Bank Mega Sepakati Dividen Rp1,05 Triliun, Simak Rincian Kinerja dan Rencana Bisnis 2025
RUPST Bank Mega menyetujui dividen Rp1,05 triliun dari laba bersih Rp2,63 triliun di tahun 2024, serta mengumumkan rencana bisnis dan perubahan susunan direksi.

PT Bank Mega Tbk membagikan dividen senilai Rp1,05 triliun kepada pemegang sahamnya. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar baru-baru ini. RUPST tersebut juga membahas kinerja keuangan Bank Mega sepanjang tahun buku 2024 dan rencana bisnis untuk tahun 2025 mendatang. Pembagian dividen ini merupakan sekitar 40 persen dari total laba bersih yang diraih.
RUPST yang dipimpin oleh Komisaris Independen Bank Mega, Achjadi Ranuwisastra, menyetujui alokasi laba bersih sebesar Rp1,58 triliun untuk saldo laba. Sisa laba akan dialokasikan sebagai dana cadangan, sesuai dengan ketentuan Pasal 70 Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas (UUPT). Corporate Secretary Bank Mega, Christiana M Damanik, menyampaikan keterangan resmi terkait hasil RUPST ini.
Selain pembagian dividen, RUPST juga membahas perubahan susunan direksi. Lay Diza Larentie mengundurkan diri sebagai Wakil Direktur Utama, dan C Guntur Triyudianto sebagai Direktur. Posisi Direktur kemudian diisi oleh Heriawan Gazali, setelah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kinerja Bank Mega Tahun Buku 2024
Bank Mega berhasil membukukan laba bersih (PAT) sebesar Rp2,63 triliun pada tahun buku 2024. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan tahun 2023 (Rp3,51 triliun), kinerja ini tetap menunjukkan performa yang solid. Total aset Bank Mega mencapai Rp134,92 triliun, tumbuh 2,17 persen secara tahunan (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp91,67 triliun, dengan peningkatan rasio CASA menjadi 30,08 persen.
Pertumbuhan DPK didorong oleh peningkatan giro dan tabungan masing-masing sebesar 2,54 persen dan 9,74 persen, menjadi Rp10,38 triliun dan Rp17,19 triliun. Total kredit mencapai Rp64,65 triliun, dengan fokus pada segmen korporasi dan joint financing. Rasio kredit bermasalah (NPL gross) terjaga dengan baik di angka 1,69 persen, di bawah rata-rata perbankan (2,08 persen).
Dari sisi rasio keuangan, Bank Mega mencatatkan CAR sebesar 25,77 persen, LDR 70,34 persen, ROA 2,56 persen, ROE 13,62 persen, NIM 4,64 persen, dan BOPO 73,61 persen. Rasio-rasio ini menunjukkan kondisi permodalan dan likuiditas yang sehat dan terkendali.
Rencana Bisnis Bank Mega Tahun 2025
Bank Mega telah menetapkan rencana bisnis untuk tahun buku 2025, menargetkan laba bersih Rp2,8 triliun, total kredit Rp75 triliun, DPK Rp99 triliun, dan total aset Rp142 triliun. Strategi yang akan dijalankan meliputi transformasi kantor cabang dengan fokus pada customer ecosystem, penurunan cost of fund, peningkatan volume kredit dan perbaikan kualitas kredit, pengembangan transaction banking, serta efisiensi biaya.
Beberapa poin penting dalam rencana bisnis tersebut antara lain:
- Transformasi kantor cabang dengan fokus pada customer ecosystem
- Penurunan cost of fund melalui peningkatan DPK murah
- Peningkatan volume kredit dan perbaikan kualitas kredit
- Pengembangan transaction banking
- Efisiensi biaya
Dengan strategi yang komprehensif ini, Bank Mega optimis dapat mencapai target yang telah ditetapkan dan melanjutkan pertumbuhan bisnisnya di tahun 2025.
Secara keseluruhan, RUPST Bank Mega memberikan gambaran positif tentang kinerja perusahaan dan rencana ke depan. Pembagian dividen yang signifikan serta rencana bisnis yang ambisius menunjukkan komitmen Bank Mega untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan terus berkontribusi pada perekonomian Indonesia.