Kiat Jitu Tanggapi Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran, Kata Psikolog
Psikolog Nena Mawar Sari membagikan tips efektif menghadapi pertanyaan sensitif seperti kapan menikah atau punya anak saat Lebaran, agar suasana tetap harmonis.

Jakarta, 28 Maret 2024 (ANTARA) - Menjelang Lebaran, pertanyaan-pertanyaan sensitif seperti "kapan menikah?" atau "kapan punya anak?" kerap muncul dalam percakapan keluarga. Psikolog Klinis RSUD Wangaya Denpasar, Nena Mawar Sari, memberikan kiat jitu untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tanpa merusak suasana hati saat hari raya.
Menurut Nena, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya netral. Namun, bagi sebagian orang, pertanyaan ini bisa terasa tidak sopan dan mengganggu. Memahami netralitas pertanyaan ini penting agar suasana Lebaran tetap menyenangkan. "Perlu disadari bahwa pertanyaan-pertanyaan itu adalah netral sebenarnya. Meskipun memang bagi beberapa orang pertanyaan itu dianggap tidak sopan dan melewati batasan," jelas Nena saat dihubungi dari Jakarta.
Nena menambahkan bahwa konteks penanya juga perlu diperhatikan. Pertanyaan mengenai pernikahan dan anak sering muncul dari orang yang kurang dekat secara personal. "Sehingga basa-basinya kalau tidak seputar kapan nikah, kapan punya anak, biasanya komentarnya lebih ke kok gemukkan, kok kurusan, jadi lebih ke fisik," tambahnya. Sebaliknya, orang yang dekat secara emosional cenderung menanyakan kabar dan kondisi terkini.
Menangani Pertanyaan Sensitif dengan Bijak
Nena merekomendasikan beberapa strategi untuk menghadapi pertanyaan sensitif. Pertama, tersenyum dan menghindar. "Paling tidak orang tersebut juga tahu bahwa kita tidak nyaman dengan situasi tersebut," tegasnya. Strategi kedua adalah menanggapi dengan santai dan bercanda. Contohnya, untuk pertanyaan "kapan nikah?", bisa dijawab, "Ya besok, kalau tidak kesiangan!" Terakhir, untuk orang yang dianggap toksik, cukup tersenyum dan berlalu saja. "Jadi tidak mesti semuanya diberikan jawaban yang lengkap," imbuhnya.
Dalam konteks keluarga atau orang tua, Nena menyarankan pendekatan yang lebih personal. Ia menjelaskan pentingnya memahami tiga lapisan relasi: orang terdekat, orang dekat, dan Tuhan. Untuk orang terdekat, cukup tersenyum, berlalu, dan mengatakan, "Doakan saja." Untuk keluarga dekat atau orang tua, bisa disampaikan alasan singkat tanpa detail. Sedangkan untuk lapisan relasi dengan Tuhan, serahkan sepenuhnya melalui doa.
Nena menekankan pentingnya menjaga keharmonisan Lebaran. "Saya rasa hal ini (pertanyaan yang dianggap sensitif) jangan sampai menghambat kebahagiaan kita dalam menyambut Hari Raya Lebaran," pungkasnya. Ia juga mengingatkan bahwa setiap individu memiliki sensitivitas dan luka batin yang berbeda-beda, sehingga penting untuk memahami konteks dan penanya.
Sebagai makhluk sosial, bersilaturahmi dan bertegur sapa dengan keluarga dan kerabat saat Lebaran adalah hal yang wajar. Namun, penting untuk memiliki strategi yang tepat dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terasa sensitif bagi sebagian orang. Dengan memahami konteks dan menerapkan kiat-kiat di atas, diharapkan suasana Lebaran tetap harmonis dan penuh kebahagiaan.
- Senyum dan hindari pertanyaan
- Tanggapi dengan santai dan bercanda
- Berlalu saja jika penanya toksik
- Pahami tiga lapisan relasi: orang terdekat, orang dekat, dan Tuhan
Dengan menerapkan strategi ini, diharapkan momen Lebaran dapat dijalani dengan lebih nyaman dan penuh kebahagiaan, tanpa terbebani oleh pertanyaan-pertanyaan yang sensitif.