Mushaf Al-Qur'an Isyarat: Cahaya Zakat Menembus Sunyi Teman Tuli
Mushaf Al-Qur'an Isyarat, sebuah terobosan bagi penyandang tuli di Indonesia, kini diakses lebih luas berkat kolaborasi Baznas dan berbagai pihak dalam menyalurkan zakat.

Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Mushaf Al-Qur'an Isyarat, sebuah Al-Qur'an dalam bahasa isyarat, diluncurkan di Indonesia pada 30 Desember 2022 oleh LPMQ Kemenag RI. Inisiatif ini menjawab kebutuhan penyandang tuli untuk mengakses kitab suci. Hal ini didorong oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan upaya Baznas untuk menjangkau komunitas ini melalui program zakat. Mushaf ini penting karena memungkinkan penyandang tuli untuk memahami dan menghayati Al-Qur'an dengan cara mereka sendiri, mengatasi hambatan komunikasi yang selama ini mereka hadapi.
Gagasan Mushaf Al-Qur'an Isyarat muncul sejak tahun 2008 dari Ida Zulfiya, seorang penashih Al-Qur'an. Ia tergerak oleh stigma negatif yang sering dialamatkan kepada penyandang tuli. Mushaf ini bukan hanya soal aksesibilitas, melainkan juga tentang kesetaraan dan pengakuan akan martabat setiap individu sebagai makhluk terbaik ciptaan Tuhan.
Tantangan terbesar dalam penyebaran Mushaf Al-Qur'an Isyarat adalah stigma sosial terhadap penyandang tuli. Namun, dengan dukungan pemerintah dan lembaga filantropi seperti Baznas, Al-Qur'an dalam bahasa isyarat akhirnya menjadi kenyataan, memberikan kesempatan bagi penyandang tuli untuk mengakses dan memahami firman Tuhan.
Jalan Berliku Menuju Akses Al-Qur'an bagi Penyandang Tuli
Perjalanan mewujudkan Mushaf Al-Qur'an Isyarat penuh tantangan. Stigma masyarakat terhadap penyandang tuli menjadi hambatan utama. Banyak yang beranggapan bahwa penyandang tuli tidak perlu mendapatkan pendidikan agama. Namun, Ida Zulfiya, salah satu penggagas, memiliki perspektif berbeda. Ia menekankan bahwa penyandang tuli adalah "insan fi ahsani taqwiim", makhluk terbaik ciptaan Allah dengan kemampuan berbeda.
Ida menjelaskan bahwa komunikasi tidak selalu melalui pendengaran dan ucapan. Penyandang tuli berkomunikasi dan memahami melalui bahasa isyarat. Mereka mendengar dengan cara mereka sendiri. Masyarakat perlu diajak untuk melihat dengan hati, agar tidak ada lagi stigma yang menghambat akses mereka terhadap ilmu dan iman.
Meskipun Mushaf Al-Qur'an Braille telah ada sejak tahun 1970-an, Al-Qur'an dalam bahasa isyarat baru terwujud pada tahun 2022. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menjadi landasan hukum yang mendorong terwujudnya Mushaf Al-Qur'an Isyarat. Proses pembuatannya melibatkan para ahli Al-Qur'an, ahli linguistik, dan akademisi di bidang tunarungu.
Mushaf Al-Qur'an Isyarat menggunakan isyarat abjad Arab sebagai standar. LPMQ Kemenag RI juga menerbitkan pedoman penggunaannya. Contohnya, huruf 'Alif' diisyaratkan dengan telapak tangan menghadap kiri, jari-jari menggenggam kecuali ibu jari yang lurus menunjuk ke atas. Huruf 'Ba' diisyaratkan dengan telapak tangan menghadap luar, jari-jari menggenggam kecuali telunjuk yang lurus menunjuk ke atas.
Cahaya Zakat: Menjangkau Lebih Banyak Teman Tuli
Zakat berperan penting dalam memperluas akses Mushaf Al-Qur'an Isyarat. Baznas, sejak awal 2024, berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk melatih guru pengajar Mushaf Al-Qur'an Isyarat. Pada Ramadhan 1446 H, ditargetkan 1.200 guru telah dilatih untuk menyebarkan pemahaman Al-Qur'an kepada penyandang tuli.
Program ini bagian dari Gerakan Cinta Disabilitas Baznas RI. Zakat menjadi jembatan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan, menegaskan inklusivitas dan kesetaraan dalam akses terhadap ilmu agama. Setiap gerakan tangan yang mengajarkan Al-Qur'an merupakan wujud kasih sayang dan kepedulian.
Zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga jalan menuju keberkahan. Ia menghubungkan langit dan bumi, membawa kelegaan bagi penerima dan keberkahan bagi pemberi. Zakat menyinari kehidupan kaum lemah dan mengangkat derajat yang terpuruk. Dalam konteks Mushaf Al-Qur'an Isyarat, zakat menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju pemahaman Al-Qur'an bagi penyandang tuli.
Kolaborasi Baznas dan berbagai pihak dalam menyebarkan Mushaf Al-Qur'an Isyarat menunjukkan bahwa kebaikan yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Zakat menjadi jembatan, dan Mushaf Al-Qur'an Isyarat menjadi pintu terbuka bagi penyandang tuli untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dakwah ini menegaskan bahwa Islam untuk semua, tanpa terkecuali.