Cheng Beng di Belitung: Penghormatan Leluhur dan Semarak Perekonomian
Tradisi Cheng Beng di Belitung, yang berlangsung hingga 4 April, bukan hanya bentuk penghormatan leluhur bagi warga Tionghoa, tetapi juga berdampak positif bagi perekonomian dan pariwisata lokal.

Apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana tradisi Cheng Beng dirayakan di Belitung? Tradisi sembahyang kubur atau Cheng Beng, yang dirayakan oleh warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, merupakan bentuk penghormatan mendalam kepada para leluhur. Perayaan ini berlangsung dari 1 Maret hingga 4 April, dengan puncak kegiatan berupa persembahyangan di makam-makam leluhur.
Ayie Gardiansyah, tokoh masyarakat Tionghoa Belitung, menjelaskan bahwa Cheng Beng merupakan wujud rasa terima kasih dan penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Kegiatan ini melibatkan seluruh keluarga, dan banyak warga Tionghoa yang berada di luar daerah bahkan luar negeri pulang kampung untuk berpartisipasi dalam perayaan ini.
Perayaan Cheng Beng di Belitung tak hanya bermakna spiritual, tetapi juga memiliki dampak ekonomi dan pariwisata yang signifikan. Ribuan makam di kompleks pemakaman Tionghoa di Desa Dukong menjadi pusat perayaan, menarik banyak pengunjung dan menghidupkan perekonomian sekitar.
Makna Spiritual Cheng Beng di Belitung
Perayaan Cheng Beng di Belitung dimulai sejak pukul 05.00 WIB hingga matahari terbit. Warga Tionghoa membawa berbagai sesaji untuk dihaturkan kepada leluhur mereka. Mereka berdoa dan mengenang jasa-jasa para leluhur yang telah membina keluarga dan masyarakat. "Sembahyang kubur ini merupakan bentuk ucapan terima kasih sekaligus sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur yang telah berpulang," ujar Ayie Gardiansyah.
Kegiatan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga menjadi momen berkumpulnya keluarga besar. Generasi muda diajarkan untuk menghormati dan menghargai leluhur mereka, melestarikan nilai-nilai budaya Tionghoa yang telah turun-temurun.
Banyak warga keturunan Tionghoa yang tinggal di luar Belitung, bahkan di luar negeri, rela pulang kampung untuk mengikuti perayaan Cheng Beng. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi mereka, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada leluhur.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Selain aspek spiritual, Cheng Beng juga memberikan dampak positif bagi perekonomian dan pariwisata Belitung. Kompleks pemakaman Tionghoa di Desa Dukong, yang memiliki sekitar 5.000 makam, menjadi ramai dikunjungi selama periode perayaan. Hal ini meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi, seperti penjualan makanan, minuman, dan berbagai perlengkapan sembahyang.
Kepulangan warga Tionghoa dari berbagai daerah bahkan mancanegara juga turut berkontribusi pada peningkatan sektor pariwisata. Mereka tidak hanya mengunjungi makam leluhur, tetapi juga berwisata di tempat-tempat lain di Belitung. "Kami berharap perayaan Cheng Beng ini dapat membangkitkan perekonomian masyarakat dan pariwisata Belitung," harap Ayie Gardiansyah.
Perayaan Cheng Beng di Belitung menjadi contoh bagaimana sebuah tradisi dapat dijaga kelestariannya sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Tradisi ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga menjadi perekat sosial dan penggerak ekonomi lokal.
Dengan demikian, Cheng Beng di Belitung bukan hanya semata-mata perayaan penghormatan leluhur, tetapi juga sebuah peristiwa yang kaya akan makna budaya, ekonomi, dan pariwisata. Tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan dan menjadi daya tarik bagi pengembangan pariwisata Belitung.