Jakpro Komitmen Emisi Nol di 2050: Dorong Jakarta Jadi Kota Hijau
PT Jakarta Propertindo (Jakpro) berkomitmen mencapai emisi nol pada 2050 melalui ekonomi hijau, mendukung transformasi Jakarta menjadi kota berkelanjutan.
Jakarta, 24 Februari 2024 (ANTARA) - PT Jakarta Propertindo (Jakpro), sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, menyatakan komitmennya untuk mewujudkan emisi nol (zero net emission) pada tahun 2050. Komitmen ini diwujudkan melalui gerakan ekonomi hijau (green economy) sebagai upaya mendukung transformasi Jakarta menjadi kota hijau dan berkelanjutan. Langkah ini merupakan bagian penting dari upaya global untuk mengurangi dampak perubahan iklim.
Yeni Widayanti, Plt VP Corsec Jakpro, menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan perusahaan untuk mendukung ekonomi hijau. Salah satu langkah nyata adalah pengelolaan sampah terpadu di kantor pusat Jakpro melalui pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar (Refuse-Derived Fuel/RDF). RDF ini kemudian digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil, mengurangi jejak karbon perusahaan.
Lebih lanjut, Yeni menekankan pentingnya kolaborasi. "Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berperan aktif mendukung Jakarta menjadi kota hijau yang berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi kota-kota lainnya di tingkat global," ujarnya. Komitmen ini bukan hanya tanggung jawab Jakpro, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah.
Upaya Jakpro Menuju Emisi Nol
Dari Februari hingga Desember 2024, Jakpro berhasil menghasilkan 11,6 ton sampah yang terdiri dari sampah organik, non-organik, residu, dan campuran. Namun, angka ini tidak hanya berasal dari kantor pusat. Jakpro juga melibatkan berbagai Satuan Bisnis Unit (SBU) lainnya, seperti Jakarta International Stadium, Jakarta International Velodrome, Taman Ismail Marzuki, Mall Pluit Junction, Pasar Muara Karang, dan Aston Pluit Hotel & Residence dalam pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Semua SBU tersebut aktif dalam pemilahan sampah, sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Langkah ini menunjukkan komitmen Jakpro dalam menerapkan prinsip keberlanjutan di seluruh operasionalnya. Inisiatif ini diharapkan dapat menginspirasi BUMD lain untuk mengikuti jejak Jakpro dalam pengelolaan sampah.
Sebagai bentuk nyata komitmen tersebut, Jakpro juga berpartisipasi aktif dalam Hari Bersih Indonesia (HBI) 2025 pada 22 Februari lalu. Kegiatan ini melibatkan Jakpro Group dan seluruh anak usaha, termasuk PT Pulo Mas Jaya (PMJ) Land, PT Jakarta Konsultindo, dan PT LRT Jakarta. Kegiatan bersih-bersih dilakukan di beberapa lokasi strategis, seperti Dukuh Atas, Terowongan Kendal, dan Jalan Jenderal Sudirman.
Hasil dari kegiatan HBI tersebut cukup signifikan. Total sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 53,89 kilogram, dengan sampah residu sebanyak 22.445 kilogram. Rincian sampah rumah tangga meliputi kertas (7.080 kilogram), kardus (5.535 kilogram), plastik (13.335 kilogram), dan botol kaca (3.180 kilogram).
Workshop Green Economy dan Carbon Trading
Selain aksi nyata di lapangan, Jakpro juga menunjukkan komitmennya melalui edukasi dan peningkatan pemahaman. Mereka menyelenggarakan workshop bertema "Green Economy dan Carbon Trading: Langkah Strategis Menuju Jakarta Berkelanjutan." Workshop ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman dan sinergi dalam penerapan prinsip ekonomi hijau.
Kegiatan ini sejalan dengan target Enhanced Nationally Determined Contributions (ENDC) Zero Net Emission pada tahun 2060, dengan target khusus Jakarta di tahun 2050. Workshop ini menjadi bagian dari upaya Jakpro dalam memperkuat komitmen terhadap pencapaian target pengurangan emisi dan keberlanjutan di masa depan. Melalui kolaborasi dan edukasi, Jakpro berharap dapat mendorong perubahan yang lebih besar dalam upaya menuju Jakarta yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Dengan berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan, Jakpro menunjukkan komitmen yang kuat dalam mewujudkan visi Jakarta sebagai kota hijau dan berkelanjutan. Partisipasi aktif dari berbagai pihak sangat penting untuk mencapai target emisi nol pada tahun 2050.