PBSI Berlakukan Sistem Degradasi Pebulu Tangkis Lebih Ketat, Atlet Bisa Terdepak Kapan Saja!
PP PBSI mengubah sistem pelatnas, atlet kini bisa terdepak kapan saja jika performanya tidak maksimal, guna percepat regenerasi dan tingkatkan daya saing internasional.

Jakarta, 27 Maret 2025 - Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) membuat gebrakan baru dalam sistem pembinaan atlet. Sistem promosi dan degradasi pelatnas kini jauh lebih ketat dan dinamis. Atlet berpotensi terdepak kapan saja jika tidak mampu menunjukkan performa maksimal, sebuah perubahan signifikan dari sistem evaluasi berkala sebelumnya. Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap performa atlet Indonesia, terutama kegagalan mempertahankan gelar di All England 2025.
Wakil Ketua Umum I PBSI, Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk memastikan hanya atlet terbaik yang mengisi Pelatnas. "Jadi sistemnya tidak seperti dulu yang menunggu setahun untuk promosi dan degradasi. Sekarang bisa kapan saja. Kalau sudah diberikan banyak kesempatan bertanding tapi tidak ada hasil, buat apa dipertahankan? Lebih baik beri kesempatan kepada yang lebih potensial," tegas Taufik dalam konferensi pers di Jakarta.
Sistem sebelumnya yang mengevaluasi atlet setiap enam bulan hingga satu tahun dinilai kurang efektif dalam mendorong regenerasi dan meningkatkan daya saing internasional. Sistem baru ini diharapkan dapat mempercepat proses tersebut, memberikan kesempatan lebih besar bagi atlet muda berbakat untuk berkembang dan berkompetisi di level internasional.
Sistem Seleksi Pelatnas yang Lebih Ketat
Dengan sistem baru ini, evaluasi atlet akan lebih sering dilakukan dan berfokus pada hasil turnamen BWF dan multi-event. Masukan dari tim pelatih dan data performa atlet tetap menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan promosi dan degradasi. "Keputusan ini dibuat dengan pertimbangan matang dari pelatih teknik, fisik, dan semua data capaian atlet. Dengan sistem yang lebih fleksibel, regenerasi bisa berjalan lebih cepat," ujar Taufik menambahkan.
PBSI berharap kebijakan ini akan meningkatkan daya saing atlet Indonesia di kancah internasional. Pelatnas diharapkan akan diisi oleh pemain-pemain yang benar-benar layak dan memiliki potensi untuk meraih prestasi gemilang. Sistem ini juga diharapkan mampu melahirkan generasi penerus yang lebih kompetitif dan mampu mengharumkan nama Indonesia di dunia bulu tangkis.
Penerapan sistem ini juga sebagai respon atas hasil kurang maksimal atlet Indonesia di berbagai turnamen internasional sepanjang musim 2025. Kegagalan mempertahankan gelar di All England 2025 menjadi sorotan utama. Dari 11 wakil Indonesia yang bertanding, tidak satu pun yang mampu menjadi juara.
Kegagalan di All England 2025: Sebuah Alarm
Kegagalan di All England 2025 bukan hanya sekadar kekalahan biasa, tetapi menjadi alarm bagi pembinaan bulu tangkis nasional. Prestasi mengecewakan ini, khususnya di sektor ganda putra yang selama ini menjadi andalan, menunjukan adanya kelemahan dalam sistem pembinaan yang perlu segera diperbaiki.
Meskipun pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana berhasil mencapai final, mereka harus mengakui keunggulan pasangan Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae. Lebih mengejutkan lagi, juara bertahan tahun sebelumnya, Jonatan Christie (tunggal putra) dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (ganda putra), tersingkir di babak kedua. Hal ini terjadi meskipun PBSI mengklaim persiapan menghadapi All England 2025 sudah cukup matang.
Indonesia telah lama menjadi kekuatan utama di All England dengan total 52 gelar juara. Tradisi juara ini, terutama di sektor ganda sejak 2016 (kecuali 2021 karena pandemi COVID-19), kini terhenti. Situasi ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pembinaan yang perlu segera dibenahi.
Dengan perubahan sistem pelatnas yang lebih ketat ini, PBSI berharap dapat mengatasi permasalahan tersebut dan kembali melahirkan atlet-atlet bulu tangkis Indonesia yang berprestasi di kancah internasional.
Sistem yang lebih ketat ini diharapkan mampu menyaring atlet-atlet yang benar-benar berdedikasi dan memiliki potensi untuk meraih prestasi di level internasional. Hal ini juga akan mendorong atlet untuk terus meningkatkan performa dan berkompetisi secara maksimal.
Harapan PBSI untuk Masa Depan Bulu Tangkis Indonesia
PBSI optimistis bahwa perubahan sistem ini akan membawa dampak positif bagi perkembangan bulu tangkis Indonesia. Dengan adanya persaingan yang lebih ketat di Pelatnas, diharapkan akan muncul atlet-atlet muda berbakat yang mampu meneruskan tradisi juara Indonesia di kancah internasional. Sistem ini juga diharapkan mampu menciptakan regenerasi atlet yang lebih cepat dan efektif.