Ekspor Nontradisional: Strategi Mitigasi Dampak Kenaikan Tarif Impor AS
Direktur Program Indef, Eisha Maghfiruha Rachbini, menyoroti pentingnya perluasan pasar ekspor nontradisional untuk mengurangi dampak negatif kenaikan tarif impor AS terhadap produk-produk Indonesia.

Jakarta, 3 April 2024 - Kenaikan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah produk Indonesia telah memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap kinerja ekspor nasional. Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eisha Maghfiruha Rachbini, menekankan perlunya strategi mitigasi yang efektif, salah satunya dengan mengeksplorasi pasar ekspor nontradisional.
Keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan kenaikan tarif impor hingga 32 persen terhadap komoditas dari 60 negara, termasuk Indonesia, telah menimbulkan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Indonesia, yang selama ini memiliki pangsa pasar ekspor ke AS sebesar 10,3 persen (kedua terbesar setelah China), berpotensi mengalami penurunan ekspor yang signifikan. Komoditas yang terdampak meliputi tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, minyak kelapa sawit, karet, dan produk perikanan.
"Pemerintah perlu menginisiasi perjanjian kerja sama dengan negara nontradisional untuk mendorong ekspor produk terdampak," ujar Eisha Maghfiruha Rachbini dalam keterangannya di Jakarta. Negara-negara tujuan ekspor nontradisional ini mencakup negara-negara Timur Tengah dan Afrika yang selama ini belum menjadi pasar utama produk Indonesia, atau memiliki volume ekspor yang masih relatif kecil.
Eksplorasi Pasar Baru dan Penguatan Kerja Sama Ekonomi
Eisha menyarankan pemerintah untuk aktif memperluas dan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara tujuan ekspor nontradisional. Hal ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan diversifikasi pasar ekspor Indonesia. Langkah ini perlu dibarengi dengan optimalisasi perjanjian dagang bilateral dan multilateral yang telah ada, serta percepatan negosiasi dan penyusunan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Selain itu, investasi dalam kemajuan teknologi dan inovasi juga menjadi kunci. Peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar global membutuhkan peningkatan kualitas produk dan efisiensi produksi. Peningkatan keterampilan tenaga kerja juga menjadi faktor penting untuk mendukung daya saing tersebut. "Investasi dalam kemajuan teknologi dan inovasi, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja juga diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, sebagai upaya dalam jangka panjang," tambah Eisha.
Presiden Prabowo Subianto telah merespon kebijakan AS tersebut dengan tiga langkah strategis: memperluas mitra dagang Indonesia, mempercepat hilirisasi sumber daya alam, dan memperkuat resiliensi konsumsi dalam negeri. Ketiga langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif kenaikan tarif impor AS dan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Antisipasi Dampak Jangka Panjang
Kenaikan tarif impor AS berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah perlu memiliki strategi yang komprehensif dan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan ini. Diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk, dan pengembangan sumber daya manusia merupakan langkah-langkah penting yang harus diprioritaskan.
Pemerintah juga perlu terus memantau perkembangan situasi dan beradaptasi dengan perubahan kebijakan global. Kerjasama yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi sangat penting untuk merumuskan strategi yang tepat dan efektif dalam menghadapi tantangan global ini. Hal ini akan memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian pasar internasional.
Langkah-langkah konkret yang perlu diambil pemerintah antara lain:
- Meningkatkan promosi produk Indonesia di pasar nontradisional.
- Memberikan insentif bagi pelaku usaha yang mengekspor ke pasar nontradisional.
- Memperkuat kerjasama dengan negara-negara tujuan ekspor nontradisional dalam berbagai bidang.
- Meningkatkan kualitas dan daya saing produk Indonesia.
- Meningkatkan keterampilan tenaga kerja Indonesia.
Dengan strategi yang tepat dan komprehensif, Indonesia diharapkan mampu meminimalisir dampak negatif kenaikan tarif impor AS dan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.