Baznas Kembali Gelar Pesantren Jalan Cahaya untuk Disabilitas Rungu: Menebar Ilmu dan Menyinarkan Hati
Baznas kembali menyelenggarakan Program Pesantren Jalan Cahaya, memberikan pendidikan agama inklusif bagi 1.500 penyandang disabilitas rungu wicara di Jabodetabek, dengan fokus pada akhlak, fikih, dan Al-Quran isyarat.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan akses pendidikan agama yang inklusif. Program Pesantren Jalan Cahaya, yang diselenggarakan pada Maret 2024, memberikan kesempatan bagi 1.500 penyandang disabilitas sensorik rungu wicara di Jabodetabek untuk memperdalam pemahaman agama Islam. Program ini menjawab pertanyaan Apa yang dilakukan Baznas (memberikan pendidikan agama inklusif), Siapa yang terlibat (Baznas, 1500 penyandang disabilitas rungu, MTTI), Di mana (Jabodetabek), Kapan (Maret 2024), Mengapa (untuk memberikan akses pendidikan agama bagi penyandang disabilitas), dan Bagaimana (dengan pembelajaran akhlak, fikih, dan Al-Quran isyarat).
Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen Baznas dalam memberdayakan komunitas disabilitas. Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, menjelaskan bahwa program ini difokuskan pada pembelajaran akhlak, fikih, dan Al-Quran isyarat. Hal ini bertujuan untuk memberikan akses yang mudah dan efektif bagi penyandang disabilitas rungu wicara dalam memperdalam ilmu agama. "Dalam kegiatan ini para peserta diberikan pembelajaran mengenai akhlak, fikih, serta pembelajaran Al Quran isyarat. Hal ini menjadi fokus Baznas dalam memberdayakan komunitas disabilitas agar dapat memperdalam ilmu agama dengan mudah dan efektif," ujar Saidah Sakwan.
Pesantren Jalan Cahaya bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga jembatan menuju pemahaman agama yang lebih komprehensif bagi penyandang disabilitas tuli. Saidah menambahkan, "Kami berharap ke depannya program ini dapat memperdalam spiritualitas bagi para peserta, serta dapat menciptakan lingkungan keagamaan yang ramah bagi semua kalangan." Program ini juga menekankan pentingnya inklusi sosial dan kesetaraan akses dalam beribadah dan belajar agama.
Pendidikan Inklusif untuk Disabilitas Rungu
Program Pesantren Jalan Cahaya dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus penyandang disabilitas rungu wicara. Kurikulumnya disesuaikan agar mudah dipahami dan diakses oleh para peserta. Metode pembelajaran yang digunakan menekankan pada interaksi dan pemahaman yang efektif. Selain materi keagamaan, program ini juga memberikan dukungan tambahan untuk meningkatkan kualitas hidup para peserta.
Kerja sama dengan Majelis Ta’lim Tuli Indonesia (MTTI) memperkuat aspek edukatif dan kultural program ini. MTTI memberikan kontribusi penting dalam memastikan metode pembelajaran yang tepat dan relevan dengan kebutuhan para peserta. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam menciptakan akses pendidikan yang setara bagi semua.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Baznas juga memberikan bantuan berupa 100 paket Ramadhan. Bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi para peserta dan keluarga mereka, sekaligus sebagai bentuk kepedulian sosial yang menyentuh aspek kesejahteraan mereka.
Mewujudkan Akses Pendidikan Agama yang Inklusif
Program Pesantren Jalan Cahaya merupakan bagian dari upaya Baznas dalam memastikan setiap individu, tanpa terkecuali, dapat merasakan manfaat zakat dan mendapatkan akses terhadap pendidikan agama. Dengan mengusung tema 'Menyinarkan Hati dan Menebar Ilmu', program ini bertujuan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas sensorik untuk terlibat aktif dalam kehidupan keagamaan.
Saidah Sakwan menegaskan kembali komitmen Baznas, "Baznas percaya betul, setiap insan berhak mendapatkan akses terhadap ilmu agama, termasuk mereka yang keterbatasan fisik. Baznas akan terus perkuat langkah untuk menjadikan program ini sebagai dakwah yang memiliki peran untuk saudara-saudara tuli." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kesetaraan akses dan inklusi dalam konteks keagamaan.
Program ini juga diharapkan dapat menciptakan lingkungan keagamaan yang lebih ramah dan inklusif, di mana semua individu dapat berpartisipasi dan berkontribusi tanpa hambatan. Dengan demikian, Pesantren Jalan Cahaya tidak hanya memberikan pendidikan agama, tetapi juga memupuk rasa kebersamaan dan saling mendukung dalam komunitas.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menginspirasi lembaga-lembaga lain untuk menciptakan program serupa dan meningkatkan akses pendidikan agama bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana zakat dapat digunakan untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya kelompok rentan.