Bansos Kemensos: Oase bagi Keluarga Prasejahtera di Makassar
Bantuan sosial Kemensos menjadi penyelamat bagi keluarga prasejahtera di Makassar, membantu memenuhi kebutuhan pokok dan pendidikan anak di tengah kenaikan harga menjelang Lebaran.

Makassar, 29 Maret 2024 (ANTARA) - Bantuan sosial (bansos) dari Kementerian Sosial (Kemensos) menjadi sumber penyelamat bagi keluarga penerima manfaat (KPM) di Kota Makassar, terutama saat harga kebutuhan pokok meroket menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Hal ini dirasakan langsung oleh banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sania (42), warga Jalan Tinumbu Lorong 2, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, misalnya. Dengan penghasilan suami sebagai buruh serabutan, memenuhi kebutuhan empat anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP, ditambah seorang balita berusia 1,8 tahun, menjadi tantangan besar. Keadaan ekonomi keluarga ini semakin berat karena kebutuhan gizi anak-anak, termasuk pencegahan stunting pada balita, harus tetap terpenuhi.
"Bansos ini melalui PKH, bantuan pangan non-tunai (BPNT) dan Program Indonesia Pintar (PIP) sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan sekolah anak," ujar Sania, yang tinggal di sebuah rumah panggung sederhana. Ia mengaku sangat terbantu dengan bansos Kemensos yang diterima sejak awal pandemi COVID-19 tahun 2020 hingga saat ini.
Kesulitan Ekonomi dan Peran Bansos
Berbagai tantangan ekonomi dihadapi KPM di Makassar. Sania bukanlah satu-satunya yang merasakan manfaat besar dari bansos Kemensos. Roslina, seorang warga perantau dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, yang suaminya bekerja sebagai buruh bangunan, juga merasakan hal serupa. Ia mengaku sangat terbantu oleh BPNT untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, dua anaknya dapat melanjutkan pendidikan berkat bantuan PIP dari Kemensos. Roslina juga memuji kemudahan pencairan bansos melalui sistem digitalisasi dan kartu debit. Ia lebih memilih mencairkan bantuan melalui BRI Link di warung sekitar rumah, meskipun dikenakan biaya administrasi Rp5.000 hingga Rp10.000, daripada mengantre panjang di kantor pos.
Kemudahan akses pencairan bansos menjadi poin penting bagi KPM seperti Roslina dan Sania. Sistem digitalisasi ini terbukti efektif dan efisien, memberikan fleksibilitas bagi penerima bantuan untuk mengakses dana bantuan sesuai kebutuhan.
Tantangan Pendampingan KPM
Pendamping KPM, Hilda Jufri, mengungkapkan tantangan terbesar dalam mendampingi KPM adalah menyamakan persepsi dan pemahaman masyarakat terkait program bansos Kemensos. Berbagai latar belakang pendidikan dan sosial ekonomi KPM menuntut pendekatan yang berbeda-beda.
Hilda menjelaskan, seringkali dibutuhkan penjelasan berulang kali untuk satu isu program, misalnya program pencegahan stunting dan literasi keuangan. Hal ini menunjukkan pentingnya strategi komunikasi yang efektif dan tepat sasaran dalam mensosialisasikan program bansos Kemensos.
Perbedaan latar belakang sosial ekonomi KPM menuntut pendamping untuk lebih adaptif dan responsif dalam memberikan edukasi dan informasi yang dibutuhkan. Pemahaman yang menyeluruh tentang program bansos sangat penting agar bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kesimpulan
Bansos Kemensos terbukti menjadi "oase" bagi KPM di Makassar, membantu meringankan beban ekonomi dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga, khususnya di tengah kenaikan harga menjelang Lebaran. Namun, tantangan dalam pendampingan dan sosialisasi program tetap perlu diperhatikan untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan dipahami dengan baik oleh seluruh KPM.