Inflasi Indonesia Diprediksi Naik di Akhir 2025, Capai 2,33 Persen
Kepala Ekonom Bank Permata memproyeksikan inflasi Indonesia akan meningkat menjadi 2,33 persen pada akhir 2025, didorong berakhirnya diskon tarif listrik dan peningkatan permintaan domestik.

Jakarta, 3 Maret 2025 - Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2025, yang pertama kali terjadi sejak Maret 2000. Namun, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan peningkatan inflasi hingga 2,33 persen pada akhir 2025. Kenaikan ini diprediksi karena berakhirnya diskon tarif listrik pemerintah dan peningkatan permintaan domestik, serta depresiasi nilai tukar rupiah.
Deflasi sebesar 0,09 persen secara tahunan (yoy) di bulan Februari 2025, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sebagian besar disebabkan oleh diskon tarif listrik. Diskon ini memberikan kontribusi deflasi sebesar 1,47 persen pada Januari dan 0,67 persen pada Februari. Josua menjelaskan, "Karena pemerintah telah membatasi diskon tarif listrik untuk periode dua bulan, kami terus memperkirakan inflasi akan tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 - 3,5 persen pada akhir 2025, kecuali jika kebijakan tersebut diperpanjang untuk seluruh tahun."
Data BPS menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara year-to-date (ytd) hingga Februari mencatat deflasi sebesar 1,24 persen. Tanpa diskon listrik, inflasi ytd seharusnya mencapai 0,9 persen. Berakhirnya diskon ini berpotensi menyebabkan kenaikan inflasi sebesar 2,14 persen. Selain itu, pemulihan permintaan domestik dan depresiasi rupiah juga akan memberikan tekanan inflasi melalui peningkatan harga impor.
Faktor-faktor Pendorong Inflasi
Josua menambahkan, "Di luar faktor yang didorong oleh kebijakan, kami mengantisipasi tekanan inflasi yang berasal dari pemulihan permintaan konsumen yang sedang berlangsung, yang dapat berkontribusi pada inflasi sisi permintaan yang moderat. Selain itu, depresiasi rupiah diperkirakan akan mendorong terjadinya imported inflation, yang akan menambah tekanan harga secara keseluruhan."
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengonfirmasi bahwa deflasi sebagian besar dipengaruhi oleh diskon tarif listrik 50 persen untuk pelanggan PLN dengan daya 2.200 VA atau lebih rendah. Komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami deflasi 9,02 persen (yoy), berkontribusi pada deflasi sebesar 1,77 persen (yoy).
Meskipun demikian, inflasi inti (core inflation) naik menjadi 2,48 persen (yoy) dan inflasi harga bergejolak mencapai 0,56 persen (yoy). Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai rawit, bawang putih, dan ikan segar, berkontribusi pada inflasi tahunan.
Amalia menjelaskan, "Biasanya daya beli itu dikaitkannya dengan komponen inti. Komponen inti ini memberikan andil inflasi terbesar dengan andil (kontribusi) terhadap (nilai) inflasi (tahunan) sebesar 1,58 persen." Komoditas seperti cabai rawit, bawang putih, kangkung, bawang merah, ikan segar, minyak goreng, kopi bubuk, dan rokok juga mengalami inflasi.
Analisis Data Inflasi
Data BPS menunjukkan deflasi bulanan (mtm) sebesar 0,48 persen pada Februari 2025, dengan IHK turun dari 105,99 pada Januari menjadi 105,48. Secara tahunan (yoy), terjadi deflasi 0,09 persen, dan secara year-to-date (ytd), deflasi mencapai 1,24 persen.
Meskipun terjadi deflasi pada bulan Februari, proyeksi inflasi yang lebih tinggi di akhir tahun 2025 tetap menjadi perhatian. Faktor-faktor seperti berakhirnya subsidi listrik, peningkatan permintaan domestik dan dampak depresiasi rupiah perlu diwaspadai untuk mengendalikan laju inflasi di masa mendatang. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menyiapkan strategi untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga ini dan menjaga stabilitas ekonomi.
Kesimpulannya, meskipun Indonesia mengalami deflasi di awal tahun 2025, proyeksi inflasi yang lebih tinggi di akhir tahun 2025 tetap menjadi perhatian utama. Hal ini menuntut antisipasi dan strategi yang tepat dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.