Rekonstruksi Kasus Mutilasi Kediri: 120 Adegan Peragakan Kekejaman Tersangka
Polda Jatim menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan dan mutilasi di Kediri, Jawa Timur, dengan tersangka RTH alias A yang mengaku sakit hati pada korban, UK.

Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) telah melaksanakan rekonstruksi kasus pembunuhan disertai mutilasi yang dilakukan oleh tersangka RTH alias A (32), warga Tulungagung, di beberapa lokasi di Kota Kediri. Rekonstruksi yang digelar pada Kamis, 27 Februari, meliputi sejumlah tempat, termasuk hotel, restoran, dan pusat perbelanjaan, guna mencocokkan keterangan tersangka dengan fakta di lapangan. Kasus ini bermula dari penemuan mayat wanita tanpa kepala di Ngawi pada 23 Januari 2025, yang kemudian terungkap sebagai korban UK (29), warga Kabupaten Blitar.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur, menyatakan bahwa rekonstruksi bertujuan untuk memverifikasi keterangan saksi dan tersangka. Sebanyak 120 adegan diperagakan, dengan 80 adegan di antaranya dilakukan di kamar hotel tempat korban menginap. Kejaksaan turut hadir dalam rekonstruksi untuk memastikan kelancaran proses hukum selanjutnya. "Hari ini kami di lokasi hotel ini ada reka adegan. Kami cek lagi keterangan saksi," ujar AKBP Arbaridi Jumhur.
Hingga saat ini, rekonstruksi berjalan lancar tanpa temuan baru atau novum. Keterangan tersangka sejauh ini konsisten dengan hasil penyelidikan. "Kami bersama dengan kejaksaan yang ingin memastikan ke depannya prosesnya bagaimana. Selama ini lancar, tidak ada bantahan. Tidak ada kelihatannya keraguan kita untuk memproses keterangan tersangka," tambahnya. Saksi yang merupakan rekan korban hanya menunggu di luar kamar hotel selama rekonstruksi berlangsung.
Rekonstruksi di Beberapa Lokasi
Rekonstruksi tidak hanya terfokus di Kota Kediri. Proses tersebut juga dilakukan di beberapa lokasi lain, termasuk Trenggalek, Ponorogo, dan Tulungagung, tempat-tempat di mana bagian tubuh korban ditemukan. Hal ini menunjukkan upaya kepolisian untuk melacak dan merangkai kronologi kejadian secara menyeluruh.
Proses rekonstruksi melibatkan berbagai pihak, termasuk kejaksaan, untuk memastikan proses hukum berjalan sesuai prosedur dan bukti-bukti yang dikumpulkan telah terdokumentasi dengan baik. Kerja sama antar lembaga penegak hukum ini penting untuk memastikan keadilan bagi korban dan keluarganya.
Dengan adanya rekonstruksi ini diharapkan dapat memperkuat bukti-bukti yang telah dikumpulkan dan memperjelas kronologi kejadian. Hal ini akan sangat membantu dalam proses persidangan mendatang.
Kronologi Kejadian dan Penangkapan Tersangka
Kasus ini berawal dari penemuan mayat wanita di dalam koper di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, pada 23 Januari 2025. Kondisi mayat yang tidak utuh, dengan kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya terpisah, menjadi petunjuk awal bagi kepolisian.
Hasil autopsi menunjukkan bahwa korban meninggal dunia diduga karena kekurangan napas akibat terhambat jalan pernapasan, kemungkinan akibat dicekik. Pelaku, RTH alias A, berhasil ditangkap pada 25 Januari 2025 pukul 24.00 WIB di Tulungagung.
Menurut pengakuan tersangka, ia sakit hati kepada korban. Ia mengajak korban bertemu di Terminal Gayatri Tulungagung pada 19 Januari 2025, kemudian membawanya ke sebuah hotel di Kediri. Di hotel tersebut, tersangka mencekik korban hingga meninggal dunia pada 20 Januari 2025 pukul 00.30 WIB.
Setelah membunuh korban, tersangka melakukan mutilasi dan membuang bagian-bagian tubuh korban di beberapa lokasi berbeda. Bagian tubuh korban dimasukkan ke dalam koper dan dibuang di Ngawi, bagian kaki dibuang di Ponorogo, sementara kepala dibuang di Trenggalek.
Kesimpulan
Rekonstruksi kasus pembunuhan dan mutilasi di Kediri menjadi langkah penting dalam proses hukum. Dengan adanya rekonstruksi ini, diharapkan semua fakta terungkap dan keadilan dapat ditegakkan. Proses hukum yang transparan dan akuntabel sangat penting dalam kasus-kasus kejahatan yang brutal seperti ini.