Lebaran di Negeri Sakura: Diaspora Muslim Indonesia Rayakan Idul Fitri di Kochi, Jepang
Ratusan diaspora Muslim Indonesia di Kochi, Jepang, merayakan Idul Fitri 1446 H dengan khidmat, membangun persaudaraan dan jembatan pemahaman antara Islam dan budaya Jepang.

Makassar, 02 April 2025 (ANTARA) - Jauh dari tanah air, ratusan diaspora Muslim Indonesia di Prefektur Kochi, Jepang, tetap merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah tahun 2025 dengan khidmat. Perayaan ini menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dan ketahanan identitas keislaman di tengah masyarakat Jepang.
Ketua Kochi Muslim Family, Muh Agra Rully Putra, mengungkapkan harapannya agar komunitas Muslim di Kochi semakin berkembang dan dikenal luas oleh masyarakat Jepang. "Kami di sini ingin lebih banyak orang memahami Islam adalah agama yang damai, penuh kasih sayang, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan," ujarnya dalam siaran pers, Rabu.
Perayaan Idul Fitri tahun ini di Kochi memberikan kesan mendalam bagi para diaspora. Meskipun berada jauh dari keluarga dan lingkungan yang familiar, mereka berhasil menciptakan suasana penuh kebersamaan dan makna spiritual, sekaligus menjadi bukti nyata komitmen dalam memperkenalkan Islam secara positif kepada masyarakat Jepang.
Sholat Id dan Makna Kebersamaan
Puncak perayaan Idul Fitri di Kochi adalah pelaksanaan sholat Id di Masjid Al-Fatih. Sekitar 400 jamaah, terdiri dari keluarga, pelajar, mahasiswa, dan pekerja asal Indonesia, hadir dengan pakaian terbaik mereka. Suasana khidmat tercipta dengan lantunan takbir yang menggema, seolah menjawab kerinduan akan kampung halaman.
Ustadz Uwais El Marosy, imam sekaligus penceramah, memberikan khutbah yang menggugah. Beliau mengingatkan bahwa makna Idul Fitri tetap sama, yaitu sebagai hari kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu selama Ramadhan. "Hari ini kita merayakan kemenangan bukan hanya atas sebulan penuh berpuasa, tetapi juga atas perjuangan kita sebagai Muslim di negeri minoritas. Kita mungkin jauh dari keluarga, tetapi kita memiliki saudara seiman yang selalu bersama. Di sinilah esensi Idul Fitri, yaitu merajut ukhuwah Islamiyah di mana pun kita berada," ucapnya.
Usai sholat Id, suasana haru menyelimuti acara halal bihalal. Pelukan dan salam hangat tertuang di antara para jamaah, menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Bagi banyak diaspora, momen ini sedikit meringankan kerinduan pada keluarga di tanah air.
Cahyono, seorang pekerja asal Indonesia yang telah dua tahun tinggal di Jepang, mengungkapkan rasa harunya. Meskipun tak bisa mudik, ia merasa menemukan keluarga baru dan tidak sendirian merayakan Lebaran di Masjid Al-Fatih.
Masjid Al-Fatih: Pusat Dakwah dan Jembatan Budaya
Masjid Al-Fatih memiliki peran penting bagi komunitas Muslim di Kochi. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat dakwah, pendidikan Islam, dan kegiatan sosial. Masjid ini juga menjadi tempat bagi mualaf Jepang yang ingin memperdalam pemahaman tentang Islam.
Pembangunan Masjid Al-Fatih bukanlah hal mudah. "Tidak mudah membangun rumah ibadah di negeri yang bukan mayoritas Muslim. Kami menghadapi berbagai tantangan, mulai dari izin hingga dukungan dana. Tetapi alhamdulillah, dengan tekad dan kebersamaan, kita bisa mewujudkan tempat ini sebagai pusat Islam di Kochi," ungkap Agra Rully Putra.
Keberadaan Masjid Al-Fatih menjadi simbol perjuangan dan pencapaian komunitas Muslim Indonesia di Kochi dalam mempertahankan identitas keislaman sekaligus menjadi jembatan penghubung antara komunitas Muslim dan masyarakat Jepang.
Komunitas Kochi Muslim Family juga berencana untuk mengadakan berbagai kegiatan keislaman, mempererat hubungan antar-muslim, dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jepang lebih luas. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui email kochimuslimfamily@gmail.com atau Instagram @kochimuslimfamily.
Perayaan Idul Fitri di Kochi menjadi bukti nyata bagaimana diaspora Muslim Indonesia mampu menjaga nilai-nilai keislaman dan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat setempat, sekaligus menjadi contoh nyata semangat persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman budaya.