Stasiun Yogyakarta: Simpang Siur Transportasi Favorit Pemudik Lebaran 2025
Stasiun Yogyakarta menjadi simpul integrasi transportasi favorit selama Lebaran 2025, melayani puluhan ribu penumpang KA jarak jauh, KRL, dan KA Bandara, mengintegrasikan moda transportasi untuk memudahkan perjalanan.

Stasiun Yogyakarta menjadi pusat transportasi favorit selama periode mudik Lebaran 2025. Data PT Kereta Api Indonesia (KAI) menunjukkan lonjakan signifikan jumlah penumpang yang memanfaatkan stasiun ini, baik untuk perjalanan jarak jauh maupun lokal. Integrasi berbagai moda transportasi di Stasiun Yogyakarta menjadi kunci utama kemudahan akses bagi para pemudik dan wisatawan.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, mengungkapkan bahwa integrasi antarmoda transportasi yang lengkap di Stasiun Yogyakarta menjadikannya simpul yang sangat memudahkan perjalanan. Hal ini terbukti dari jumlah penumpang KA jarak jauh yang berangkat dan datang dari Stasiun Yogyakarta selama periode angkutan Lebaran 21 Maret hingga 1 April 2025, yang mencapai puluhan ribu orang. Lonjakan penumpang juga terlihat pada arus balik Lebaran.
Keunggulan Stasiun Yogyakarta terletak pada konektivitasnya dengan berbagai moda transportasi lain, seperti KRL Yogyakarta-Palur, KA Lokal Prambanan Ekspres, dan Kereta Api Bandara yang menghubungkan stasiun dengan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Ketersediaan angkutan online dan halte Trans Jogja di sekitar stasiun semakin melengkapi kemudahan akses bagi para penumpang.
Integrasi Moda Transportasi yang Komprehensif
Stasiun Yogyakarta tidak hanya melayani kereta api jarak jauh, tetapi juga kereta rel listrik (KRL) dan kereta lokal. KRL Yogyakarta-Palur menghubungkan Yogyakarta dengan kota-kota sekitarnya, sementara KA Lokal Prambanan Ekspres menawarkan pilihan perjalanan terjangkau ke Stasiun Kutoarjo. KAI Commuter mencatat jumlah pengguna di Stasiun Yogyakarta selama 15 hari terakhir periode Lebaran mencapai 228.695 orang, dengan rata-rata 15.246 pengguna setiap harinya. Angka ini meningkat signifikan selama periode libur Lebaran dan arus balik, mencapai rata-rata di atas 20 ribu orang per hari.
Keberadaan Kereta Api Bandara juga berperan penting dalam integrasi transportasi di Stasiun Yogyakarta. KAI Bandara, anak perusahaan KAI, mengelola layanan ini yang menghubungkan stasiun dengan Bandara YIA. Selama periode angkutan Lebaran, tercatat 128.488 penumpang menggunakan KA Bandara di Stasiun Yogyakarta, dengan rata-rata 8.566 penumpang setiap hari. Integrasi ini sangat membantu pemudik yang datang melalui jalur udara untuk melanjutkan perjalanan darat dengan mudah.
"KRL yang dioperasionalkan oleh KAI Commuter di Stasiun Yogyakarta tidak hanya menghubungkan Yogyakarta dengan kota-kota di sekitarnya, tetapi juga menyatukan dua kota budaya peninggalan Kerajaan Mataram, yaitu Yogyakarta dan Solo," jelas Anne Purba.
Strategi KAI dalam Meningkatkan Konektivitas
Dengan rata-rata 40.379 penumpang per hari selama 15 hari terakhir masa angkutan Lebaran 2025, Stasiun Yogyakarta membuktikan dirinya sebagai simpul transportasi yang vital. KAI terus berupaya meningkatkan konektivitas dan mobilitas di sekitar stasiun. Fasilitas seperti pick-up point untuk angkutan online dan kedekatan dengan halte Trans Jogja semakin mempermudah akses bagi para penumpang.
Lokasi Stasiun Yogyakarta yang strategis di pusat kota, dekat dengan ikon wisata Jalan Malioboro, juga menjadi daya tarik tersendiri. Keberadaan stasiun ini tidak hanya memudahkan transportasi, tetapi juga mendukung sektor pariwisata Yogyakarta. KAI mendorong para pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan konektivitas dan mobilitas, baik di dalam kota maupun menuju luar kota, guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah.
Data yang dirilis KAI menunjukkan bahwa Stasiun Yogyakarta berhasil menjadi simpul integrasi transportasi yang efisien dan efektif, melayani kebutuhan mobilitas masyarakat selama periode Lebaran 2025. Hal ini menunjukkan kesuksesan integrasi moda transportasi dalam meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan perjalanan.
Keberhasilan Stasiun Yogyakarta sebagai simpul transportasi favorit ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengembangan sistem transportasi terintegrasi di kota-kota lain di Indonesia.