Pawai Ogoh-Ogoh Mataram: Introspeksi Diri dan Semangat Kebersamaan Menuju Indonesia Emas 2045
Wali Kota Mataram sebut pawai Ogoh-Ogoh sebagai sarana introspeksi diri dan simbol kebersamaan, sekaligus wujud kreativitas generasi muda serta toleransi antar umat beragama di NTB.

Pawai Ogoh-Ogoh di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Jumat, 28 Maret 2024, bukan sekadar perayaan budaya semata. Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi ini merupakan sarana introspeksi diri bagi seluruh masyarakat. Kegiatan yang diikuti sekitar 114 peserta ini dihadiri pula oleh Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, ketua panitia Anak Agung, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Pawai ini menjadi momentum untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan menyambut tahun baru dengan jiwa yang lebih suci.
Menurut Wali Kota, Ogoh-Ogoh yang diarak merupakan simbol kekuatan negatif yang harus dikendalikan dalam kehidupan sehari-hari. Prosesinya mengajarkan tentang pentingnya mengendalikan kejahatan, ketamakan, dan kebencian demi mencapai kehidupan yang lebih harmonis. Ia berharap, ekspresi seni dan inovasi dalam pawai Ogoh-Ogoh tetap dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan tetap menjaga batasan-batasan yang ada. "Ogoh-ogoh bagian tradisi, dan yang wajib dilaksanakan adalah catur brata penyepian yang dilaksanakan nanti malam, semoga berjalan lancar dan penuh kekhidmatan," katanya.
Tema Hari Raya Nyepi Nasional tahun ini, "Manawasewa, Madawasewa - Menuju Indonesia Emas 2045", juga menjadi sorotan. Wali Kota menjelaskan bahwa Manawasewa mengajarkan untuk melayani sesama dengan tulus, sementara Madawasewa menekankan pengabdian kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Nilai-nilai ini, menurutnya, harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat agar Indonesia, khususnya Kota Mataram, semakin maju dan sejahtera menuju 100 tahun kemerdekaan.
Introspeksi Diri dan Semangat Kebersamaan
Pawai Ogoh-Ogoh di Mataram menjadi bukti nyata komitmen untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kegiatan ini menunjukkan semangat kreativitas generasi muda, kebersamaan lintas agama dan budaya, serta semangat melestarikan warisan leluhur. Wali Kota mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, termasuk panitia, peserta, dan masyarakat yang menjaga ketertiban dan keamanan. Ia mengajak semua pihak untuk menjadikan perayaan ini sebagai ajang refleksi guna memperkuat karakter bangsa yang penuh toleransi, kebersamaan, dan semangat gotong royong. "Mari kita jadikan perayaan ini sebagai ajang refleksi untuk memperkuat karakter bangsa yang penuh dengan toleransi, kebersamaan, dan semangat gotong royong," ajaknya.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, turut menyampaikan harapan agar pawai Ogoh-Ogoh tidak hanya menjadi milik umat Hindu, tetapi milik seluruh warga NTB. Ia menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini agar ke depannya dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan lebih besar, serta memberikan sentuhan rohani yang lebih besar bagi masyarakat NTB. Apresiasi juga diberikan kepada peserta pawai yang tetap menunjukkan penghormatan kepada umat Muslim yang berpuasa di bulan Ramadhan, sebagai wujud toleransi antarumat beragama.
Hal ini menunjukkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi dalam perayaan tersebut, yaitu saling menghormati dan menghargai perbedaan. Semangat toleransi dan kebersamaan ini menjadi contoh nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam membangun peradaban yang unggul dan harmonis. Pawai Ogoh-Ogoh tidak hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
Makna Mendalam di Balik Tradisi
Lebih dari sekadar atraksi visual, pawai Ogoh-Ogoh mengandung makna mendalam tentang introspeksi diri dan perenungan. Simbol-simbol yang ditampilkan dalam Ogoh-Ogoh merepresentasikan kekuatan negatif yang perlu dikendalikan dan dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pawai ini menjadi momentum untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan menyambut tahun baru dengan hati yang lebih suci dan pikiran yang lebih jernih.
Tema "Manawasewa, Madawasewa" yang diusung dalam Hari Raya Nyepi tahun ini semakin memperkuat pesan moral tersebut. Manawasewa, yang berarti melayani sesama, dan Madawasewa, yang berarti mengabdi kepada Tuhan, merupakan nilai-nilai luhur yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, pawai Ogoh-Ogoh tidak hanya menjadi perayaan budaya semata, tetapi juga menjadi sarana untuk merefleksikan diri dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, terlihat jelas semangat kreativitas generasi muda dalam mengekspresikan seni dan inovasi. Hal ini juga menunjukkan kebersamaan lintas agama dan budaya, serta komitmen untuk menjaga warisan leluhur. Semangat gotong royong dan toleransi antarumat beragama yang ditunjukkan dalam acara ini patut menjadi contoh dan inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Pawai Ogoh-Ogoh di Mataram menjadi bukti nyata bahwa tradisi budaya dapat menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Acara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan moral yang mendalam dan menginspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Dengan semangat kebersamaan dan toleransi yang ditunjukkan, pawai Ogoh-Ogoh di Mataram menjadi contoh yang baik bagi daerah lain dalam melestarikan tradisi budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa. Semoga semangat ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.