Waspada Longsor saat Lebaran: Pemkot Semarang Minta Lurah Tingkatkan Kewaspadaan
Pemkot Semarang instruksikan lurah waspadai potensi longsor di masa Lebaran 2025, setelah kejadian longsor di Karanganyar Gunung yang mengakibatkan 16 warga mengungsi.

Bencana tanah longsor yang terjadi di Jalan Jangli Raya, Kelurahan Karanganyar Gunung, Kecamatan Candisari, Semarang, pada Kamis (20/3) pagi, menjadi peringatan serius bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Kejadian ini mengakibatkan akses jalan terputus dan 16 warga terpaksa mengungsi karena kondisi rumah mereka yang membahayakan. Akibatnya, Pemkot Semarang langsung menginstruksikan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi longsor, khususnya selama masa libur Lebaran 2025.
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menekankan pentingnya kewaspadaan ini dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan Rakor Forkopimda Kota Semarang menjelang Idul Fitri 1446 Hijriah. Ia menyampaikan bahwa kejadian longsor di Karanganyar Gunung harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, termasuk camat, lurah, OPD, dan pemangku kepentingan lainnya. "Ini sering saya katakan ke lurah, kepekaannya tolong ditingkatkan," tegas Iswar, menekankan pentingnya respon cepat terhadap laporan rekahan tanah.
Langkah antisipasi dini menjadi fokus utama. Pemkot Semarang tidak ingin kejadian serupa terulang dan menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, instruksi tegas diberikan untuk segera melakukan tindakan pencegahan sebelum bencana terjadi. "Kami tidak ingin ada timbul korban, segera antisipasi," tambahnya.
Langkah Konkret Antisipasi Longsor
Menindaklanjuti kejadian longsor tersebut, Pemkot Semarang memberikan instruksi spesifik kepada seluruh lurah di Kota Semarang. Mereka diminta untuk melakukan pemetaan wilayah yang rawan longsor dan potensi bencana lainnya, termasuk gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Pemetaan ini harus dilakukan dalam waktu satu minggu.
Iswar Aminuddin menambahkan, "Lurah-lurah tolong selama satu minggu ini, turun ke lapangan, petakan wilayah, pastikan tidak ada rekahan di wilayah panjenengan. Antisipasi segera." Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran dari kejadian di Karanganyar Gunung, termasuk dokumentasi kondisi sebelum terjadinya longsor untuk evaluasi dan pencegahan di masa mendatang.
Lebih lanjut, Iswar meminta agar lurah meningkatkan kepekaan terhadap potensi longsor, terutama di daerah tebing. "Rumah-rumah di tebing pastikan tidak ada rekahan. Kalau ada rekahan segera ditutup. Sebab jika kena hujan, meresap ke dalam, kalau tanahnya sudah gembur, enggak lama pasti akan terjadi longsor," jelasnya. Perhatian khusus juga diberikan pada kondisi saluran air, agar air tidak meresap ke dalam tanah dan memicu longsor.
"Pastikan air yang ada tidak masuk ke tanah, terutama yang di tebing, pastikan air terbuang di saluran kota dengan baik," ujarnya. Hal ini penting untuk mencegah rembesan air yang dapat menggerus tanah dan menyebabkan longsor.
Kesiapan Lebaran 2025
Selain fokus pada antisipasi bencana longsor, rapat tersebut juga membahas kesiapan Pemkot Semarang dalam menghadapi arus mudik Lebaran 2025. Berbagai aspek dibahas, termasuk ketersediaan pangan, pengendalian harga, stok dan distribusi BBM dan gas, pembentukan pos pengamanan (Pospam) dan pos pelayanan terpadu, pelayanan kesehatan, pelayanan publik di tingkat kecamatan dan kelurahan, serta pengendalian sampah.
Iswar Aminuddin menyatakan optimisme atas kesiapan Pemkot Semarang dan lembaga vertikal terkait. "Kesiapan Pemkot Semarang bersama lembaga vertikal, semua dalam kondisi siap dan aman. Apalagi ketersediaan pangan kita sudah oke, bahkan ketersediaan pangan kita untuk tujuh bulan ke depan masih cukup untuk masyarakat. Inflasi kita juga stabil. Kita siap menyambut arus mudik Lebaran 2025," pungkas Iswar.
Kesimpulannya, Pemkot Semarang mengambil langkah proaktif untuk mencegah bencana longsor dan memastikan keamanan warga selama masa Lebaran 2025. Instruksi kepada lurah untuk melakukan pemetaan wilayah dan antisipasi dini menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi bencana ini.