Jerat Gaya Hidup YOLO: Strategi YONO untuk Keuangan yang Sehat
Gaya hidup YOLO yang mendorong konsumsi berlebihan dapat menyebabkan masalah keuangan; strategi YONO menawarkan solusi dengan fokus pada pengurangan utang, peningkatan penghasilan, dan bersedekah.

Siapa yang tidak mengenal istilah YOLO (You Only Live Once)? Istilah yang populer di media sosial ini seringkali digunakan untuk membenarkan tindakan impulsif dan konsumsi berlebihan. Namun, di balik kesenangan sesaat, YOLO dapat menjerat banyak orang ke dalam lingkaran hutang yang menggerus mental dan produktivitas. Artikel ini membahas bagaimana mengatasi jeratan YOLO dengan strategi YONO (You Only Need One) yang menekankan pada pengelolaan keuangan yang bijak dan berkelanjutan.
Banyak individu terjebak dalam siklus YOLO karena dipengaruhi oleh FOMO (fear of missing out) dan FOPO (fear of people’s opinion). Mereka tergoda membeli barang mewah demi pencitraan, tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Akibatnya, menumpuknya hutang dari pinjaman online atau kartu kredit, menguras penghasilan, dan menimbulkan stres mental yang signifikan. Kondisi ini mengancam produktivitas dan merusak hubungan sosial karena tekanan finansial yang berat. Kapan dan bagaimana hal ini bisa diatasi? Artikel ini memberikan jawabannya.
Artikel ini menjelaskan solusi praktis untuk mengatasi masalah tersebut. Penulis memaparkan langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk keluar dari jeratan YOLO dan membangun keuangan yang lebih sehat. Penulis juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan perilaku konsumtif untuk mencegah masalah serupa terjadi di masa depan. Strategi YONO menawarkan pendekatan yang holistik, menggabungkan aspek keuangan, psikologis, dan spiritual untuk mencapai kesejahteraan finansial.
Audit Keuangan dan Kesehatan Mental
Langkah pertama yang krusial adalah melakukan audit keuangan. Catat semua utang, bunga, dan jatuh tempo pembayaran. Hitung rasio utang terhadap penghasilan. Jika rasio tersebut melebihi 50%, segera negosiasikan ulang dengan kreditur untuk pembayaran bertahap. Jangan lupa, mental yang sehat sangat penting. Akui kesalahan perilaku konsumtif tanpa menyalahkan orang lain. Cari dukungan dari keluarga, teman, atau konsultan keuangan. Bergabunglah dengan komunitas wirausaha untuk mendapatkan bimbingan.
Melepaskan ego dan meminta bantuan adalah kunci untuk mengatasi mental drop akibat jeratan hutang. Banyak komunitas dan lembaga yang menyediakan layanan konsultasi keuangan gratis. Manfaatkan sumber daya ini untuk mendapatkan dukungan dan arahan yang dibutuhkan. Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dalam menghadapi tantangan ini.
Setelah kondisi mental membaik, fokus pada perbaikan. Strategi YONO menekankan tiga hal utama: mengurangi beban utang, meningkatkan penghasilan, dan bersedekah.
Strategi YONO: Tiga Pilar Menuju Keuangan Sehat
Pertama, prioritaskan pembayaran utang dengan bunga tertinggi, seperti pinjaman online. Jika perlu, jual aset yang tidak penting untuk melunasi utang. Negosiasikan ulang dengan kreditur untuk mendapatkan pembayaran bertahap atau bunga yang lebih rendah. Bagi yang tidak memiliki aset, hitung penghasilan ideal untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Kedua, manfaatkan kemampuan untuk meningkatkan penghasilan. Berwirausaha, bergabung dengan komunitas wirausaha, atau ikuti pelatihan dan kursus yang relevan. Pilih pekerjaan atau bisnis yang halal dan bermanfaat bagi masyarakat. Usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan jujur akan memberikan hasil yang positif.
Ketiga, bersedekah meskipun dalam kondisi sulit. Bersedekah memiliki dampak psikologis positif, memicu pelepasan hormon kebahagiaan seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin. Hal ini meningkatkan produktivitas dan semangat kerja. Penelitian menunjukkan korelasi positif antara kebahagiaan dan produktivitas.
Pengelolaan Keuangan dengan Matrix Eisenhower
Setelah utang terkendali, kelola keuangan dengan bijak. Gunakan Matrix Eisenhower untuk memprioritaskan pengeluaran. Pengeluaran penting dan mendesak (makanan, sewa) diprioritaskan. Kemudian, pengeluaran penting namun tidak mendesak (tabungan) dan hindari pengeluaran tidak penting dan tidak mendesak (barang mewah).
Untuk mencegah kekambuhan, batasi paparan media sosial yang memicu FOMO. Kurangi waktu di platform yang menampilkan gaya hidup mewah. Ikuti seminar literasi keuangan untuk meningkatkan pengetahuan manajemen keuangan. Bangun mindset yang fokus pada kualitas dan investasi jangka panjang, bukan kuantitas dan konsumsi sesaat.
YOLO, FOMO, dan FOPO adalah perilaku yang keliru. Akui kesalahan dan perbaiki dengan strategi YONO. Terapkan prioritas ‘penting-mendesak’ dan fokus pada keberlanjutan ekonomi keluarga. Dengan demikian, Anda dapat melepaskan jeratan YOLO dan kembali produktif. Ingat, kekayaan bukan hanya dilihat dari jumlah harta, tetapi bagaimana mengaturnya.
*) Baratadewa Sakti Perdana ST ME CPFA CPRM CPMM AWP adalah praktisi Keuangan Keluarga & Pendamping Keuangan Bisnis UMKM