Pedagang Kue Kering di Ambon Raup Untung Berlipat Jelang Idul Fitri
Jelang Idul Fitri, pedagang kue kering musiman di Ambon, Maluku, meraup keuntungan hingga jutaan rupiah berkat tingginya permintaan kue kering, terutama nastar.

Ambon, 30 Maret 2025 - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah/2025 Masehi, para pedagang kue kering musiman di Ambon, Maluku, merasakan berkah yang luar biasa. Tingginya permintaan kue kering selama sepekan terakhir membuat mereka meraup keuntungan berlipat. Para pedagang, seperti Yudiana dan Ahmad, mengungkapkan peningkatan penjualan yang signifikan, khususnya untuk kue nastar.
Yudiana, salah satu pedagang kue kering di Ambon, mengaku telah menerima pesanan sebanyak 40 toples kue kering hanya dalam seminggu terakhir. Beragam jenis kue kering dijajakannya, mulai dari kue bola-bola meses, nastar dengan berbagai varian rasa, kue putri salju, dan masih banyak lagi. Namun, nastar selai nanas tetap menjadi primadona dan paling banyak dipesan.
Keuntungan yang diperoleh Yudiana pun sangat signifikan. "Sepekan ini sudah terkumpul Rp4.400.000 dari berjualan kue kering," ujarnya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatannya pada pekan sebelumnya saat ia berjualan takjil, yang hanya menghasilkan sekitar Rp1.500.000.
Omzet Pedagang Melonjak Signifikan
Tidak hanya Yudiana, pedagang lain seperti Ahmad juga merasakan hal serupa. Ia mengaku mampu menjual hingga 10 toples kue kering per hari. "Nastar masih jadi primadona di kalangan masyarakat," kata Ahmad. Uniknya, Ahmad dan istrinya memodifikasi nastar dengan berbagai varian rasa, seperti cokelat, selai stroberi, dan keju, untuk memenuhi selera konsumen.
Harga kue kering yang dijual pun bervariasi. Untuk nastar, Yudiana mematok harga Rp65.000 untuk toples kecil dan Rp80.000 untuk toples besar. Jenis kue kering lainnya dijual dengan harga mulai dari Rp50.000 hingga Rp60.000 per toples. Tingginya permintaan dan harga jual yang relatif tinggi berkontribusi pada peningkatan omzet yang signifikan bagi para pedagang.
Kenaikan omzet ini menunjukkan tingginya animo masyarakat Ambon terhadap kue kering sebagai hidangan Lebaran. Tradisi berbagi kue kering saat Idul Fitri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan hari raya tersebut di Ambon.
Makna Kue Kering dalam Tradisi Lebaran
Lebih dari sekadar hidangan, kue kering seperti nastar, kastengel, lidah kucing, dan putri salju memiliki makna historis dan sosial yang cukup dalam. Kue-kue ini, yang populer disajikan sebagai kudapan khas Lebaran, mencerminkan nilai toleransi dan pertukaran budaya.
Sejarah mencatat, kue kering mulai dikenal di Indonesia pada masa kolonial. Awalnya, kue-kue tersebut merupakan hantaran dari keluarga Eropa kepada keluarga priyayi yang merayakan Lebaran. Seiring waktu, kue kering ini menjadi hidangan yang umum dihidangkan dalam berbagai perayaan, termasuk perayaan hari besar umat Nasrani.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana kue kering telah menjadi simbol persatuan dan kebersamaan di tengah keberagaman budaya dan agama di Indonesia. Kehadiran kue kering dalam perayaan Idul Fitri di Ambon pun semakin memperkuat ikatan sosial dan memperkaya khazanah budaya lokal.
Kesimpulannya, tingginya permintaan kue kering di Ambon menjelang Idul Fitri telah memberikan berkah ekonomi bagi para pedagang musiman. Keuntungan berlipat yang mereka raih mencerminkan pentingnya kue kering sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di Ambon, sekaligus menunjukkan nilai toleransi dan pertukaran budaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.