Rupiah Melemah: The Fed dan Sentimen Global Jadi Biang Keladi
Pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh hasil pertemuan The Fed terkait suku bunga dan sentimen negatif global, di tengah isu resesi AS dan masalah domestik.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah signifikan hari ini, ditutup pada angka Rp16.531 per dolar AS. Pelemahan ini, menurut analis, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik global maupun domestik. Pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang menentukan arah kebijakan suku bunga menjadi sorotan utama, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan resesi ekonomi AS dan dampak kebijakan perdagangan yang agresif.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa pelemahan rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.480 - Rp16.540. Ia menjelaskan bahwa hasil pertemuan The Fed, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) di kisaran 4,25 - 4,50 persen, akan sangat mempengaruhi pergerakan rupiah. Namun, proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed menjadi perhatian utama, mengingat risiko resesi meningkat.
Sentimen pasar saat ini menunjukkan kekhawatiran akan dampak kebijakan tarif impor AS terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas, sekaligus menekan nilai rupiah. Selain itu, pernyataan The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga di semester kedua tahun ini juga menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Faktor Global: Bayang-Bayang Resesi AS
Rully Nova menambahkan bahwa pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh pelaku pasar yang menghindari aset berisiko, seperti rupiah, dan beralih ke aset aman seperti emas. Hal ini didorong oleh meningkatnya risiko resesi ekonomi AS sebagai dampak dari kebijakan tarif Presiden Trump. "Pelemahan rupiah lebih dikarenakan pelaku pasar menghindari aset-aset berisiko seperti rupiah dan menempatkan pada emas dikarenakan meningkatnya risiko resesi perekonomian AS, dampak dari kebijakan tarif Presiden Trump," ungkap Rully.
Data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan juga turut memperkuat dolar AS. Data pembangunan perumahan, izin perumahan, produksi industri, dan manufaktur AS menunjukkan angka yang lebih baik dari ekspektasi, menambah tekanan pada rupiah.
Kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi global yang melambat juga menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi pelemahan rupiah. Sentimen negatif global ini semakin memperburuk kondisi pasar dan menekan nilai tukar rupiah.
Faktor Domestik: Isu Politik dan Ekonomi
Di sisi domestik, isu pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan juga memberikan tekanan pada rupiah. Isu ini menimbulkan ketidakpastian di pasar dan membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang signifikan, bahkan sempat memicu pembekuan sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), menunjukkan melemahnya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan beberapa faktor penyebab penurunan IHSG, termasuk kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, penurunan peringkat saham, dan isu pengunduran diri Menteri Keuangan.
Kondisi ini menunjukkan adanya sentimen negatif dari dalam negeri yang turut memperparah pelemahan rupiah. Kombinasi faktor global dan domestik ini menciptakan tekanan berlapis pada nilai tukar rupiah.
Penutup: Ancaman dan Antisipasi
Pelemahan rupiah yang signifikan ini menjadi sinyal peringatan akan tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Baik faktor global berupa potensi resesi AS dan kebijakan proteksionis, maupun faktor domestik seperti isu politik dan ekonomi, harus diantisipasi dengan strategi yang tepat. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meningkatkan kepercayaan investor.