Pemkot Surabaya Atur Skema Pembelajaran Selama Ramadhan 2025: Belajar Mandiri dan Kegiatan Keagamaan
Dinas Pendidikan Surabaya mengatur skema pembelajaran dan kegiatan keagamaan bagi siswa PAUD hingga SMP selama Ramadhan 2025, memadukan belajar mandiri di rumah dan kegiatan keagamaan di sekolah atau tempat ibadah.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menerapkan skema pembelajaran khusus bagi siswa PAUD hingga SMP selama bulan suci Ramadhan 1446 Hijriah atau Maret 2025. Skema ini dirancang untuk mengakomodasi kegiatan ibadah siswa muslim sekaligus memastikan kelancaran proses belajar siswa dari berbagai agama. Langkah ini diambil Dinas Pendidikan Surabaya berdasarkan Surat Edaran Bersama (SEB) tiga Menteri terkait pembelajaran selama Ramadhan.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa pembelajaran dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, yaitu pembelajaran mandiri di rumah, berlangsung pada 27-28 Februari dan 3-5 Maret 2025. Selama periode ini, siswa diberikan tugas-tugas yang relevan dengan bulan Ramadhan dan agama masing-masing. Pembelajaran di sekolah akan ditiadakan sementara waktu.
Skema ini dirancang inklusif, mengakomodasi siswa muslim dan non-muslim. Siswa muslim, misalnya, akan mendapatkan tugas seperti membuat naskah ceramah religi atau desain kartu ucapan Ramadhan. Sementara itu, siswa non-muslim juga mendapatkan tugas yang sesuai dengan kepercayaan mereka, seperti membuat renungan singkat Firman Tuhan (Kristen), membaca periskop Alkitab (Katolik), atau membaca kitab suci Shi (Khonghucu).
Pembelajaran Mandiri di Rumah: Tugas yang Kreatif dan Edukatif
Tugas-tugas yang diberikan selama pembelajaran mandiri dirancang untuk tetap memberikan nilai edukatif dan kreativitas. Untuk siswa muslim, selain tugas-tugas keagamaan, mereka juga dapat mengembangkan kreativitas melalui pembuatan miniatur tempat ibadah dari bahan daur ulang. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus melatih kreativitas dan keterampilan siswa.
Sementara itu, bagi siswa non-muslim, tugas-tugas yang diberikan bertujuan untuk memperdalam pemahaman dan penghayatan ajaran agama masing-masing. Contohnya, siswa Hindu dapat menonton cerita Mahabarata dan membuat sarana sembahyang, sedangkan siswa Budha dapat membaca atau melafalkan parita. Semua tugas ini dirancang agar tetap relevan dengan pembelajaran dan nilai-nilai kehidupan.
Dispendik Surabaya menekankan pentingnya pembelajaran yang inklusif dan menghargai keberagaman. Dengan demikian, siswa dari berbagai latar belakang agama dapat tetap belajar dan beribadah dengan nyaman selama bulan Ramadhan.
Penyesuaian Durasi Jam Pelajaran dan Kegiatan Keagamaan
Setelah masa pembelajaran mandiri di rumah, pembelajaran tatap muka di sekolah akan kembali dimulai pada 6-25 Maret 2025. Selama bulan Ramadhan, terdapat penyesuaian durasi jam pelajaran. Untuk jenjang SD, satu jam pelajaran berlangsung selama 25 menit, sedangkan untuk SMP dan sederajat, satu jam pelajaran berlangsung selama 30 menit. Penyesuaian ini dilakukan untuk memberikan waktu yang cukup bagi siswa untuk beribadah dan beraktivitas keagamaan.
Selain penyesuaian durasi jam pelajaran, Pemkot Surabaya juga menganjurkan siswa non-muslim untuk melaksanakan kegiatan bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Hal ini menunjukkan komitmen Pemkot Surabaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif bagi semua siswa.
Semua kebijakan ini sejalan dengan SEB tiga menteri, yang bertujuan untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan lancar dan efektif selama bulan Ramadhan, seraya menghormati dan memfasilitasi pelaksanaan ibadah bagi seluruh siswa.
Dengan skema pembelajaran yang terencana dan memperhatikan keberagaman agama, Pemkot Surabaya berupaya menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bermakna bagi seluruh siswa selama bulan Ramadhan. Pembelajaran mandiri dan penyesuaian jam pelajaran diharapkan dapat memberikan keseimbangan antara pendidikan dan ibadah.