Pelaku Pelecehan Anak Disabilitas di Jatinegara Ditangkap, Sempat Culik Korban
Polisi menangkap dua pelaku pelecehan seksual terhadap anak disabilitas di Jatinegara, Jakarta Timur, yang sebelumnya sempat menculik korban yang ditelantarkan ibunya.

Jakarta, 25 Februari 2024 - Sebuah kasus pelecehan seksual terhadap anak disabilitas menggemparkan warga Jakarta Timur. Dua pelaku, inisial B alias O dan I, telah ditangkap pihak kepolisian Polres Metro Jakarta Timur karena melakukan pelecehan seksual terhadap seorang anak disabilitas di kawasan Bidara Cina, Jatinegara. Yang lebih mengejutkan, sebelum melakukan pelecehan, kedua pelaku diketahui telah menculik korban.
Kapolres Metro Jakarta Timur, Komisaris Besar Polisi Nicolas Ary Lilipaly, mengungkapkan bahwa laporan awal yang diterima bukanlah kasus percabulan, melainkan kasus penculikan anak di bawah umur. "Jadi laporan pertama ke kita itu bukan kasus percabulan, tapi melarikan anak di bawah umur," jelasnya saat dikonfirmasi pada Selasa. Kedua pelaku merupakan pria dewasa yang telah bercerai dengan istrinya.
Korban, seorang anak disabilitas, hidup tanpa perhatian yang cukup dari ibunya yang telah menikah lagi dan menelantarkannya. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh kedua pelaku. "Yang bersangkutan ibunya menikah lagi. Anaknya disabilitas, ibunya menikah lagi, meninggalkannya. Ibunya kurang perhatian. Akhirnya dia kemana-mana hidupnya," ungkap Nicolas. Ketiadaan perhatian dari orang tua inilah yang membuat korban rentan menjadi sasaran kejahatan seksual.
Penangkapan Pelaku dan Kondisi Korban
Kedua tersangka, B alias O dan I, kini telah ditahan di Polres Metro Jakarta Timur. Mereka melakukan persetubuhan terhadap korban secara berulang kali. "Kedua pelaku yang tertarik terhadap anak yang bersangkutan, kemudian akhirnya melakukan persetubuhan secara berulang," kata Nicolas. Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan anak disabilitas yang membutuhkan perlindungan ekstra.
Saat ini, korban tengah mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma yang dialaminya. Polres Metro Jakarta Timur juga bekerja sama dengan Kementerian terkait dan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) untuk memastikan korban mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Pendampingan ini sangat penting untuk membantu korban mengatasi dampak psikologis dari tindakan keji yang dialaminya.
Komitmen untuk melindungi anak-anak, terutama yang rentan seperti korban dalam kasus ini, sangat penting. Pihak berwenang perlu memastikan bahwa pelaku dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku dan upaya pencegahan serupa dilakukan untuk melindungi anak-anak lainnya dari kejahatan seksual.
Peran Komnas PA dan Upaya Pencegahan
Ketua Komnas PA, Agustinus Sirait, menyatakan bahwa pihaknya telah memonitor kasus ini sejak awal dan mengapresiasi penangkapan para pelaku oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur. "Saat ini tersangka sudah ada di Polres Jakarta Timur. Pelakunya atau tersangkanya ada dua orang. Sesuai dengan laporan awal itu sudah jadi tersangka," ujar Agustinus.
Komnas PA berkomitmen untuk terus memperjuangkan perlindungan anak dan memastikan hak-hak anak terpenuhi, terutama dalam kasus kekerasan. "Adapun kondisi korban saat ini yang paling dibutuhkan, yakni pendampingan psikologis," tambahnya. Pernyataan ini menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi korban untuk memulihkan trauma yang dialaminya.
Kasus ini menyoroti pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam melindungi anak-anak, khususnya anak disabilitas yang rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi. Perhatian dan pengawasan yang lebih ketat dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kasus serupa di masa mendatang. Upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat tentang perlindungan anak juga perlu ditingkatkan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya sistem perlindungan anak yang lebih komprehensif dan efektif. Kerja sama antara pihak kepolisian, lembaga perlindungan anak, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi.