Kemenag Atur Skema Belajar Siswa Madrasah Selama Ramadhan 2025
Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan skema pembelajaran khusus bagi siswa madrasah selama Ramadhan 2025, dengan mempertimbangkan ibadah puasa dan aktivitas keagamaan.

Kementerian Agama (Kemenag) baru-baru ini mengumumkan skema pembelajaran khusus bagi siswa madrasah selama bulan Ramadhan 1446 H/2025 M. Pengumuman ini menjawab pertanyaan banyak pihak mengenai bagaimana proses belajar mengajar akan berlangsung di tengah kesibukan menjalankan ibadah puasa. Skema ini dirancang untuk menyeimbangkan kebutuhan akademis siswa dengan pelaksanaan ibadah Ramadhan.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Kemenag, Nyayu Khodijah, menjelaskan bahwa waktu belajar efektif siswa madrasah selama Ramadhan hanya sekitar 18 hari. Hal ini mempertimbangkan adanya libur awal dan akhir Ramadhan, serta libur cuti bersama Idul Fitri. Keputusan ini diambil berdasarkan Surat Edaran Bersama (SEB) tiga menteri terkait pembelajaran di bulan Ramadhan.
SEB tersebut, yang ditandatangani oleh Mendikdasmen, Menag, dan Mendagri, mengatur penyesuaian jam belajar agar siswa memiliki waktu yang cukup untuk beribadah dan menjalankan aktivitas keagamaan lainnya. Kemenag berupaya memastikan siswa tetap dapat belajar dengan baik meskipun sedang menjalankan ibadah puasa.
Skema Pembelajaran Ramadhan 2025: Libur dan Aktivitas Keagamaan
Berdasarkan SEB Nomor 2 Tahun 2025 (Kemenag), Nomor 2 Tahun 2025 (Mendikbudristek), dan Nomor 400.1/320/BJ Tahun 2025 (Mendagri), total hari belajar siswa madrasah selama Ramadhan sekitar 21 hari kalender. Namun, dengan adanya libur awal puasa (7 hari), libur akhir puasa (6 hari), dan libur bersama Idul Fitri (7 hari), waktu belajar efektif berkurang menjadi sekitar 18 hari.
Selama periode libur, siswa didorong untuk melaksanakan pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah, atau masyarakat. Sekolah atau madrasah dapat memberikan tugas atau penugasan sesuai kurikulum. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi siswa untuk memperdalam pemahaman materi pelajaran sambil tetap menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk.
"Bila dihitung bersih, waktu belajar anak madrasah selama bulan Ramadhan hanya sekitar 18 hari saja," ujar Nyayu Khodijah. "Jadwal itu memungkinkan anak-anak kita tetap bisa belajar dengan baik walaupun mereka berpuasa." Penyesuaian ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi siswa dalam menjalankan ibadah puasa tanpa mengorbankan proses belajar.
Aktivitas Keagamaan dan Pembelajaran Mandiri
Selain penyesuaian jadwal belajar, SEB juga mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan. Siswa muslim dianjurkan untuk mengikuti tadarus Al-Quran, pesantren kilat, kajian keislaman, dan kegiatan keagamaan lainnya. Sementara siswa non-muslim dapat mengikuti kegiatan bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinannya.
Unit pendidikan dan pemerintah daerah juga diberikan keleluasaan untuk mengatur durasi jam belajar dan menambahkan materi pengayaan keagamaan. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam pemahaman agama dan nilai-nilai keagamaan selama bulan Ramadhan.
Kemenag telah mengirimkan surat kepada seluruh Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi untuk memastikan pelaksanaan skema pembelajaran ini berjalan dengan lancar. Surat bernomor B-41/Dt.I.I/PP.00/02/2025 ini meminta Kanwil untuk membantu memaksimalkan capaian pembelajaran di madrasah dan mengoptimalkan pembelajaran selama bulan Ramadhan.
Dengan adanya skema pembelajaran ini, diharapkan proses belajar mengajar di madrasah tetap berjalan efektif dan siswa dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan nyaman dan khusyuk. Kemenag berkomitmen untuk memastikan tercapainya target kurikulum dan keberhasilan pembelajaran siswa meskipun di tengah bulan Ramadhan.