Program Makan Bergizi Gratis di Cilincing Batal Dua Kali, Dapur Belum Siap
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di delapan sekolah Cilincing, Jakarta Utara, batal dua kali karena masalah administrasi dan kesiapan dapur yang belum terpenuhi oleh penyedia.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintahan Prabowo-Gibran di delapan sekolah Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, kembali mengalami penundaan. Pelaksanaan program yang dijadwalkan, batal dilaksanakan pada Senin (17/2) dan Senin (24/2) karena kendala kesiapan dapur yang menjadi tanggung jawab Yayasan Darul Esti Sumidah. Kegagalan ini berdampak pada 3.320 anak dari berbagai sekolah, termasuk SDN Kalibaru 01, SDN Kalibaru 03, SDN Kalibaru 09, SMP Darusaadah, SMP Islamiyah, SMK 36, SDS Pantai Indah, dan TK Pantai Indah.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalibaru, Agung Siregar, menjelaskan bahwa penundaan disebabkan oleh masalah administrasi dan kesiapan dapur yang belum terpenuhi oleh yayasan tersebut. Yayasan Darul Esti Sumidah, sebagai penyedia MBG, mengalami kendala dalam memenuhi persyaratan administrasi yang dibutuhkan. Hal ini menyebabkan program MBG tidak dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Agung Siregar menambahkan bahwa komunikasi telah terjalin antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan yayasan terkait masalah teknis administratif ini. BGN telah berupaya untuk membantu menyelesaikan permasalahan tersebut, namun prosesnya membutuhkan waktu sehingga pelaksanaan MBG harus diundur. Pihak SPPG telah menginformasikan penundaan ini kepada para orang tua siswa dan sejauh ini, informasi tersebut diterima dengan baik.
Masalah Teknis dan Administrasi Menghambat Program MBG
Masalah teknis yang dihadapi Yayasan Darul Esti Sumidah meliputi kelengkapan administrasi dan kesiapan dapur. Pada penundaan pertama tanggal 17 Februari, masalah utama terletak pada kesiapan dapur yang belum memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Sementara itu, penundaan pada tanggal 24 Februari lebih disebabkan oleh belum lengkapnya persyaratan administratif.
Agung Siregar menjelaskan bahwa keterlambatan penyelesaian administrasi oleh yayasan dan BGN menjadi penyebab utama penundaan. Ia juga menyebutkan bahwa Yayasan Darul Esti Sumidah merupakan mitra BGN yang relatif baru, sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk mempersiapkan diri dan memastikan semua persyaratan terpenuhi. Proses perbaikan dan penyelesaian administrasi ini memerlukan waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan.
Pihak yayasan telah meminta waktu tambahan untuk memperbaiki kekurangan, terutama dalam hal melengkapi fasilitas dapur agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan komitmen yayasan untuk memastikan program MBG dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang optimal bagi anak-anak sekolah.
Dampak Penundaan Program MBG terhadap Penerima Manfaat
Penundaan program MBG ini berdampak langsung pada 3.320 anak di delapan sekolah di wilayah Kalibaru Timur, Kecamatan Cilincing. Mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan makanan bergizi yang seharusnya diberikan melalui program ini. Meskipun pihak SPPG telah menyampaikan informasi penundaan kepada orang tua siswa, tetap saja penundaan ini menimbulkan kekhawatiran dan ketidakpastian.
Meskipun pihak terkait telah berupaya untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin, proses administratif yang rumit dan kesiapan infrastruktur yang belum optimal menjadi kendala utama. Kejadian ini menyoroti pentingnya perencanaan yang matang dan koordinasi yang efektif dalam pelaksanaan program pemerintah, khususnya yang menyangkut kebutuhan dasar anak-anak.
Ke depan, diharapkan agar proses seleksi dan pengawasan terhadap mitra pelaksana program pemerintah diperketat sehingga kejadian serupa dapat dihindari. Hal ini penting untuk memastikan terlaksananya program-program pemerintah secara efektif dan tepat sasaran, serta memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Meskipun terdapat kendala, komunikasi yang baik antara BGN, yayasan, dan SPPG menunjukkan upaya untuk menyelesaikan masalah. Harapannya, program MBG dapat segera terlaksana setelah semua persyaratan terpenuhi dan dapur telah siap beroperasi.