Sektor Jasa Keuangan Jateng Stabil di 2024: Pertumbuhan Positif di Tengah Likuiditas Memadai
OJK Jateng laporkan sektor jasa keuangan di Jawa Tengah stabil pada Desember 2024, ditandai dengan pertumbuhan positif di berbagai sektor dan likuiditas yang terjaga.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah mengumumkan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah tersebut pada Desember 2024 terpantau stabil. Hal ini ditopang oleh likuiditas yang memadai dan tingkat risiko yang terjaga. Laporan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala OJK Jateng, Sumarjono, di Semarang pada Selasa lalu. Pertumbuhan positif terlihat di berbagai segmen, mulai dari perbankan hingga pasar modal.
Kinerja sektor perbankan di Jawa Tengah menunjukkan tren positif. Peningkatan signifikan terlihat pada Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit. Meskipun terdapat kredit bermasalah (NPL), namun angka tersebut masih dalam batas terkendali dan telah dicadangkan dengan baik.
Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan yang tinggi terhadap sektor perbankan di Jawa Tengah, serta menandakan geliat ekonomi yang positif di wilayah tersebut. Data yang dirilis OJK Jateng memberikan gambaran yang komprehensif mengenai kesehatan sektor jasa keuangan di provinsi ini.
Kinerja Perbankan Jateng: Pertumbuhan Positif dan Risiko Terkendali
Data yang dipaparkan Sumarjono menunjukkan peningkatan DPK sebesar 5,01 persen (year on year/yoy) menjadi Rp465,44 triliun. Kredit yang disalurkan juga tumbuh sebesar 3,25 persen (yoy) mencapai Rp424,65 triliun. Meskipun NPL tercatat sebesar 5,09 persen, namun rasio NPL metto terjaga dengan baik di angka 2,47 persen berkat pencadangan yang cukup.
Bank umum di Jateng juga mencatatkan pertumbuhan positif. DPK tumbuh 5,16 persen (yoy) menjadi Rp425,11 triliun, sementara kredit mencapai Rp386,5 triliun dengan pertumbuhan 3,43 persen (yoy). NPL bank umum tercatat sebesar 4,10 persen, atau Rp15,84 triliun, namun rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) terjaga di angka 89,61 persen.
Sementara itu, DPK bank perkonomian rakyat (BPR) dan bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS) di Jateng tumbuh 3,43 persen (yoy) menjadi Rp40,33 triliun, dengan total kredit mencapai Rp38,10 triliun, naik 1,44 persen (yoy).
Perbankan syariah di Jateng juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan. DPK tumbuh signifikan sebesar 19,75 persen (yoy) mencapai Rp40,07 triliun, dan pembiayaan yang disalurkan tumbuh 26,99 persen (yoy) menjadi Rp33,65 triliun dengan NPF sebesar 4,63 persen.
Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) dan Pasar Modal
Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), perusahaan pembiayaan di Jateng mencatatkan pertumbuhan piutang pembiayaan sebesar 9,42 persen (yoy) mencapai Rp33,17 triliun, dengan NPF sebesar 3,33 persen. Perusahaan penjaminan juga mencatat peningkatan aset sebesar 11,32 persen (yoy) menjadi Rp537 miliar, dengan outstanding pembiayaan sebesar Rp4,01 triliun.
Industri pergadaian juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, yaitu sebesar 28,28 persen (yoy) mencapai Rp6,59 triliun. Pertumbuhan positif juga terlihat di pasar modal Jateng, dengan transaksi yang didominasi investor individu. Jumlah SID Saham mencapai 751.382 investor pada Desember 2024 dengan nilai transaksi Rp16,35 triliun.
Jumlah SID reksadana dan SBN juga meningkat masing-masing 15,04 persen dan 20,75 persen. Hal ini menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pasar modal.
Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Jateng
Jawa Tengah memiliki jumlah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 112 LKM. Penyaluran pinjaman mencapai Rp470 miliar, tumbuh 5,06 persen (yoy), dengan total aset sebesar Rp736 miliar, tumbuh 16,01 persen (yoy).
Secara keseluruhan, data yang disampaikan OJK Jateng menunjukkan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah tersebut dalam keadaan stabil dan menunjukan kinerja yang positif pada tahun 2024. Pertumbuhan yang terjadi di berbagai sektor menunjukkan geliat ekonomi yang baik di Jawa Tengah.
Keberhasilan ini merupakan hasil dari pengawasan yang ketat dari OJK dan juga kontribusi positif dari seluruh pelaku industri jasa keuangan di Jawa Tengah. Diharapkan tren positif ini dapat berlanjut di tahun-tahun mendatang.