Pasaman Butuh Incenerator Rp2,2 Miliar untuk Atasi Sampah dan Tingkatkan PAD
Pemkab Pasaman membutuhkan incenerator senilai Rp2,2 miliar untuk mengatasi masalah sampah yang menumpuk dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Pemerintah Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, menghadapi tantangan serius dalam mengatasi tumpukan sampah rumah tangga. Setiap harinya, sekitar 60 ton sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Koto Tangah di Lubuk Sikaping. Untuk mengatasi hal ini, Kepala Bidang Kebersihan Dinas PRKP2LH Kabupaten Pasaman, Irwan Rudi, mengungkapkan perlunya solusi modern berupa incenerator.
Menurut Irwan Rudi, incenerator atau alat pembakar sampah modern sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin menggunung di Pasaman. Ia menjelaskan bahwa alat ini tidak hanya akan mengurangi volume sampah, tetapi juga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Lebih lanjut, Irwan Rudi memaparkan rencana pemanfaatan energi panas dari proses pembakaran sampah. Energi tersebut dapat dikonversi menjadi tenaga listrik, sehingga menghasilkan sumber pendapatan baru bagi Pasaman. Selain itu, abu sisa pembakaran dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan bahan bangunan, memaksimalkan nilai guna dari sampah.
Solusi Modern untuk Masalah Sampah Pasaman
Pemkab Pasaman telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,8 miliar untuk operasional pengangkutan sampah. Sebanyak 80 petugas kebersihan dikerahkan setiap hari menggunakan lima kontainer, tiga dam truk, dan 10 becak motor untuk mengangkut sampah dari berbagai kecamatan, termasuk Rao, Padang Gelugur, Panti, Bonjol, dan Lubuk Sikaping.
Namun, kapasitas TPA Koto Tangah yang terbatas membuat solusi jangka panjang diperlukan. Oleh karena itu, dibutuhkan incenerator berkapasitas tiga ton sampah dengan perkiraan biaya pengadaan sebesar Rp1,7 miliar dan biaya pembangunan tempat sekitar Rp500 juta, sehingga total biaya yang dibutuhkan mencapai Rp2,2 miliar. Dengan incenerator ini, diharapkan TPA Koto Tangah tidak akan cepat penuh.
Irwan Rudi optimistis bahwa potensi PAD yang dihasilkan dari pemanfaatan energi dan abu sisa pembakaran dapat menutupi biaya investasi incenerator. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian serius terhadap usulan ini agar masalah sampah dapat teratasi secara efektif dan berkelanjutan.
Partisipasi Masyarakat dan Edukasi
Selain pengadaan incenerator, Irwan Rudi juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah. Ia mengajak masyarakat untuk membuang sampah pada titik-titik kontainer yang telah disediakan agar proses pengangkutan lebih efisien dan lingkungan tetap terjaga.
Lebih lanjut, Pemkab Pasaman gencar melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan kembali sampah untuk meningkatkan nilai ekonomis dan penggunaan lain di lingkungan rumah tangga. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dihasilkan dan mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.
Saat ini, upaya pengangkutan sampah masih dilakukan secara konvensional dengan keterbatasan armada dan kapasitas TPA. Dengan adanya incenerator, diharapkan pengelolaan sampah di Pasaman dapat lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan, serta memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Sangat dibutuhkan satu set alat pembakar sampah modern (incenerator) untuk membakar sampah guna mengatasi tumpukan sampah rumah tangga di Pasaman," kata Irwan Rudi. "Bisa menjadi potensi PAD baru Pasaman. Kemudian abu hasil pembakaran bisa dimanfaatkan untuk pupuk dan bahan bangunan," tambahnya.