Waspada! Tujuh Kasus Leptospirosis Ditemukan di Tangerang, Jaga Kebersihan Lingkungan!
Dinas Kesehatan Kota Tangerang menemukan tujuh kasus suspek leptospirosis atau penyakit akibat bakteri dari kencing tikus di tiga kecamatan; masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan.
Kota Tangerang, Banten dihebohkan dengan temuan tujuh kasus suspek leptospirosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang umumnya berasal dari urine tikus. Kasus ini ditemukan di tiga kecamatan, yaitu Batuceper, Jatiuwung, dan Neglasari. Penemuan ini diumumkan pada Jumat, 28 Februari 2024 oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni. Tujuh pasien suspek leptospirosis tersebut saat ini tengah menjalani penanganan medis sesuai prosedur di puskesmas setempat.
Menurut dr. Dini, penanganan kasus ini melibatkan tim medis yang terdiri dari dokter, perawat, dan analis kesehatan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan seluruh warga Kota Tangerang terhadap penyakit ini, mengingat penularannya melalui kontak dengan urine tikus. "Melalui puskesmas setempat juga telah dilakukan screening kasus leptospirosis yang melibatkan dokter, perawat, dan analis kesehatan," kata dr. Dini dalam keterangannya.
Dr. Dini juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, baik di dalam rumah maupun di sekitar tempat tinggal. Kebersihan lingkungan yang optimal merupakan kunci utama pencegahan leptospirosis. "Penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira ini dapat menyerang siapa saja yang terpapar urine atau darah hewan terinfeksi, salah satunya adalah tikus. Kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan upaya untuk mengurangi risiko penyakit leptospirosis ini," ujarnya.
Waspada Penularan Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui urine tikus yang terinfeksi. Bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui invasi mukosa atau kulit yang tidak utuh. Kontak langsung dengan urine tikus atau kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi bakteri Leptospira juga dapat menyebabkan infeksi. Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia, dengan perkiraan kejadian tahunan mencapai 1,03 juta kasus dan 58.900 kematian. Negara-negara dengan iklim tropis dan subtropis, terutama negara kepulauan dengan curah hujan dan potensi banjir tinggi, memiliki insiden leptospirosis yang lebih tinggi.
Gejala leptospirosis pada manusia seringkali mirip dengan penyakit demam akut lainnya, seperti demam tifoid, demam berdarah dengue, dan malaria. Oleh karena itu, diagnosis dini sangat penting. Jika tidak segera diobati, leptospirosis dapat menyebabkan gejala berat dan gagal organ. Penting untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis.
Pemerintah Kota Tangerang telah menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk menangani kasus leptospirosis. Terdapat 39 puskesmas di Kota Tangerang yang dilengkapi dengan tenaga kesehatan dan fasilitas yang terlatih dalam menangani penyakit ini. "Dengan itu, masyarakat Kota Tangerang tak perlu ragu melakukan pemeriksaan jika gejala mulai terasa. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat tertangani dan risiko terparah dapat diminimalisir dengan maksimal," jelas dr. Dini.
Langkah Pencegahan Leptospirosis
Untuk mencegah penyebaran leptospirosis, masyarakat diimbau untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pembersihan rutin, pengelolaan sampah yang baik, dan menghindari kontak langsung dengan air yang tergenang atau tercemar sangat penting. Selain itu, penting juga untuk melindungi kulit dari luka dan segera membersihkan luka jika terjadi.
Masyarakat juga dianjurkan untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara konsisten. Hal ini mencakup mencuci tangan secara teratur, mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan diri. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan ini, risiko terkena leptospirosis dapat diminimalisir.
Pemerintah Kota Tangerang terus berupaya untuk mengendalikan penyebaran leptospirosis melalui berbagai program kesehatan masyarakat. Selain penanganan medis, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pencegahan leptospirosis juga terus dilakukan. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit ini.
Sebagai penutup, kewaspadaan dan tindakan pencegahan yang proaktif sangat penting dalam menghadapi ancaman leptospirosis. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan PHBS, kita dapat melindungi diri dan keluarga dari penyakit yang mematikan ini.