Ada Dua Peraih Nobel di KSTI 2025, Pemerintah Dorong Pengembangan Sains dan Teknologi Nasional
Pemerintah serius genjot pengembangan sains dan teknologi nasional melalui Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025. Apa saja yang dibahas?

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dikti) berupaya keras mengakselerasi pengembangan riset, sains, dan teknologi di Indonesia. Upaya ini diwujudkan melalui Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 yang akan berlangsung di Bandung, Jawa Barat. Acara ini diharapkan menjadi katalis penting bagi kemajuan iptek nasional.
Menteri Dikti, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa pemerintah ingin hasil riset dan pengembangan keilmuan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan semata. Namun, hasil-hasil tersebut harus mampu memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Hal ini juga bertujuan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di sektor industri.
KSTI 2025 dijadwalkan pada 7-9 Agustus 2025, mempertemukan lebih dari 350 pimpinan universitas dan seribu peneliti terbaik dari seluruh Indonesia. Komitmen pemerintah dalam memastikan riset nasional dapat memecahkan masalah industri menjadi fokus utama konvensi ini.
KSTI 2025: Dorong Integrasi Riset dan Industri
KSTI 2025 menjadi wadah strategis bagi para ilmuwan dan pemangku kepentingan untuk berkolaborasi. Menteri Brian Yuliarto menjelaskan, konvensi ini dihadiri oleh 1.066 peneliti STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) terkemuka. Selain itu, 401 rektor dan wakil rektor dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta turut serta.
Kehadiran 351 dosen STEM, 26 anggota diaspora, mahasiswa doktoral, profesor, dan senat akademik menunjukkan cakupan luas KSTI 2025. Acara ini juga akan menghasilkan peta jalan inovasi riset dan teknologi di Indonesia. Lebih dari 400 produk riset yang terhubung dengan sektor industri akan dipamerkan.
Melalui inisiatif ini, diharapkan produk riset domestik dapat ditingkatkan kualitasnya. Pada akhirnya, hal ini berpotensi memicu munculnya industri-industri baru berbasis sains dan teknologi. KSTI 2025 menjadi momentum krusial untuk transformasi ekosistem riset nasional.
Inspirasi dari Peraih Nobel dan Sektor Prioritas
Momen istimewa dalam KSTI 2025 adalah kehadiran dua peraih Nobel. Menteri Yuliarto mengungkapkan bahwa kehadiran mereka menjadi kehormatan besar bagi Indonesia. Tujuannya adalah untuk menarik inspirasi dari bagaimana riset kelas dunia dilakukan.
Kehadiran para peraih Nobel diharapkan dapat mendorong peneliti dan ilmuwan Indonesia untuk memiliki mimpi besar. Mereka juga diharapkan terinspirasi untuk mencapai standar penelitian global. Ini adalah kesempatan langka untuk belajar langsung dari para pakar terkemuka dunia.
KSTI 2025 secara khusus berfokus pada integrasi riset, pendidikan tinggi, dan industri di delapan sektor prioritas. Sektor-sektor ini meliputi pangan, energi, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi dan industrialisasi, digitalisasi (termasuk AI dan semikonduktor), serta material maju dan manufaktur. Fokus ini menunjukkan arah jelas pengembangan iptek nasional.