AI dan Kesenjangan Gender: UN Women Sorot Risiko Perkembangan Teknologi yang Tidak Merata
UN Women memperingatkan potensi kecerdasan buatan (AI) untuk memperlebar kesenjangan gender jika tidak dikelola dengan bijak, terutama karena akses internet yang tidak merata dan bias algoritma.

Jakarta, 15 Maret 2024 - Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) menyimpan potensi besar, namun juga risiko yang signifikan, khususnya terkait kesenjangan gender. Hal ini diungkapkan oleh Country Representative and Liaison to ASEAN UN Women, Ulziisuren Jamsran, dalam sebuah webinar di Jakarta. Webinar tersebut menyoroti bagaimana AI, jika tidak dikelola dengan baik, justru dapat memperkuat ketidaksetaraan yang sudah ada antara laki-laki dan perempuan.
Ulziisuren menekankan bahwa akses internet yang tidak merata menjadi salah satu faktor utama. "Meskipun perempuan secara global, termasuk di Indonesia, semakin terkoneksi dengan internet, hanya 20 persen perempuan di negara berpenghasilan rendah yang memiliki akses online," ujarnya. Kesenjangan akses ini menciptakan jurang digital yang signifikan, membatasi partisipasi perempuan dalam memanfaatkan potensi AI untuk pemberdayaan.
Lebih lanjut, Ulziisuren menjelaskan bagaimana bias algoritma dalam teknologi AI dapat memperburuk permasalahan kesetaraan gender. Sistem AI, terutama teknologi pengenalan wajah dan suara, seringkali menunjukkan bias dan salah mengklasifikasikan perempuan. Hal ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari akses layanan publik hingga peluang kerja.
Ancaman dan Potensi AI terhadap Kesetaraan Gender
Penyalahgunaan AI juga berisiko memperkuat bias sosial yang sudah ada. Teknologi ini dapat digunakan untuk menyebarkan misinformasi dan bahkan meningkatkan kekerasan berbasis gender. "Semua ini mengancam kohesi sosial dan keamanan," tegas Ulziisuren. Namun, di sisi lain, AI juga memiliki potensi besar untuk memberdayakan perempuan dan meningkatkan kesetaraan gender.
UN Women menyadari potensi ganda dari AI ini. Oleh karena itu, mereka berkomitmen untuk mendorong pengembangan dan penerapan AI yang lebih inklusif dan etis. Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai penelitian yang bertujuan untuk memahami dampak AI terhadap bias gender dan mencari cara untuk memanfaatkan teknologi ini demi pemberdayaan perempuan.
Salah satu fokus utama adalah peran AI dalam menjaga perdamaian dan keamanan. UN Women percaya bahwa AI dapat digunakan sebagai alat untuk melindungi perempuan dan anak perempuan dari kekerasan dan diskriminasi. Namun, hal ini membutuhkan pendekatan yang sensitif terhadap gender dan memperhatikan potensi bias yang mungkin muncul.
Pentingnya Kolaborasi untuk Tata Kelola AI yang Etis
Ulziisuren mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam memastikan tata kelola AI yang etis menjadi norma baru. "Ada banyak yang harus kita lakukan bersama. Kita harus memastikan bahwa AI tidak hanya canggih, tetapi juga inklusif, aman, dan dapat dipercaya," ucapnya. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil.
Langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan antara lain adalah pengembangan standar dan pedoman etis untuk pengembangan dan penggunaan AI, peningkatan literasi digital bagi perempuan, serta pengawasan yang ketat terhadap potensi bias dan penyalahgunaan teknologi AI. Dengan demikian, potensi AI untuk memberdayakan perempuan dapat dimaksimalkan, sementara risiko yang mengancam kesetaraan gender dapat diminimalisir.
Kesimpulannya, perkembangan AI membawa tantangan dan peluang yang sama besarnya terkait kesetaraan gender. Penting bagi semua pihak untuk bekerja sama dalam memastikan teknologi ini digunakan secara bertanggung jawab dan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih adil dan setara.