Undiksha Ciptakan Bahan Bacaan Ramah Disleksia: Bantu Anak di Bali Atasi Kesulitan Membaca
Akademisi Undiksha berhasil menciptakan bahan bacaan khusus untuk anak disleksia di Bali yang memiliki prevalensi jauh lebih tinggi dibanding angka global, membantu mereka membaca lebih baik dan mengurangi kecemasan akademik.

Singaraja, Bali, 03/04 (ANTARA) - Sebuah terobosan baru dalam dunia pendidikan di Bali hadir dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Ketut Trika Adi Ana, seorang akademisi Undiksha, berhasil menciptakan bahan bacaan inovatif yang dirancang khusus untuk membantu anak-anak disleksia. Bahan bacaan ini dirancang untuk mengatasi kesulitan membaca yang sering dialami anak-anak disleksia, sekaligus mengurangi kecemasan akademik yang sering menyertai kondisi tersebut.
Trika Adi Ana menjelaskan bahwa bahan bacaan ini berupa cerita sederhana dengan jenis huruf OpenDyslexic yang dimodifikasi. Modifikasi tersebut meliputi variasi warna per suku kata, ukuran huruf, dan integrasi aktivitas multisensory. Inovasi ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka prevalensi disleksia di Bali, jauh di atas angka global.
Berdasarkan penelitian Dr. Andrea Carrol, diperkirakan 20-40 persen siswa sekolah dasar di Bali mengalami disleksia, angka yang signifikan lebih tinggi dibandingkan prevalensi global yang hanya berkisar antara 5-15 persen. Kondisi ini mendorong Trika Adi Ana untuk mengembangkan solusi yang efektif dan ramah bagi anak-anak disleksia di Bali.
Bahan Bacaan Inovatif untuk Anak Disleksia
Trika Adi Ana mengungkapkan bahwa anak disleksia tidak hanya menghadapi kesulitan membaca dan menulis, tetapi juga permasalahan psikologis seperti kecemasan akademik. Mereka sering merasa cemas saat harus pergi ke sekolah, mengerjakan tugas, atau menghadapi ujian. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka menjadi korban perundungan karena dianggap lebih lambat dalam menguasai keterampilan membaca dan menulis.
Anak-anak disleksia sering kesulitan membedakan huruf yang mirip, seperti 'b' dan 'd', serta 'p' dan 'q'. Mereka juga mengalami kesulitan dalam membedakan bunyi huruf 'e', kapan dibunyikan /e/ dan kapan /Ə/. Selain itu, mereka kerap kesulitan berkonsentrasi saat membaca teks panjang, bahkan melihat teks tampak bergelombang atau melompat-lompat. Bahan bacaan yang dirancang khusus ini bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Bahan bacaan ini terbukti membantu anak disleksia membedakan huruf yang mirip dan meningkatkan kelancaran membaca. Penggunaan alat bantu penunjuk juga efektif untuk meningkatkan fokus mereka. Lebih dari itu, aktivitas multisensory yang disertakan membuat proses membaca lebih menyenangkan, sehingga berpotensi mengurangi kecemasan akademik.
Respon Positif dari University of Sydney
Hasil penelitian dan pengembangan bahan bacaan ini telah dipresentasikan di University of Sydney pada 29 Maret 2025 dan mendapat sambutan positif. Trika Adi Ana berharap bahan bacaan ramah disleksia ini dapat menjadi instrumen intervensi yang efektif, tidak hanya di Bali tetapi juga di seluruh Indonesia. Inovasi ini memberikan harapan baru bagi anak-anak disleksia dan keluarga mereka.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya intervensi khusus untuk anak disleksia. Mereka memiliki cara belajar yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Dengan adanya bahan bacaan ini, diharapkan lebih banyak anak disleksia dapat mengakses pendidikan yang berkualitas dan mencapai potensi mereka secara maksimal. Inisiatif ini juga menyoroti pentingnya perhatian dan dukungan terhadap anak-anak dengan kebutuhan belajar khusus.
Ke depannya, diharapkan akan ada lebih banyak penelitian dan pengembangan dalam bidang pendidikan inklusif untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dengan disleksia dan berbagai kebutuhan belajar khusus lainnya. Kolaborasi antara akademisi, praktisi pendidikan, dan pemerintah sangat penting untuk memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan yang berkualitas.