berkembangnya kesadaran sosial umat Islam.
Ibadah Puasa: Modal Sosial Menuju Masyarakat yang Lebih Baik
Prof. Tholabi menjelaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan telah membentuk karakter dan perilaku masyarakat Indonesia. Hal ini terlihat dari meningkatnya kepedulian sosial dan semangat berbagi di tengah masyarakat. Puasa, menurutnya, bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga proses penempaan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan peduli terhadap sesama.
Ia menambahkan bahwa peningkatan pengumpulan zakat setiap tahunnya menjadi bukti nyata kesadaran sosial yang terus berkembang. Capaian kebaikan ini, menurutnya, harus dikelola dengan baik dan efektif sebagai manifestasi komitmen dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan semangat persatuan dan kebersamaan yang ditanamkan selama bulan Ramadhan.
Lebih lanjut, Prof. Tholabi juga menekankan pentingnya meneruskan budaya literasi yang telah dijalankan selama Ramadhan. Tadarus, misalnya, tidak hanya dimaknai sebagai tilawah, tetapi juga sebagai upaya aktivasi akal dalam memahami fenomena kehidupan. Budaya literasi ini, menurutnya, harus diteruskan dan dikembangkan di lembaga pendidikan formal maupun non-formal untuk mewujudkan kemajuan bangsa Indonesia dan menyongsong Indonesia emas 2045.
Menjaga Nilai-nilai Ramadhan untuk Indonesia yang Lebih Baik
Dalam konteks sosial yang lebih luas, Prof. Tholabi mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan selama Ramadhan, seperti kebersamaan, persatuan, dan semangat berbagi. Semangat Ramadhan, menurutnya, seharusnya menjadi panduan dalam membangun kehidupan yang bebas dari korupsi dan ketidakadilan.
Ia mengajak seluruh umat Islam untuk terus berupaya membangun bangsa yang maju, sejahtera, dan penuh keberkahan. Idul Fitri, menurutnya, bukan hanya momen untuk kembali suci, tetapi juga momentum untuk menanamkan kebajikan di ruang publik dan melanjutkan semangat berbagi dan kepedulian sosial yang telah ditumbuhkan selama bulan Ramadhan.
Dengan demikian, Idul Fitri menjadi momentum untuk merefleksikan diri dan mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, membangun bangsa yang lebih baik, dan mewujudkan cita-cita Indonesia emas 2045. Hal ini sejalan dengan semangat persatuan dan kebersamaan yang telah ditanamkan selama bulan Ramadhan.
Prof. Tholabi berharap agar semangat Ramadhan dapat terus dijaga dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang maju, sejahtera, dan penuh keberkahan.
Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya menjadi momen perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia.