Mimika Butuh Tambahan Dokter Subspesialis untuk Optimalkan Pelayanan Kesehatan
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika menyatakan kekurangan dokter subspesialis di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sehingga menghambat optimalisasi pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Kabupaten Mimika, Papua Tengah, tengah menghadapi tantangan serius dalam sektor kesehatan. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika secara resmi menyatakan kebutuhan mendesak akan penambahan dokter subspesialis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Ketua IDI Mimika, Leonard Pardede, di Timika pada Jumat lalu. Kekurangan dokter subspesialis ini berdampak signifikan pada akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang memadai.
Menurut Leonard Pardede, kurangnya dokter subspesialis di Mimika mengakibatkan masyarakat harus menempuh perjalanan jauh ke luar daerah untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih spesialis. Kondisi ini tentu sangat menyulitkan, terlebih bagi masyarakat di wilayah terpencil. "Di Kabupaten Mimika perlu ada dokter sub spesialis konsultan bedah digestif, vaskular, dan toraks, sehingga penanganan masalah kesehatan bisa maksimal," tegas Pardede. Kehadiran dokter subspesialis ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan kesehatan yang kompleks dan meningkatkan angka kesembuhan pasien.
Data yang disampaikan IDI Mimika menunjukkan bahwa jumlah dokter spesialis yang tersedia saat ini masih terbatas. Terdapat 46 dokter spesialis yang tersebar di beberapa fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Mimika, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Caritas Timika, RS Kasih Herlina Timika, dan RS Tembagapura. Jumlah ini dinilai masih jauh dari ideal untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan di Kabupaten Mimika yang luas dan memiliki beragam tantangan geografis. IDI Mimika berharap penambahan dokter spesialis ini dapat segera direalisasikan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih merata dan terjangkau.
Kekurangan Dokter Spesialis dan Umum di Mimika
IDI Mimika mencatat jumlah dokter secara keseluruhan yang terdaftar di organisasi tersebut sebanyak 301 orang. Dari jumlah tersebut, 255 orang merupakan dokter umum, sementara sisanya adalah dokter spesialis. Proporsi ini menunjukkan masih tingginya kebutuhan dokter spesialis dan subspesialis di Mimika. "Jika semua macam dokter spesialis ada di Mimika maka tidak perlu masyarakat ke luar daerah untuk mendapatkan perawatan," ujar Pardede. Hal ini menekankan pentingnya pemerataan tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis, untuk menjamin akses layanan kesehatan yang berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Selain kekurangan dokter spesialis, IDI Mimika juga menyoroti pentingnya penempatan dokter umum di seluruh puskesmas yang ada di Mimika, termasuk di daerah-daerah pedalaman. Distribusi tenaga kesehatan yang merata menjadi kunci keberhasilan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat di wilayah yang luas dan beragam kondisi geografisnya. Keberadaan dokter umum di puskesmas-puskesmas pedalaman akan mendekatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota.
Tantangan lain yang dihadapi adalah keamanan tenaga kesehatan yang bertugas di daerah pedalaman. IDI Mimika berharap pemerintah daerah dan aparat keamanan dapat menjamin keselamatan para tenaga kesehatan agar mereka dapat menjalankan tugas dengan aman dan nyaman. "Kami tidak ingin ada lagi tenaga kesehatan yang menjadi korban tindak kekerasan di Papua khususnya di Mimika," tegas Pardede. Jaminan keamanan ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil.
Solusi Jangka Panjang untuk Kesehatan di Mimika
Untuk mengatasi permasalahan ini, dibutuhkan solusi jangka panjang dan terintegrasi. Pemerintah perlu meningkatkan investasi di sektor kesehatan, termasuk memberikan insentif bagi dokter spesialis dan subspesialis yang bersedia bertugas di Mimika. Program beasiswa pendidikan kedokteran juga perlu ditingkatkan untuk mencetak lebih banyak dokter spesialis dan subspesialis dari Papua. Selain itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan kualitas infrastruktur kesehatan di Mimika, termasuk pembangunan fasilitas kesehatan yang memadai di daerah-daerah pedalaman.
Pemerataan distribusi tenaga kesehatan juga menjadi kunci penting. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang mendorong dokter untuk bertugas di daerah-daerah terpencil, misalnya dengan memberikan tunjangan khusus atau fasilitas yang memadai. Peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan juga akan meningkatkan motivasi dan kinerja mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat. Hal ini akan berdampak positif pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Mimika secara keseluruhan.
IDI Mimika berharap agar pemerintah pusat dan daerah dapat segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi kekurangan dokter subspesialis di Mimika. Ketersediaan dokter subspesialis yang memadai akan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan menjamin akses yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Mimika terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Upaya ini merupakan investasi penting untuk pembangunan sumber daya manusia dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.
Kesimpulannya, permasalahan kekurangan dokter subspesialis di Mimika merupakan isu serius yang membutuhkan perhatian dan tindakan segera dari berbagai pihak. Solusi yang komprehensif dan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk memastikan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas dan memadai.