Wamentan Tegaskan Peran PPL sebagai Ujung Tombak Swasembada Pangan
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan peran strategis penyuluh pertanian lapangan (PPL) sebagai ujung tombak dalam mencapai swasembada pangan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Jakarta, 27 Februari 2024 - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dengan tegas menyatakan bahwa penyuluh pertanian lapangan (PPL) memegang peranan krusial sebagai ujung tombak dalam pencapaian swasembada pangan, visi utama Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan ini disampaikan saat berdialog langsung dengan para PPL Jawa Tengah di Magelang.
Wamentan Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menekankan pentingnya peran PPL sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan petani. Ia menjelaskan bahwa swasembada pangan bukan hanya soal peningkatan produksi beras, melainkan juga komoditas strategis lain seperti jagung, kedelai, daging, dan susu. Oleh karena itu, PPL memiliki tanggung jawab besar dalam mengedukasi petani mengenai penggunaan benih unggul, teknik budidaya modern, dan pengelolaan lahan berkelanjutan.
Pernyataan kunci Wamentan: "Penyuluh adalah garda terdepan yang membawa inovasi, teknologi, dan pengetahuan langsung kepada petani. Tanpa peran mereka, visi besar Presiden Prabowo untuk mencapai swasembada pangan tidak akan tercapai." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya peran PPL dalam mewujudkan visi pemerintah.
Peran PPL dalam Mewujudkan Swasembada Pangan
Wamentan Sudaryono menjelaskan bahwa perpindahan administrasi PPL dari daerah ke pusat tidak akan menghambat kinerja mereka dalam mendampingi petani. Para PPL tetap akan bertugas di wilayah masing-masing, hanya saja dengan pengawasan langsung dari pemerintah pusat. "Bukan berarti kalau Bupati minta tolong Anda kemudian tidak boleh kerja, jadi semua harus dikerjakan dan jangan sampai mengganggu jalannya kinerja yang sedang dilakukan saat ini," tegas Wamentan.
Lebih lanjut, Wamentan berharap PPL tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mendorong modernisasi pertanian. Mereka dianggap sebagai kunci keberhasilan program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan. "Mereka adalah kunci agar program intensifikasi dan ekstensifikasi lahan berjalan sukses," sambung Sudaryono.
Kementerian Pertanian hanya akan mengambil alih administrasi, tanpa mengurangi porsi kerja PPL. Sebagai bentuk apresiasi, Wamentan juga menyampaikan rencana kenaikan intensif bagi PPL yang mencapai target dan berprestasi dalam meningkatkan produksi. Sistem ranking kinerja PPL akan diterapkan, dengan penghargaan bagi yang berprestasi. Hal ini diharapkan dapat memacu kinerja dan produktivitas PPL.
Dukungan Pemerintah untuk Swasembada Pangan
Pemerintah telah memberikan berbagai dukungan strategis untuk sektor pertanian, termasuk peningkatan volume pupuk dari 4,5 juta ton menjadi 9,5 juta ton, penyediaan benih gratis, dan distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan). Kenaikan harga gabah menjadi Rp6.500 per kilogram juga merupakan upaya untuk mendukung kesejahteraan petani.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga telah mengajak PPL se-Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk menggenjot pertanian Indonesia. Beliau menekankan tiga langkah utama: meningkatkan produktivitas, meningkatkan indeks pertanaman (IP), dan meningkatkan luas tambah tanam (LTT). "Aku PPL yang jadi menteri. Saya jadi PPL tahun 1995. Jadi PPL itu adalah menteri pertanian dan menteri pertanian adalah PPL," kata Mentan.
Dengan berbagai upaya dan komitmen dari pemerintah dan peran strategis PPL, swasembada pangan di Indonesia diharapkan dapat terwujud.
Kesimpulan: Peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) sangat vital dalam mencapai swasembada pangan. Dukungan pemerintah melalui berbagai program dan insentif diharapkan dapat meningkatkan kinerja PPL dan mendorong modernisasi pertanian di Indonesia.