Hilirisasi Baja Dorong Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai US$ 14,33 Miliar
Hilirisasi baja berkontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2024, mencapai US$ 14,33 miliar dengan peningkatan ekspor hingga 2,88 persen.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengumumkan bahwa hilirisasi baja memberikan kontribusi positif terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2024. Ekspor baja Indonesia meningkat pesat, mencapai angka fantastis US$ 29,23 miliar dengan volume 22 juta ton. Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kemendag, Andri Gilang Nugraha Ansari, memaparkan hal ini dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa lalu. Kenaikan ini menunjukkan dampak signifikan dari kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah.
Peningkatan nilai ekspor baja sebesar 2,88 persen dibandingkan tahun 2023, diiringi dengan peningkatan volume ekspor yang lebih signifikan, yaitu 19,97 persen. Kontribusi sektor baja terhadap total ekspor nasional pun cukup besar, mencapai 11,04 persen. Hal ini menunjukkan peran penting industri baja dalam perekonomian Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diungkap Kemendag menunjukkan bahwa keberhasilan hilirisasi baja tidak hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga menekan impor. Impor baja pada tahun 2024 tercatat sebesar US$ 14,90 miliar dengan volume 16,28 juta ton, mengalami penurunan 5,30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menghasilkan surplus neraca perdagangan baja yang signifikan, yaitu sebesar US$ 14,33 miliar.
Produk Baja Unggulan dan Pasar Ekspor
Beberapa produk baja tertentu menjadi primadona ekspor Indonesia pada tahun 2024. Produk canai lantaian dari baja stainless dengan lebar 600 mm atau lebih dan ketebalan 3 mm - 4,75 mm (HS 721913) memimpin dengan nilai ekspor mencapai US$ 2,11 miliar, meningkat 21,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Vietnam menjadi pasar ekspor terbesar untuk produk ini, disusul Taiwan, Tiongkok, India, dan Turki.
Produk setengah jadi dari baja stainless dengan penampang silang empat persegi panjang juga menunjukkan kinerja ekspor yang kuat, mencapai US$ 1,54 miliar. India menjadi tujuan ekspor utama, diikuti Taiwan, Tiongkok, Italia, dan Korea Selatan. Produk canai lantaian dari baja stainless dengan lebar 600 mm atau lebih dan ketebalan 4,75 mm - 10 mm (HS 721912) juga mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 1,14 miliar, naik 21,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan Taiwan sebagai pasar ekspor terbesar.
Keberhasilan ekspor baja ini tidak terlepas dari strategi diversifikasi pasar. Beberapa negara tujuan ekspor menunjukkan peningkatan signifikan, menunjukkan potensi pasar yang besar untuk produk baja Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu bersaing di pasar internasional untuk produk baja.
Strategi Penguatan Ekspor Baja
Kemendag memberikan beberapa rekomendasi untuk pelaku usaha baja agar dapat terus meningkatkan kinerja ekspor. Pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional seperti Free Trade Agreement (FTA) dan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) sangat penting untuk mempermudah akses pasar. Selain itu, penggunaan platform digital marketing dan business to business (B2B) dapat memperluas jangkauan pasar.
Diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional, seperti di kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan, juga menjadi strategi kunci. Peran perwakilan perdagangan di luar negeri (ITPC dan Atase Perdagangan) sangat penting untuk mendukung promosi dan perluasan pasar. Antisipasi terhadap implementasi CBAM (pungutan karbon) juga perlu dilakukan dengan beralih ke teknologi produksi yang lebih ramah lingkungan.
Dengan demikian, keberhasilan hilirisasi baja tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia. Strategi yang tepat dan adaptasi terhadap perkembangan global akan memastikan keberlanjutan kinerja positif ini.
"Pelaku usaha baja diharapkan dapat mengoptimalkan hasil kesepakatan perjanjian perdagangan internasional baik Free Trade Agreemant (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang dapat mempermudah ekspor produk besi dan baja ke negara-negara tertentu," ujar Gilang.