Diponegoro: Pemersatu Budaya Arab-Jawa dan Simbol Perlawanan Kolonial dalam Babad Ngayogyakarta
Penelitian terbaru mengungkapkan peran Diponegoro sebagai pemersatu budaya Arab dan Jawa serta pemimpin perlawanan anti-kolonial, sebagaimana tercatat dalam Babad Ngayogyakarta.
Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Pada Selasa, Arsanti Wulandari, dosen di UGM, mengungkapkan temuannya tentang peran Pangeran Diponegoro dalam Babad Ngayogyakarta. Dalam siaran Widya Bahana Swara Perpustakaan Nasional, Arsanti menjelaskan bagaimana Diponegoro berperan sebagai pemersatu budaya Arab dan Jawa, sekaligus pemimpin perlawanan melawan kolonialisme Belanda. Penelitian ini didasarkan pada analisis Babad Ngayogyakarta, naskah sejarah penting yang mencatat peristiwa di Yogyakarta. Penelitian ini penting karena memberikan pemahaman baru tentang peran kompleks Diponegoro dalam sejarah Indonesia.
Arsanti memaparkan bahwa Diponegoro memainkan peran penting dalam membentuk pendidikan Hamengkubuwono IV. Ia mewajibkan sang raja muda untuk mempelajari huruf Jawa dan Arab, serta sastra dari kedua budaya tersebut. Hal ini menunjukkan usaha Diponegoro untuk menyatukan dan menghargai kedua budaya tersebut sebagai bagian penting dari identitas Jawa.
Lebih jauh, penelitian ini mengungkap bagaimana Babad Ngayogyakarta menggambarkan Diponegoro tidak hanya sebagai seorang pemimpin militer, tetapi juga sebagai seorang tokoh agama yang berpengaruh. Ia mendorong Hamengkubuwono IV untuk mendalami agama Islam, menekankan pentingnya keseimbangan antara agama dan budaya dalam kepemimpinan.
Diponegoro: Mendidik Raja dan Menyatukan Budaya
Menurut Arsanti, instruksi Diponegoro kepada Hamengkubuwono IV untuk mempelajari bahasa dan sastra Jawa dan Arab mencerminkan visi beliau untuk menciptakan pemimpin yang memahami dan menghargai kedua budaya tersebut. Meskipun Hamengkubuwono IV juga mempelajari bahasa Melayu, Inggris, dan Belanda, pembelajaran bahasa dan sastra Jawa dan Arab menjadi prioritas utama. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Diponegoro dalam melestarikan dan menyatukan budaya Jawa dan Arab.
Diponegoro menyadari pentingnya penguasaan agama dan budaya bagi seorang pemimpin. Dengan mempelajari agama Islam, Hamengkubuwono IV diharapkan mampu mempersatukan rakyatnya dan memimpin dengan bijaksana. Hal ini menunjukkan bahwa Diponegoro memiliki pandangan yang komprehensif tentang kepemimpinan, yang tidak hanya berfokus pada aspek politik dan militer, tetapi juga pada aspek keagamaan dan budaya.
Babad Ngayogyakarta juga mencatat bagaimana Diponegoro mengajarkan pentingnya keseimbangan antara agama dan budaya. Ia tidak hanya menekankan pentingnya mempelajari agama Islam, tetapi juga sastra dan budaya Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa Diponegoro memiliki pandangan yang inklusif dan menghargai keragaman budaya.
Diponegoro: Kraman dan Perlawanan Terhadap Kolonialisme
Babad Ngayogyakarta juga menggambarkan Diponegoro sebagai seorang kraman atau pemberontak. Label ini disematkan karena perlawanannya terhadap kebijakan kolonial Belanda yang dianggapnya tidak adil dan merugikan rakyat. Namun, pengertian kraman dalam konteks ini lebih luas dari sekadar pemberontakan. Ia mencakup nilai-nilai religius dan humanitas, seperti bela negara dan pembelaan terhadap rakyat.
Strategi gerilya yang diadopsi Diponegoro dalam melawan Belanda juga dijelaskan dalam Babad Ngayogyakarta. Dengan berpindah-pindah lokasi, Diponegoro mempersulit upaya Belanda untuk menangkapnya. Strategi ini mencerminkan kecerdasan dan kejelian Diponegoro dalam memimpin perlawanan.
Lebih lanjut, Arsanti menjelaskan bahwa ketidaksetujuan Diponegoro dengan pihak istana, khususnya dalam hal pengambilan keputusan yang tidak melibatkan dirinya, menjadi salah satu pemicu Perang Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa Diponegoro bukan hanya melawan kolonialisme, tetapi juga melawan ketidakadilan di dalam negeri.
Jihad dan Perlawanan Melawan Kafir
Babad Ngayogyakarta juga mencatat bagaimana Diponegoro mengajak rakyat untuk berperang melawan Belanda yang dianggap sebagai ‘kafir’ dalam konteks fi sabilillah. Hal ini menunjukkan bahwa perlawanan Diponegoro dilandasi oleh keyakinan keagamaan yang kuat. Perjuangannya bukan hanya sekadar perlawanan politik, tetapi juga merupakan bentuk jihad untuk menegakkan agama Islam.
Penelitian Arsanti memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang sosok Diponegoro, yang tidak hanya dikenal sebagai pahlawan nasional, tetapi juga sebagai seorang tokoh yang berperan penting dalam menjaga dan menyatukan budaya Arab dan Jawa. Perjuangannya melawan kolonialisme juga dibingkai dalam konteks keagamaan, menunjukkan betapa kuatnya keyakinan dan idealismenya.
Kesimpulannya, Babad Ngayogyakarta memberikan gambaran yang kaya dan kompleks tentang kehidupan dan perjuangan Diponegoro. Ia bukan hanya seorang pemimpin militer yang ulung, tetapi juga seorang tokoh agama dan budaya yang berpengaruh. Perannya dalam mempersatukan budaya Arab dan Jawa, serta memimpin perlawanan melawan kolonialisme, menjadikannya sebagai sosok yang sangat penting dalam sejarah Indonesia.