Jalur Silayur Semarang Darurat Kecelakaan, DPRD Desak Pemkot Lakukan Kajian Menyeluruh
DPRD Kota Semarang mendesak Pemkot segera melakukan kajian menyeluruh terhadap jalur Silayur, Ngaliyan, yang rawan kecelakaan, terutama dengan adanya pembangunan exit tol Ngaliyan.

Kecelakaan lalu lintas di jalur Silayur, Ngaliyan, Semarang, kembali menjadi sorotan setelah kecelakaan beruntun yang melibatkan rombongan Taman Kanak-Kanak (TK) dan sebuah truk terjadi pada Rabu, 26 Februari 2024. Kejadian ini menambah panjang daftar kecelakaan maut di jalur tersebut dalam lima tahun terakhir. Akibatnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk segera melakukan kajian menyeluruh guna mengantisipasi kecelakaan yang kerap terjadi di jalur yang memiliki kontur jalan tanjakan dan turunan curam tersebut.
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, M. Rukiyanto AB, menyatakan keprihatinannya atas kondisi jalur Silayur yang dinilai sudah darurat dan membutuhkan penanganan segera. "Kami melihat jalur Silayur ini sudah darurat ya. Harus segera ditangani. Kenapa? Karena potensi terjadinya kecelakaan begitu tinggi," tegas Rukiyanto dalam keterangannya di Semarang, Sabtu (1/3).
Rukiyanto menambahkan, kontur jalan dari arah Jrakah menuju Mijen yang melewati jalur Silayur sangat curam, baik saat menanjak maupun menurun. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama bagi kendaraan yang tidak dalam kondisi prima. Ia bahkan membandingkan jalur Silayur dengan jalur Hanoman yang juga dikenal rawan kecelakaan, menyebutnya sebagai 'jalur Hanoman jilid 2'.
Kajian Menyeluruh dan Solusi Jangka Panjang
Rukiyanto menekankan pentingnya kajian yang menyeluruh dan tidak parsial terhadap jalur Silayur. Menurutnya, pelandaian jalur tersebut sulit dilakukan mengingat kontur jalan yang sangat curam. "Kalau dibuat pelandaian jalur Silayur, saya kira sulit juga ya karena jalurnya kan memang naik terus, curam. Mau dilandaikan bagaimana, tetap curam. Kajiannya harus menyeluruh," jelasnya.
Keberadaan kawasan industri Bukit Semarang Baru (BSB) di Mijen yang menyebabkan lalu lintas kendaraan besar cukup padat di jalur Silayur juga menjadi perhatian. Meskipun sudah ada aturan yang membatasi operasional kendaraan besar di jalur tersebut hanya pada malam hari, kecelakaan fatal masih sering terjadi. Situasi ini diperparah dengan rencana pembangunan 'exit tol' Ngaliyan yang akan semakin meningkatkan kepadatan lalu lintas di area tersebut.
Sebagai solusi jangka panjang, Rukiyanto berharap Pemkot Semarang dapat merealisasikan pembangunan jalur Semarang Outer Ring Road (SORR) dari BSB menuju Mangkang. Pembangunan SORR diharapkan dapat mengurangi beban lalu lintas di jalur Silayur dan meminimalisir kecelakaan. "Kami berharap Pemkot Semarang bisa merancang kembali jalur SORR yang mungkin bisa jadi salah satu pertimbangan dalam kajian nanti. Yang jelas, kajian ini mendesak," tandasnya.
Opsi Penanganan dari Pemkot Semarang
Sebelumnya, Pemkot Semarang telah menyiapkan tiga opsi untuk mengatasi masalah kecelakaan di jalur Silayur, salah satunya adalah melandaikan jalur tersebut. Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menyatakan bahwa perencanaan pelandaian jalur Silayur sebagai solusi jangka panjang sudah harus dilakukan tahun ini. Pemkot akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), dan pemangku kepentingan terkait untuk membahas opsi-opsi tersebut.
Pemkot Semarang menyadari pentingnya penanganan segera terhadap masalah ini. Kajian menyeluruh yang melibatkan berbagai aspek, termasuk kontur jalan, kepadatan lalu lintas, dan rencana pembangunan infrastruktur di sekitarnya, sangat diperlukan untuk menemukan solusi yang tepat dan efektif dalam mengurangi angka kecelakaan di jalur Silayur.
Dengan adanya desakan dari DPRD dan rencana aksi dari Pemkot Semarang, diharapkan jalur Silayur dapat segera ditangani untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih lanjut. Keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama dalam setiap perencanaan dan pembangunan infrastruktur.