Tarif Impor AS: Kanada Kecam Kebijakan Tetangga, Tegaskan Kedaulatan
Kanada mengecam keras kebijakan tarif impor AS terhadap produk Kanada, menyebutnya tidak masuk akal dan tidak adil, serta menegaskan kedaulatan negaranya menolak wacana menjadi bagian AS.

JAKARTA, 14 Februari 2024 - Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Ahmed Hussen, dengan tegas mengecam kebijakan Amerika Serikat yang memberlakukan tarif impor terhadap produk-produk Kanada. Dalam konferensi pers di Jakarta, Hussen menyatakan ketidaksetujuannya atas langkah tersebut, yang dianggapnya tidak beralasan mengingat hubungan baik dan kerja sama ekonomi kedua negara selama ini.
Hussen menekankan bahwa terlepas dari sektor migas, AS justru menikmati surplus dalam perdagangan bilateral dengan Kanada. "Kami percaya tarif ini sama sekali tidak dapat dibenarkan," tegasnya. Pernyataan ini disampaikan menyusul perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada awal Februari yang memberlakukan tarif 25 persen untuk impor dari Kanada dan Meksiko, serta 10 persen untuk impor dari China.
Mitra Dagang yang Terdampak
Hubungan dagang AS-Kanada selama ini telah terbukti saling menguntungkan, menciptakan lapangan kerja bagi jutaan warga di kedua negara. Oleh karena itu, menurut Hussen, tidak ada alasan yang dapat membenarkan pemberlakuan tarif impor ini. "Dari pesisir timur hingga barat Kanada, semua sepakat bahwa tarif ini tidak masuk akal," ujarnya.
Meskipun demikian, Kanada tidak tinggal diam. Hussen menegaskan bahwa negaranya memiliki hak untuk membalas dan siap mengambil tindakan jika AS tetap memberlakukan tarif tersebut. Saat ini, pemberlakuan tarif ditangguhkan selama 30 hari, dan Kanada berharap penangguhan ini diperpanjang dan tarif tersebut dicabut sepenuhnya.
"Kami memiliki hak untuk membalas, dan kami akan membalas dengan tegas terhadap semua bentuk tarif yang tidak adil dan tidak dapat dibenarkan terhadap produk-produk Kanada," ancam Hussen.
Wacana Negara Bagian ke-51: Absurd dan Konyol
Selain isu tarif, Hussen juga menanggapi wacana Presiden Trump yang ingin menjadikan Kanada sebagai "negara bagian ke-51" AS. Ia menganggap wacana tersebut sangat absurd dan tidak pantas dilontarkan oleh negara yang selama ini menjadi mitra dan sekutu Kanada.
"Terus terang, wacana itu tidak pantas datang dari negara tetangga yang bermitra baik dan bersekutu dengan kami," kata Hussen. Ia menegaskan bahwa Kanada adalah negara berdaulat dengan sejarah, identitas, dan cita-cita sendiri yang unik dan "tidak akan pernah menjadi bagian dari Amerika Serikat."
Pernyataan Hussen ini mencerminkan sentimen publik Kanada yang menolak keras kebijakan AS tersebut. Ke depan, perkembangan hubungan ekonomi dan politik antara Kanada dan AS akan terus menjadi sorotan dunia internasional, terutama bagaimana Kanada akan merespon jika penangguhan tarif tersebut dicabut.