Kementan Dorong Optimalisasi Lahan Rawa di Penajam Paser Utara untuk Penuhi Kebutuhan Pangan IKN
Kementerian Pertanian meminta Pemkab Penajam Paser Utara optimalkan lahan rawa menjadi sawah guna mendukung ketahanan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong Kabupaten Penajam Paser Utara untuk mengoptimalkan lahan rawa sebagai persawahan guna memenuhi kebutuhan pangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah ini dinilai krusial mengingat pembangunan IKN berada di sebagian wilayah Kalimantan Timur. Inisiatif ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara, Andi Trasodiharto, pada Selasa lalu.
Menurut Andi Trasodiharto, optimalisasi lahan rawa ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas padi di Kabupaten Penajam Paser Utara. Peningkatan produksi padi sangat dibutuhkan untuk menjamin ketahanan pangan IKN. Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara telah berkolaborasi dengan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda untuk merancang strategi optimalisasi lahan rawa ini secara terencana dan terukur.
Kerja sama dengan Unmul mencakup berbagai aspek, mulai dari identifikasi potensi lahan hingga perencanaan infrastruktur pendukung pertanian, seperti saluran irigasi, pintu air, dan fasilitas pertanian lainnya yang dibutuhkan petani. Andi Trasodiharto menambahkan bahwa lahan rawa yang berpotensi untuk dioptimalkan tersebar cukup luas, terutama di Kecamatan Babulu.
Optimalisasi Lahan Rawa di Penajam Paser Utara
Potensi lahan rawa yang dapat dialihfungsikan menjadi persawahan cukup signifikan. Data sementara menunjukkan bahwa sekitar 10 desa di Kecamatan Babulu memiliki lahan rawa yang cocok untuk pengembangan persawahan. Selain itu, tiga desa/kelurahan di Kecamatan Waru dan dua desa/kelurahan di Kecamatan Penajam juga memiliki potensi yang sama. Saat ini, proses pendataan dan identifikasi lahan rawa tersebut masih berlangsung.
Kementan menargetkan optimalisasi lahan rawa seluas 5.896 hektare di Kabupaten Penajam Paser Utara. Andi Trasodiharto optimistis target tersebut dapat tercapai, mengingat potensi lahan rawa yang cukup besar. Ia yakin optimalisasi lahan rawa akan secara signifikan meningkatkan produksi beras di daerah tersebut.
Saat ini, lahan pertanian padi produktif di Kabupaten Penajam Paser Utara mencapai 14.070 hektare dengan produktivitas 3-4 ton per hektare per panen. Petani setempat biasanya melakukan dua kali panen dalam setahun. Kabupaten ini bahkan surplus beras setiap tahunnya, dengan produksi padi mencapai 50.672 ton pada tahun 2024. Dengan adanya penambahan lahan persawahan dari optimalisasi lahan rawa, produksi beras diprediksi akan meningkat lebih pesat lagi.
Dukungan Infrastruktur dan Teknologi
Suksesnya program optimalisasi lahan rawa ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur dan teknologi pertanian yang memadai. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Unmul sangat penting untuk memastikan perencanaan yang matang dan terintegrasi. Aspek-aspek seperti sistem irigasi yang efisien, pengelolaan air yang tepat, serta penyediaan bibit unggul perlu dipertimbangkan secara cermat.
Selain itu, dukungan dari pemerintah pusat dan daerah juga sangat krusial. Pembiayaan, pelatihan petani, dan akses terhadap teknologi pertanian modern akan menjadi faktor penentu keberhasilan program ini. Dengan dukungan yang komprehensif, optimalisasi lahan rawa di Penajam Paser Utara dapat berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan IKN dan kesejahteraan petani setempat.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi beras, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Dengan demikian, optimalisasi lahan rawa ini bukan hanya sekadar program pertanian, tetapi juga program pembangunan berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Keberhasilan program ini akan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengoptimalkan lahan rawa untuk meningkatkan produksi pangan dan mendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia.