Tamasya: Solusi Pemerintah Hadapi Tantangan Bonus Demografi?
Menteri Kependudukan menyebut Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai jawaban atas tantangan bonus demografi, dengan biaya terjangkau dan fasilitas lengkap untuk anak usia 1-4 tahun.

Solo, 24 Februari 2024 (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji, baru-baru ini menyatakan bahwa Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) merupakan solusi strategis untuk menghadapi tantangan bonus demografi Indonesia. Kunjungannya ke TPA Pertiwi di Boyolali, Jawa Tengah, pada Senin lalu, semakin memperkuat pandangan tersebut. Wihaji melihat Tamasya sebagai program yang mampu meningkatkan produktivitas angkatan kerja sekaligus menjamin kesejahteraan anak-anak.
Dalam kunjungannya, Menteri Wihaji menekankan pentingnya peran Tamasya dalam mendukung para pekerja, terutama perempuan. "Kebutuhan lumayan, biar nanti ini menjawab bonus demografi, salah satunya angka produktivitas kan tinggi. Perempuan dan laki-laki bisa kerja, anak bisa dititipkan di sini, di kota cari pembantu sulit, bayar mahal," ujarnya. Pernyataan ini menyoroti kesulitan yang dihadapi para orang tua pekerja dalam mengasuh anak di tengah tuntutan ekonomi perkotaan.
Lebih lanjut, Menteri Wihaji menjelaskan bahwa keberadaan Tamasya menunjukkan komitmen pemerintah dalam membantu masyarakat. "Pemerintah harus hadir. Yang seperti ini bisa dari perusahaan, korporasi, pemerintahan. Intinya ada kecemasan kalau saya kerja anak gimana, ini salah satu caranya," tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tamasya bukan hanya sekadar program penitipan anak, melainkan bagian dari solusi menyeluruh untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga Indonesia.
Program Tamasya: Menjawab Kebutuhan Orang Tua Pekerja
Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) di TPA Pertiwi, Boyolali, menjadi contoh nyata bagaimana program ini beroperasi. Dengan biaya terjangkau, yaitu hanya Rp15.000 per anak, Tamasya menyediakan layanan penitipan anak usia 1-4 tahun dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Fasilitas yang diberikan pun terbilang lengkap, dengan pola asah, asih, asuh yang diterapkan kepada 49 anak yang saat ini dititipkan di TPA Pertiwi. "Ada 49 anak di sini, usia 1-4 tahun. Dilayani dengan luar biasa, dari jam 07.00-16.00 WIB. Saatnya makan ya makan, jam tidur ya tidur," jelas Menteri Wihaji.
Keberadaan Tamasya diharapkan mampu mengurangi beban orang tua pekerja dalam mengasuh anak. Dengan adanya tempat penitipan anak yang terjangkau dan berkualitas, orang tua dapat lebih fokus pada pekerjaan mereka tanpa harus khawatir dengan kesejahteraan anak-anak mereka. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memanfaatkan bonus demografi dengan meningkatkan produktivitas angkatan kerja.
Menteri Wihaji juga berharap agar jumlah Tamasya dapat terus bertambah di masa mendatang. "Kalau potensi ada sekian ribu. Sampai saat ini di kementerian sudah ada. Bisa juga dari pemerintah, swasta, korporasi," katanya. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan Tamasya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan sektor swasta dan korporasi.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Program Tamasya ini memberikan secercah harapan bagi para orang tua pekerja di Indonesia. Dengan adanya program ini, para orang tua dapat lebih fokus pada pekerjaan mereka tanpa harus khawatir dengan pengasuhan anak. Namun, perlu adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, untuk memastikan keberlanjutan dan perluasan program ini.
Tantangan ke depan terletak pada perluasan akses dan peningkatan kualitas layanan Tamasya. Pemerintah perlu memastikan bahwa program ini dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan. Selain itu, perlu adanya peningkatan kualitas layanan, termasuk pelatihan bagi para pengasuh anak, agar anak-anak dapat mendapatkan perawatan dan pendidikan yang optimal.
Secara keseluruhan, kunjungan Menteri Wihaji ke TPA Pertiwi dan pernyataannya mengenai Tamasya menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan bonus demografi. Program Tamasya merupakan langkah konkret dalam mendukung produktivitas angkatan kerja dan kesejahteraan keluarga Indonesia. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Wihaji juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan anak-anak di Tamasya, bahkan menyuapi beberapa anak saat makan siang. Hal ini menunjukkan kepedulian dan perhatian beliau terhadap program ini dan kesejahteraan anak-anak Indonesia.