Lebaran Iwwadh: Tradisi Silaturahmi Warga Keturunan Arab di Palu
Warga keturunan Arab di Palu merayakan Lebaran Iwwadh, tradisi silaturahmi dan perdamaian yang unik, dengan mengunjungi rumah-rumah dan melantunkan puji-pujian pada hari kedua Lebaran.

Palu, Sulawesi Tengah, 1 April 2025 - Warga keturunan Arab di Kota Palu, Sulawesi Tengah, merayakan Lebaran Iwwadh, atau Lebaran Arab, pada hari kedua Idul Fitri 1446 H. Perayaan tahunan ini menjadi momen penting bagi mereka untuk mempererat silaturahmi dan merajut kembali hubungan baik antar sesama. Tradisi unik ini melibatkan kunjungan dari rumah ke rumah, melantunkan puji-pujian dan shalawat, serta diakhiri dengan makan siang bersama.
Farid Djafar Nassar, salah satu warga keturunan Arab di Palu, menjelaskan bahwa tradisi Lebaran Iwwadh telah berlangsung turun-temurun. Setiap tahun, perayaan ini selalu dikemas dengan berbagai kegiatan menarik untuk memperkaya makna dan pengalaman. "Kami selalu memodifikasi acara ini setiap tahun dengan berbagai macam kegiatan, seperti hari ini kita menyiapkan makan siang dan hiburan," ujarnya.
Lebih dari sekadar kunjungan, Lebaran Iwwadh memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat keturunan Arab di Palu. Tradisi ini bukan hanya sekadar berkumpul, tetapi juga sebagai simbol perdamaian dan rekonsiliasi. Seperti yang dijelaskan Farid, Iwwadh berarti 'kembali', menyatakan niat untuk kembali menjalin hubungan baik dan saling memaafkan.
Makna Mendalam Lebaran Iwwadh
Tradisi mengunjungi rumah-rumah warga keturunan Arab menjadi inti dari perayaan Lebaran Iwwadh. Mereka berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya, melantunkan puji-pujian dan shalawat sebagai ungkapan syukur dan doa. Namun, karena jumlah rumah yang banyak, kunjungan dilakukan secara representatif, mewakili setiap keluarga.
"Karena kalau dari rumah ke rumah kita kunjungi ini terlalu banyak, jadi ini mewakili per keluarga dikunjungi," jelas Farid. Hal ini menunjukkan efisiensi dan kebersamaan dalam menjalankan tradisi.
Lebaran Iwwadh bukan hanya dirayakan oleh warga keturunan Arab di Kota Palu, tetapi juga melibatkan warga dari kabupaten-kabupaten sekitar, seperti Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong. Hal ini menunjukkan betapa luasnya jangkauan dan kuatnya ikatan persaudaraan di antara mereka.
Tidak hanya itu, tradisi ini juga bertujuan untuk menyelesaikan segala perselisihan atau hubungan yang kurang baik. "Bahwa hari ini kita menyelesaikan semua hubungan antara manusia. Maksudnya permusuhan, hubungan yang tidak baik hari ini selesai. Makanya kita juga hadirkan tausiah dari ustadz," tambah Farid.
Puncak Perayaan di Nadoli
Perayaan Lebaran Iwwadh tahun ini berakhir di Nadoli, salah satu rumah warga keturunan Arab tertua di Kota Palu. Lokasi ini memiliki nilai historis dan menjadi simbol penting dalam perayaan tersebut. Kehadiran warga sekitar juga turut memeriahkan acara ini, menunjukkan adanya integrasi sosial yang harmonis.
Antusiasme warga sekitar yang turut hadir dan menyaksikan langsung tradisi tahunan ini menunjukkan betapa Lebaran Iwwadh telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial budaya di Kota Palu. Perayaan ini bukan hanya milik warga keturunan Arab, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Sulawesi Tengah.
Lebaran Iwwadh di Palu menjadi contoh nyata bagaimana tradisi dapat menjadi perekat persatuan dan kesatuan, sekaligus menjadi media untuk membangun hubungan yang lebih baik antar sesama. Tradisi ini patut diapresiasi dan dilestarikan sebagai warisan budaya yang berharga.
Dengan berakhirnya perayaan di Nadoli, tergambarlah semangat kebersamaan dan perdamaian yang menjadi inti dari Lebaran Iwwadh. Semoga tradisi ini terus lestari dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.