Perempuan Desa Berakit: Konservasi Mangrove dan Jalinan Ekonomi Lestari
Perjuangan perempuan Desa Berakit, Bintan, dalam menjaga kelestarian mangrove dan mengembangkan ekonomi berkelanjutan, menjadi inspirasi konservasi lingkungan.

Perjalanan menuju Desa Berakit, Bintan, Kepulauan Riau, mengungkap kisah inspiratif tentang upaya pelestarian mangrove yang digerakkan oleh perempuan setempat. Mereka, yang dulunya menggantungkan hidup pada pembuatan arang dari kayu bakau, kini bertransformasi menjadi pelopor konservasi dan mengembangkan ekonomi berkelanjutan. Kerusakan ekosistem mangrove akibat penebangan liar dan pembangunan tak terkendali telah mengancam mata pencaharian nelayan, mendorong perubahan paradigma dalam masyarakat Desa Berakit.
Artikel ini mengupas bagaimana perempuan Desa Berakit, khususnya Monika (53), seorang nelayan, merasakan dampak langsung dari kerusakan mangrove. Dahulu, penghasilan keluarganya bergantung pada pembuatan arang dari kayu bakau, namun setelah penebangan dilarang, mereka beralih profesi. Dampaknya, nelayan kesulitan mencari ikan, dan perempuan pun mengambil peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, mulai dari melaut hingga berdagang.
Perubahan signifikan terjadi berkat pendampingan Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) dan Yayasan Ecology Kepulauan Riau (YEKR). Mereka memberikan pelatihan dan edukasi, mendorong perempuan untuk terlibat aktif dalam penanaman dan perawatan mangrove. Lebih dari 50.000 bibit mangrove telah disemai dan siap ditanam, menandai langkah nyata dalam upaya restorasi ekosistem yang rusak.
Jajak Restorasi Mangrove: Peran Perempuan dalam Pelestarian
Monika menceritakan pengalamannya bekerja di dapur arang bersama anak-anaknya, menghasilkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, setelah penebangan bakau dilarang, mereka harus beradaptasi dengan tantangan baru. Kerusakan mangrove membuat nelayan kesulitan mencari ikan, memaksa beberapa keluarga untuk mencari nafkah dengan cara lain.
Peran perempuan dalam menjaga kelangsungan hidup keluarga semakin krusial. Mereka tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan ekonomi, seperti mencari teripang, berdagang, dan bahkan menjadi guru. Pendampingan dari Care Indonesia memberikan pelatihan keterampilan baru, termasuk menanam mangrove dan membatik ecoprint.
Sejak Agustus 2024, program penyemaian dan penanaman mangrove telah menghasilkan 50.000 bibit yang siap ditanam pada April 2025. Hal ini menunjukkan komitmen kuat perempuan Desa Berakit dalam upaya restorasi ekosistem.
Keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi juga semakin berkembang. Mereka dilatih untuk membuat batik ecoprint dengan pewarna alami dari batang pohon bakau, menghasilkan produk kerajinan bernilai jual tinggi yang dapat dipasarkan sebagai oleh-oleh bagi wisatawan.
Pelestarian Mangrove: Kolaborasi dan Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan
Penetapan kawasan konservasi perairan di wilayah timur Pulau Bintan semakin memperkuat gerakan pelestarian mangrove di Desa Berakit. Kolaborasi antara Yayasan Care Peduli, Yayasan Ecology, dan pemerintah desa mendorong pengembangan ekonomi berkelanjutan yang selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.
Pelatihan membatik ecoprint tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan Desa Berakit. Produk batik mereka telah dipamerkan dalam kegiatan UMKM tingkat Kabupaten Bintan, dan tengah dijajaki pemasaran ke Bali dan Singapura.
Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Tenggiri dan KUEP Melati menjadi wadah bagi perempuan untuk mengembangkan usaha batik mereka. Hal ini menunjukkan bagaimana upaya konservasi mangrove dapat diintegrasikan dengan pengembangan ekonomi lokal.
Prof. Cecep Kusmana, Guru Besar Departemen Silvikultur IPB, menekankan pentingnya mangrove dalam menjaga keutuhan NKRI, terutama di pulau-pulau terluar. Konservasi mangrove di Bintan sangat penting, baik untuk menjaga kedaulatan negara maupun menopang perekonomian masyarakat pesisir.
Mangrove Lestari: Harapan untuk Masa Depan
Berkat semangat konservasi dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, Desa Berakit memiliki potensi besar untuk menjadi pusat ekowisata. Perempuan Desa Berakit, melalui Pokmaswas Srikandi, aktif mengawasi dan memastikan kelangsungan hidup mangrove yang telah ditanam.
Pemerintah desa juga mendukung penuh perkembangan ekonomi perempuan, dengan fokus pada peningkatan perekonomian masyarakat dan keluarga. Dukungan ini sejalan dengan visi Care Indonesia dalam mengentaskan kemiskinan, mewujudkan keadilan gender, dan melindungi lingkungan.
Abdul Wahid, CEO Care Indonesia, berharap Desa Berakit dapat menjadi contoh pengembangan ekonomi wisata yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian mangrove sebagai aset utama. Upaya pelestarian mangrove di Desa Berakit menjadi bukti nyata bahwa konservasi lingkungan dapat beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.