NTB Gunakan Pohon Kemiri untuk Pulihkan Lahan Kritis Akibat Budi Daya Jagung
Pemerintah NTB melirik pohon kemiri sebagai solusi pemulihan lahan kritis di Pulau Sumbawa dan Lombok akibat budi daya jagung, menawarkan manfaat ekonomi dan ekologi jangka panjang bagi petani.

Mataram, 2 April 2024 - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berupaya mengatasi kerusakan lahan kritis di Pulau Sumbawa dan Lombok yang disebabkan oleh praktik budi daya jagung yang intensif. Langkah inovatif yang diambil adalah dengan memanfaatkan pohon kemiri sebagai pagar terasering untuk memulihkan lahan tersebut. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan solusi berkelanjutan bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Taufieq Hidayat, menjelaskan bahwa pemilihan pohon kemiri didasarkan pada karakteristiknya sebagai tanaman kayu keras dengan kanopi lebar. "Kemiri merupakan pohon peneduh yang ideal untuk tanaman kopi, dan kami melihat potensi besarnya untuk membantu masyarakat memulihkan lahan-lahan kritis yang dulunya ditanami jagung," ujarnya di Mataram, Rabu.
Program bantuan bibit kemiri kepada masyarakat akan dimulai tahun ini. Penanaman akan difokuskan di Pulau Sumbawa, wilayah yang mengalami kerusakan ekologi paling parah akibat perkebunan jagung. Strategi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga meningkatkan pendapatan petani.
Pohon Kemiri: Solusi Ramah Lingkungan dan Menguntungkan
Pohon kemiri menawarkan solusi yang menguntungkan secara ekonomi dan lingkungan. Taufieq menjelaskan, "Kemiri mulai berbuah pada usia lima tahun, dan pada usia 6-7 tahun, setiap pohon dapat menghasilkan 50-100 kilogram biji kemiri." Dengan kepadatan tanam 150 pohon per hektare dan harga biji kemiri kupas utuh sekitar Rp35.000 per kilogram, potensi pendapatan petani sangat menjanjikan.
Satu hektare kebun kemiri berpotensi menghasilkan omzet hingga Rp262,5 juta. Lebih lanjut, Taufieq menjelaskan bahwa jagung masih dapat ditanam bersama kemiri selama lima tahun pertama. Setelah itu, kanopi kemiri yang semakin lebar akan secara alami membatasi lahan untuk jagung.
Meskipun produksi jagung berkurang, pendapatan petani tetap terjaga karena kemiri mulai menghasilkan. "Ketika jagung berhenti berproduksi, kemiri menggantikannya, sehingga petani tetap memiliki penghasilan," kata Taufieq. Model pertanian berkelanjutan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan melindungi lingkungan.
Manfaat Beragam Pohon Kemiri
Sebuah jurnal ilmiah dari Program Studi Kehutanan Universitas Pendidikan Mandalika (2021) mengungkap beragam manfaat pohon kemiri. Tidak hanya bijinya yang bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga bagian lain dari pohon ini bermanfaat. Batang dan daunnya dapat digunakan sebagai bahan baku obat tradisional, tempurung biji untuk obat nyamuk bakar dan arang, serta bijinya untuk bumbu masakan dan kosmetik.
Potensi ekonomi kemiri juga terlihat dari ekspornya. Pada 13 Januari 2025, UMKM di Lombok Tengah berhasil mengekspor 20 ton kemiri senilai Rp790 juta ke Jeddah, Arab Saudi. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan pasar internasional terhadap produk kemiri.
Program penanaman kemiri ini diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya pemulihan lahan kritis dan peningkatan pendapatan petani. Dengan menggabungkan aspek ekonomi dan lingkungan, program ini menawarkan solusi berkelanjutan untuk pembangunan pedesaan di NTB.
Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah NTB dalam menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan memanfaatkan potensi alam secara bijak, diharapkan NTB dapat mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan sejahtera.