Katto Bokko: Tradisi Panen Raya Maros yang Tak Lekang Zaman
Tradisi Katto Bokko di Maros, Sulawesi Selatan, mempertahankan praktik pertanian tradisional dan nilai gotong royong dalam upacara panen raya unik yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Tradisi Katto Bokko, sebuah upacara panen raya unik, berlangsung di Kampung Kassi Kebo, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Setiap tahun, biasanya di pekan terakhir Maret atau April, setelah salat subuh, warga dan keturunan Kekaraengan Marusu berkumpul untuk merayakan panen padi jenis Banda di sawah adat. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas hasil panen dan mempererat silaturahmi antara keluarga kerajaan dan masyarakat. Prosesinya melibatkan doa, pemotongan padi secara tradisional, arak-arakan hasil panen ke rumah adat Balla Lompoa, dan upacara penyambutan dengan syair-syair berisi petuah.
Tradisi ini tetap lestari meskipun sistem pertanian telah mengalami modernisasi. Penggunaan alat tradisional seperti anai-anai dan bajak sapi, serta pupuk organik, menunjukkan komitmen terhadap kearifan lokal dan kelestarian lingkungan. Katto Bokko bukan sekadar upacara panen, tetapi juga perwujudan nilai gotong royong dan kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun.
Dengan melibatkan generasi muda, tradisi ini diharapkan tetap lestari dan mengajarkan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi penerus. Pemerintah Kabupaten Maros pun mendukung pelestarian Katto Bokko, bahkan memasukkannya sebagai agenda tetap dalam kalender wisata daerah. Hal ini menunjukkan pentingnya tradisi Katto Bokko sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang perlu dilindungi dan dipromosikan.
Mengenal Lebih Dekat Tradisi Katto Bokko
Upacara Katto Bokko diawali dengan berkumpulnya warga dan keturunan Kekaraengan Marusu di Balla Lompoa, rumah adat kerajaan. Suara gendang dan gong mengiringi perjalanan menuju sawah adat yang berjarak sekitar satu kilometer. Pemangku adat, Abdul Waris Karaeng Sioja, memimpin prosesi tersebut.
Setelah doa, panen padi dilakukan secara gotong royong menggunakan alat tradisional. Padi jenis Banda, yang merupakan bibit turun-temurun, dipanen dan diikat dalam kelompok besar, lalu dihias dengan bunga sebelum diarak ke rumah adat.
Di rumah adat, prosesi penyambutan dengan 'A'ngaru', syair atau seloka berisi petuah, dilakukan sebelum padi disimpan di loteng. Karaeng Sioja menjelaskan bahwa Katto Bokko merupakan wujud syukur dan ajang silaturahmi, serta perwujudan kebersamaan antara bangsawan dan rakyat.
Tradisi ini juga menjadi ajang halal bihalal, khususnya jika bertepatan dengan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Sistem pertanian tradisional yang ramah lingkungan, termasuk penggunaan pupuk organik dan bajak sapi, menjadi ciri khas Katto Bokko.
Katto Bokko: Potensi Wisata dan Pelestarian Budaya
Pemerintah Kabupaten Maros, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, sangat mendukung pelestarian Katto Bokko. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Maros, Ferdiansyah, menyebutnya sebagai potensi wisata yang menarik. Bupati Maros, HAS Chaidir Syam, juga mengapresiasi prinsip demokrasi dan kearifan lokal yang dijunjung tinggi dalam tradisi ini.
Pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia semakin memperkuat posisi Katto Bokko. Hal ini memastikan tradisi ini tetap lestari dan dapat disaksikan oleh generasi mendatang.
Kearifan lokal yang tercermin dalam pemilihan benih padi Banda yang tahan hama dan penggunaan pupuk organik juga menjadi daya tarik tersendiri. Katto Bokko telah membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan ciri khasnya.
Gotong Royong dan Nilai-Nilai Luhur
Tradisi Katto Bokko dijaga kelestariannya oleh keturunan Kekaraengan Marusu dan masyarakat setempat melalui swadaya dan nilai gotong royong. Prosesinya sarat dengan filosofi menjaga keseimbangan alam, mulai dari pemilihan benih hingga prosesi panen dan penyimpanan hasil panen.
Padi hasil panen disimpan di lumbung padi di rumah adat dan baru boleh dikonsumsi setelah ada penggantinya dari panen berikutnya. Sebagian hasil panen juga diberikan kepada masyarakat kurang mampu sebagai wujud solidaritas sosial. Penggunaan pupuk organik dan metode bajak tradisional semakin menegaskan komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
Proses 'A'ngaru' dan doa oleh pemangku adat dan raja menjadi bagian penting dalam prosesi. Keterlibatan generasi muda dalam seluruh prosesi bertujuan untuk menanamkan nilai kebersamaan, demokrasi, dan pelestarian budaya.
Katto Bokko bukan sekadar tradisi panen, tetapi juga cerminan nilai-nilai luhur yang tetap relevan di era modern. Tradisi ini menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat dipadukan dengan perkembangan zaman untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian budaya.