Erafone Jaga Bumi: Inisiatif Daur Ulang Limbah Elektronik untuk Ekonomi Sirkular
Erafone meluncurkan program 'Jaga Bumi' untuk mendaur ulang limbah elektronik, mengajak masyarakat dan industri kreatif memanfaatkan potensi ekonomi sirkular dari sampah elektronik.
Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Sebuah inisiatif kolaboratif bernama 'Erafone Jaga Bumi' diluncurkan di Jakarta pada Kamis, 27 Februari 2024, oleh Erajaya Grup, mengajak masyarakat untuk mendaur ulang limbah elektronik, terutama gawai bekas. Inisiatif ini bertujuan menciptakan ekonomi sirkular dan mengatasi masalah sampah elektronik di Indonesia yang mencapai dua juta ton per tahun, dengan hanya 17,4 persen yang dikelola dengan baik. Program ini menyediakan 25-30 kotak pengumpulan (drop box) di lima wilayah kerja untuk memudahkan masyarakat dalam mendaur ulang perangkat elektronik mereka.
Gerakan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas, aktivis lingkungan, dan masyarakat umum. Erafone bermitra dengan perusahaan pengelola limbah elektronik yang kompeten untuk memastikan proses daur ulang ramah lingkungan. Langkah ini penting karena sampah elektronik mengandung bahan kimia berbahaya yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia. Head of CSR Erajaya Grup, Rezza Lazuardi Pramata, berharap program ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan konsumsi elektronik yang bertanggung jawab.
Aktor dan aktivis lingkungan, Ramon Y. Tungka, juga turut mendukung inisiatif ini. Ia menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat akan nilai ekonomi limbah elektronik. Ia menekankan potensi besar limbah elektronik untuk industri kreatif, dan berharap program ini mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah elektronik.
Potensi Ekonomi Sirkular dari Limbah Elektronik
Inisiatif Erafone Jaga Bumi menargetkan 10 drop box di sepuluh gerai Erafone di DKI Jakarta pada tahap awal. Program ini bertujuan untuk memberikan solusi aman dan mudah bagi masyarakat dalam membuang perangkat elektronik bekas. Proses daur ulang akan dilakukan oleh mitra yang kompeten dan ramah lingkungan, dengan pelaporan perkembangan daur ulang secara berkala.
Menurut Rezza, program ini diharapkan dapat membangun kebiasaan konsumsi elektronik yang lebih bertanggung jawab. Dengan menyediakan fasilitas pengumpulan yang mudah diakses, masyarakat dapat berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dan sekaligus mendukung ekonomi sirkular.
Ramon Y. Tungka menambahkan bahwa kesadaran akan nilai ekonomi limbah elektronik sangat penting. Industri kreatif dapat memanfaatkan limbah ini untuk menciptakan produk baru, sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Tantangan Pengelolaan Sampah Elektronik di Indonesia
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan limbah elektronik dalam jumlah besar setiap tahunnya. Namun, sebagian besar sampah elektronik tidak dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan.
Rendahnya kesadaran masyarakat dan kurangnya infrastruktur daur ulang yang memadai menjadi tantangan utama dalam pengelolaan sampah elektronik di Indonesia. Inisiatif seperti Erafone Jaga Bumi diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi masalah ini.
Dengan melibatkan berbagai pihak dan menyediakan fasilitas yang mudah diakses, program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah elektronik.
Program ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia, dengan memanfaatkan limbah elektronik sebagai sumber daya yang bernilai ekonomi.
Melalui kolaborasi dan komitmen bersama, diharapkan pengelolaan sampah elektronik di Indonesia dapat ditingkatkan, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih dan sehat, serta ekonomi yang lebih berkelanjutan.