Ekonom Sarankan Perkuat Perdagangan BRICS di Tengah Tarif Impor AS
Ekonom Hans Kwee menyarankan Indonesia memperkuat kerja sama perdagangan dengan negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif atas dampak negatif tarif impor AS.
Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru pada Rabu, 02 April 2024, yang berdampak negatif pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Ekonom Hans Kwee, seorang praktisi pasar modal, menyarankan Indonesia untuk memperkuat perdagangan dengan negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sebagai strategi untuk mengurangi dampak negatif tersebut. Hal ini disampaikan Hans Kwee melalui wawancara dengan Antara di Jakarta pada Kamis, 03 April 2024. Kebijakan tarif impor AS ini diterapkan karena berbagai alasan yang kompleks, dan Indonesia perlu mencari alternatif sumber pendapatan baru untuk menghadapi potensi penurunan ekspor.
Kebijakan tarif impor AS yang tinggi berpotensi menurunkan neraca ekspor Indonesia dan mengurangi surplus perdagangan. Hans Kwee memperingatkan bahwa dampaknya akan terasa signifikan pada perekonomian dan pasar keuangan Indonesia. Oleh karena itu, strategi diversifikasi perdagangan menjadi penting untuk meminimalisir risiko tersebut.
Penguatan perdagangan dengan negara-negara BRICS dinilai sebagai langkah strategis karena negara-negara tersebut memiliki potensi pasar yang besar dan beragam. Kerja sama ekonomi yang lebih erat dengan anggota BRICS dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan mencari alternatif pasar ekspor yang lebih stabil dan terdiversifikasi.
Dampak Tarif Impor AS terhadap Indonesia
Hans Kwee memproyeksikan beberapa dampak negatif dari kebijakan tarif impor AS terhadap Indonesia. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan melemah, seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global. Selain itu, pasar saham Indonesia, khususnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), berpotensi terkoreksi mengikuti pelemahan bursa saham global.
Potensi penurunan ekspor Indonesia menjadi salah satu kekhawatiran utama. Tarif impor AS yang tinggi akan membuat produk-produk Indonesia kurang kompetitif di pasar AS, sehingga berdampak pada penurunan volume ekspor dan pendapatan negara. Hal ini dapat mengancam surplus neraca perdagangan Indonesia yang selama ini menjadi penopang perekonomian.
Pelemahan nilai tukar rupiah juga akan meningkatkan harga barang impor, sehingga berpotensi meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Kondisi ini dapat memperburuk situasi ekonomi dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk pasar saham, koreksi IHSG merupakan dampak dari sentimen negatif global yang dipicu oleh kebijakan tarif impor AS. Investor cenderung mengurangi investasi di pasar saham yang dianggap berisiko tinggi, sehingga menyebabkan penurunan harga saham.
Strategi Penguatan Perdagangan BRICS
Sebagai solusi, Hans Kwee menekankan pentingnya memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara BRICS. Negara-negara BRICS memiliki ekonomi yang besar dan dinamis, sehingga menawarkan potensi pasar ekspor yang signifikan bagi Indonesia.
Penguatan kerja sama ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti peningkatan akses pasar, pengurangan hambatan perdagangan, dan peningkatan investasi di sektor-sektor strategis. Kerja sama ini juga dapat mencakup peningkatan infrastruktur perdagangan dan logistik untuk memperlancar arus barang dan jasa.
Dengan memperkuat perdagangan dengan negara-negara BRICS, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan diversifikasi pasar ekspor. Hal ini akan meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap guncangan eksternal, seperti kebijakan proteksionis AS.
Selain itu, kerja sama dengan BRICS juga dapat membuka peluang untuk akses teknologi dan inovasi yang dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Kesimpulan
Kebijakan tarif impor AS menimbulkan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Namun, dengan strategi yang tepat, seperti memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara BRICS, Indonesia dapat mengurangi dampak negatif dan menciptakan peluang baru untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan daya saing produk menjadi kunci untuk menghadapi tantangan global ini.