Asupan Gizi Tepat, Kunci Optimalkan Penyembuhan TBC
Dokter spesialis gizi klinis ungkap pentingnya asupan nutrisi seimbang untuk mempercepat penyembuhan tuberkulosis (TBC) dan mengurangi efek samping pengobatan.

Jakarta, 25 Maret 2024 (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan (RSPP) menekankan pentingnya asupan gizi yang tepat dalam proses penyembuhan tuberkulosis (TBC). dr. Krisnugra Ramdhani Rasyi M. Gizi, dokter spesialis gizi klinis RSPP, menjelaskan bahwa nutrisi berperan krusial dalam meminimalisir dampak negatif pengobatan dan mempercepat pemulihan pasien TBC. Pernyataan ini disampaikan dalam webinar daring yang diikuti banyak peserta pada Selasa lalu.
Menurut dr. Krisnugra, pasien TBC seringkali mengalami efek samping pengobatan seperti mual dan penurunan nafsu makan. Kondisi ini menyebabkan asupan nutrisi menjadi tidak optimal, sehingga menghambat proses penyembuhan. Selain itu, infeksi TBC sendiri meningkatkan kebutuhan energi tubuh untuk memperbaiki jaringan yang rusak dan meningkatkan imunitas. Oleh karena itu, keseimbangan gizi menjadi faktor penentu keberhasilan pengobatan.
Lebih lanjut, dr. Krisnugra menyoroti perlunya asesmen gizi dan konsultasi gizi secara berkala. Penanganan gizi yang tepat sasaran sejak diagnosis ditegakkan akan memberikan hasil yang lebih baik. Ia juga menjelaskan bahwa rencana diet harus disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien, bukan pendekatan umum.
Kebutuhan Makronutrien untuk Pasien TBC
dr. Krisnugra memberikan panduan umum mengenai kebutuhan makronutrien bagi pasien TBC. Sebagai patokan, ia menyarankan asupan sekitar 35-40 kilokalori per kilogram berat badan. Komposisi idealnya mencakup 15-30 persen protein (1,2-1,5 gram per kilogram berat badan), 25-35 persen lemak, dan 45-65 persen karbohidrat. Asupan serat harian juga dianjurkan sekitar 25 gram.
Karbohidrat, sebagai sumber energi utama, sangat penting untuk mendukung sistem imun. Selain nasi, sumber karbohidrat lain seperti ubi, singkong, atau talas dapat menjadi alternatif. Sementara itu, protein dibutuhkan untuk membentuk asam amino esensial dan menjaga massa otot. Sumber protein hewani, seperti telur, direkomendasikan karena nilai biologisnya yang tinggi dan mudah diserap tubuh.
Lemak juga berperan penting dalam mengangkut vitamin dan mencegah peradangan. Lemak tidak jenuh, seperti omega-9, sangat dianjurkan. Selain makronutrien, pemenuhan vitamin dan mineral juga krusial. dr. Krisnugra menyebutkan bahwa pasien TBC seringkali mengalami defisiensi vitamin A, D, E, serta mineral seperti zat besi, seng, dan selenium. Namun, umumnya kadar vitamin dan mineral ini akan kembali normal setelah menjalani pengobatan intensif selama dua bulan pertama.
Tips Mengatasi Anoreksia pada Pasien TBC
Bagi pasien TBC yang mengalami anoreksia atau penurunan nafsu makan, dr. Krisnugra memberikan beberapa tips praktis. Pertama, berikan makanan favorit pasien dengan porsi kecil namun sering. Kedua, tingkatkan kepadatan kalori makanan dengan menggunakan susu tinggi kalori atau makanan yang dikentalkan. Ketiga, hindari makanan beraroma menyengat, makanan yang digoreng, dan makanan berlemak tinggi.
Makanan berkuah hangat dan makanan lunak lebih mudah dicerna dan mengurangi risiko mual atau muntah akibat efek samping obat. Pasien juga disarankan untuk tidak berbaring setelah makan minimal selama 20 menit. Terakhir, hindari aroma makanan yang dapat memicu mual, dan berikan motivasi kepada pasien untuk tetap mengonsumsi makanan bergizi.
Dengan memperhatikan asupan gizi yang tepat dan mengikuti anjuran dokter, proses penyembuhan TBC dapat dioptimalkan. Pemberian nutrisi yang seimbang akan memperkuat sistem imun dan membantu pasien pulih lebih cepat.