Hilirisasi Baja: Dorong Nilai Tambah Ekonomi dan Ekspor Indonesia
Kebijakan hilirisasi baja di Indonesia terbukti berhasil meningkatkan nilai tambah, mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 5,9 persen, dan mencetak surplus neraca perdagangan hingga 14,33 miliar dolar AS pada 2024.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa kebijakan hilirisasi baja telah memberikan dampak positif signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan, Andri Gilang Nugraha Ansari, menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah industri baja, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, baik di sektor riil maupun ekspor. Hal ini terlihat dari peningkatan ekspor baja dan surplus neraca perdagangan yang signifikan pada tahun 2024.
Dampak positif hilirisasi baja di sektor riil meliputi peningkatan nilai tambah industri melalui produk jadi dengan nilai jual lebih tinggi, dukungan terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan pemerataan pembangunan. Selain itu, hilirisasi juga mendorong pertumbuhan industri pengguna baja seperti otomotif, alat berat, dan konstruksi. Lebih lanjut, kebijakan ini juga berdampak pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di sektor terkait.
Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan bahwa kebijakan hilirisasi baja berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 5,7 persen sampai 5,9 persen. Hal ini didorong oleh kebutuhan baja tahunan di Indonesia yang mencapai 20-30 juta ton. Pertumbuhan ini menunjukkan kontribusi signifikan hilirisasi baja terhadap perekonomian nasional.
Peningkatan Ekspor dan Surplus Neraca Perdagangan
Hilirisasi baja memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan ekspor dan surplus neraca perdagangan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor baja Indonesia (HS 72 dan HS 73) pada tahun 2024 mencapai 29,23 miliar dolar AS dengan volume 22 juta ton. Angka ini menunjukkan peningkatan 2,88 persen dalam nilai ekspor dan 19,97 persen dalam volume ekspor dibandingkan tahun 2023.
Kontribusi ekspor baja terhadap total ekspor Indonesia pada tahun 2024 mencapai 11,04 persen, menunjukkan perannya yang penting dalam perekonomian nasional. Sementara itu, nilai impor baja tercatat sebesar 14,90 miliar dolar AS dengan volume 16,28 juta ton, mengalami penurunan 5,30 persen dibandingkan tahun 2023. Akibatnya, neraca perdagangan baja Indonesia mencatat surplus yang signifikan, yaitu sebesar 14,33 miliar dolar AS.
Produk canai lantaian dari baja stainless dengan lebar 600 mm atau lebih dan ketebalan 3 mm - 4,75 mm (HS 721913) menjadi jenis produk baja dengan nilai ekspor tertinggi pada tahun 2024, mencapai 2,11 miliar dolar AS atau naik 21,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Vietnam, Taiwan, Tiongkok, India, dan Turki menjadi negara tujuan ekspor terbesar untuk produk ini.
Strategi Kemendag Mendukung Ekspor Baja
Komoditas baja lain yang juga menunjukkan kinerja ekspor yang baik adalah produk setengah jadi dari baja stainless dengan penampang silang empat persegi panjang (nilai ekspor 1,54 miliar dolar AS), serta produk canai lantaian dari baja stainless dengan lebar 600 mm atau lebih dan ketebalan 4,75 mm - 10 mm (nilai ekspor 1,14 miliar dolar AS).
Kementerian Perdagangan (Kemendag) berkomitmen untuk terus mendorong peningkatan ekspor baja melalui berbagai strategi. Strategi tersebut meliputi promosi dan perluasan pasar ekspor, serta pengamanan pasar dalam dan luar negeri. Pengamanan pasar ini mencakup penanganan hambatan perdagangan (trade barrier) untuk melindungi ekspor baja dari praktik diskriminasi di negara tujuan ekspor dan pengenaan trade remedies jika ditemukan produk baja impor yang merugikan industri baja dalam negeri. Dengan demikian, keberlanjutan dan pertumbuhan industri baja Indonesia akan terus terjaga.
Secara keseluruhan, kebijakan hilirisasi baja telah terbukti efektif dalam meningkatkan nilai tambah, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menghasilkan surplus neraca perdagangan bagi Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya kebijakan hilirisasi dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat global.