Bau Nyale: Tradisi Unik Menangkap Cacing Laut di Lombok
Bau Nyale, tradisi menangkap cacing laut di Lombok, merupakan pesta rakyat tahunan yang kaya akan budaya dan kuliner unik, dengan nyale diolah menjadi berbagai hidangan lezat.
Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Bau Nyale, tradisi menangkap cacing laut (nyale) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, adalah pesta rakyat yang terjadi setiap tahun pada tanggal 19 dan 20 bulan ke-10 kalender Sasak (biasanya Februari atau Maret). Ribuan warga berkumpul di pantai untuk menangkap nyale yang muncul ke permukaan laut. Tradisi ini dilakukan karena nyale merupakan sumber protein penting dan bagian penting dari budaya Sasak, serta dipercaya sebagai pertanda kesuburan. Penangkapan dilakukan secara beramai-ramai menggunakan alat sederhana seperti sorok atau jaring kecil.
Pada tahun 2025, ribuan orang memadati Pantai Tampah di Desa Mekarsari untuk mengikuti Bau Nyale pada 18 dan 19 Februari. Arsyad Wijaya, seorang warga setempat yang telah menangkap nyale sejak tahun 1995, menjelaskan bahwa hanya nyale berukuran 20-50 sentimeter yang ditangkap, sementara nyale aik (nyale kecil dan transparan) dibiarkan. Bau Nyale bukan hanya sekadar tradisi menangkap cacing laut, tetapi juga perayaan budaya yang unik dan menarik bagi wisatawan.
Keunikan Bau Nyale terletak pada kemunculan nyale yang hanya terjadi setahun sekali, bahkan setiap tiga tahun sekali muncul dua kali. Fenomena alam ini membuat nyale menjadi komoditas berharga, dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar tradisional. Selain itu, pengolahan nyale yang sederhana dengan rempah-rempah lokal seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai, menghasilkan cita rasa khas yang lezat dan gurih, menjadikannya hidangan istimewa bagi masyarakat Lombok.
Mengenal Lebih Dekat Tradisi Bau Nyale
Tradisi Bau Nyale merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Sasak di selatan Pulau Lombok. Kegiatan ini dilakukan secara turun-temurun dan menjadi simbol persatuan serta kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam. Bau Nyale bukan hanya sekadar perburuan cacing laut, tetapi juga momen untuk mempererat tali silaturahmi antar warga.
Proses penangkapan nyale dilakukan saat air laut surut, dengan warga menggunakan alat sederhana. Nyale yang berhasil ditangkap kemudian diolah menjadi berbagai hidangan, seperti nyale pes (nyale bakar), gulai nyale, dan nyale goreng. Pengolahan nyale menggunakan rempah-rempah sederhana, menghasilkan cita rasa yang khas dan lezat.
Uniknya, nyale juga diolah menjadi masin, sejenis bumbu masak pengganti terasi yang dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Hal ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Sasak dalam mengawetkan makanan.
Selain dikonsumsi, nyale juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Nyale seringkali menjadi bagian dari acara selamatan atau upacara adat. Ini menunjukkan bahwa nyale bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna spiritual bagi masyarakat setempat.
Pengolahan Nyale: Sederhana Namun Istimewa
Pengolahan nyale menunjukkan kearifan lokal masyarakat Sasak dalam memanfaatkan sumber daya alam secara sederhana namun menghasilkan rasa yang istimewa. Rempah-rempah yang digunakan sangat sederhana, hanya bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tidak ada rempah lain yang digunakan, sehingga rasa gurih nyale tetap terasa.
Untuk membuat gulai nyale, hanya dibutuhkan santan dari satu butir kelapa, bawang merah dan bawang putih sekitar seperempat kilogram, dan cabai. Proses memasaknya pun sederhana dan tidak membutuhkan waktu lama. Nyale goreng dibuat dengan cara menggoreng gulai nyale hingga kering tanpa minyak.
Abdul Manaf, seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa olahan nyale favoritnya adalah nyale pes, yaitu nyale yang dibungkus daun kelapa atau daun pisang, kemudian dipanggang sampai kering. Ini menunjukkan variasi pengolahan nyale yang sederhana namun tetap lezat.
Bahkan, nyale juga bisa diolah menjadi masin, sejenis bumbu masak yang dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Proses pembuatan masin melibatkan garam dan bumbung bambu, menunjukkan kearifan lokal dalam mengawetkan makanan.
Nilai Gizi dan Kelestarian Nyale
Nyale (Eunice viridis) merupakan cacing laut yang kaya akan protein. Penelitian Universitas Muhammadiyah Mataram pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kandungan protein nyale di Pantai Kuta mencapai 37,38 persen. Namun, karena kandungan proteinnya yang tinggi, beberapa orang mungkin mengalami alergi setelah mengkonsumsinya.
Meskipun kaya protein dan menjadi sumber pangan alternatif, penangkapan nyale harus dilakukan secara bijak dan berkelanjutan untuk menjaga kelestariannya. Penangkapan yang berlebihan dapat mengancam populasi nyale dan ekosistem laut. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam.
Tradisi Bau Nyale tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat, tetapi juga melestarikan budaya dan kearifan lokal. Penting untuk menjaga kelestarian tradisi ini agar tetap lestari untuk generasi mendatang. Bau Nyale merupakan warisan budaya yang perlu dilindungi dan dijaga kelangsungannya.