Airlangga Hartarto: Pelemahan Rupiah Tak Tekan Industri Importir
Menko Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak signifikan menekan industri dengan kebutuhan impor tinggi karena strategi kontrak jangka panjang yang diterapkan banyak perusahaan.

Jakarta, 26 Maret 2024 - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini memberikan pernyataan yang menepis anggapan bahwa industri-industri di Indonesia yang bergantung pada impor tengah tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pernyataan ini disampaikan seusai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Airlangga menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan yang membutuhkan banyak bahan baku impor memiliki strategi khusus untuk menghadapi fluktuasi mata uang. Ia menekankan bahwa kontrak jangka panjang menjadi kunci dalam meminimalisir dampak negatif pelemahan rupiah terhadap biaya produksi. Hal ini disampaikannya saat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai dampak pelemahan rupiah terhadap industri di Indonesia. "Enggak, kebutuhan impor yang tinggi tentu mereka kan bisa melihat timing, dan biasanya kontrak, belum tentu support," ujar Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga menambahkan bahwa banyak perusahaan mengandalkan kontrak jangka panjang untuk pengadaan bahan baku. Dengan demikian, pelemahan rupiah tidak serta-merta berdampak signifikan dan langsung pada biaya produksi mereka. "Biasanya kan pengadaan bahan bakunya berbasis kontrak juga," katanya.
Industri Tunjukkan Daya Tahan Hadapi Dinamika Ekonomi
Airlangga menegaskan bahwa sektor industri di Indonesia menunjukkan daya tahan atau resiliensi yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah. Pemerintah, menurutnya, terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi agar iklim usaha tetap kondusif dan berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung perkembangan industri nasional.
Pemerintah juga menyadari pentingnya menjaga stabilitas ekonomi makro untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan menjaga stabilitas tersebut, diharapkan industri dapat tetap beroperasi secara optimal dan berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional.
Pemerintah juga akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitasnya.
Faktor Eksternal Pengaruhi Nilai Tukar Rupiah
Menyinggung penyebab melemahnya rupiah, Airlangga menyebutkan bahwa faktor eksternal masih memainkan peran penting dalam pergerakan nilai tukar mata uang. "Ya kan kita sudah melihat, tentu masih ada beberapa faktor sentimental luar," katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah menyadari adanya pengaruh faktor global terhadap perekonomian domestik.
Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi dampak negatif dari faktor eksternal tersebut melalui berbagai kebijakan ekonomi yang tepat. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi industri dalam negeri dari gejolak global.
Meskipun demikian, pemerintah optimistis bahwa langkah-langkah yang telah dan akan diambil akan mampu meminimalisir dampak negatif tersebut.
Optimisme Terhadap Pemulihan Pasar Keuangan
Terlepas dari pelemahan rupiah yang sempat terjadi, Airlangga tetap optimistis terhadap pemulihan pasar keuangan. Optimisme ini didasari oleh berbagai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Optimisme ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha.
Optimisme ini juga menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Dengan fundamental yang kuat, diharapkan perekonomian Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan dan terus tumbuh secara berkelanjutan.
Sebagai informasi tambahan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu pagi menguat sebesar 8 poin atau 0,05 persen, berada di level Rp16.604 per dolar AS setelah sebelumnya sempat melemah ke Rp16.612 per dolar AS.
Kesimpulannya, meskipun terjadi pelemahan rupiah, industri-industri di Indonesia yang berorientasi impor menunjukkan ketahanan yang baik berkat strategi manajemen risiko yang diterapkan. Pemerintah pun terus berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi makro untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.