Harga Lada Putih di Kendari Tembus Rp130.000 per Kg, Petani Untung?
Harga lada putih di Kendari melonjak hingga Rp130.000 per kilogram pada Februari 2025, didorong permintaan tinggi dan produksi rendah, meningkatkan pendapatan petani.
Harga lada putih di Kendari, Sulawesi Tenggara, mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai Rp130.000 per kilogram pada Februari 2025. Kenaikan ini terjadi di tingkat pedagang antar-pulau di beberapa kota di Kendari. Dinas Perkebunan dan Hortikultura (Disbun) Sulawesi Tenggara mencatat lonjakan harga ini setelah sebelumnya sempat menyentuh angka Rp125.000 per kilogram pada pekan keempat Januari 2025. Kenaikan harga ini tentu menjadi kabar baik bagi para petani lada di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Perkebunan Disbun Sultra, Akbar Effendi, menjelaskan bahwa kenaikan harga sebesar Rp5.000 per kilogram ini didorong oleh beberapa faktor. Salah satu faktor utama adalah berkurangnya produksi lada putih, yang diiringi dengan tingginya permintaan dari pasar luar daerah, seperti Makassar dan Surabaya. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, sehingga harga jual pun meningkat.
"Berdasarkan data yang kami terima, harga lada putih naik Rp5.000, sehingga mencapai Rp130.000/kg," ungkap Akbar Effendi dalam keterangannya di Kendari, Kamis. Ia berharap kenaikan harga ini dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan para petani lada di Sulawesi Tenggara. Perlu diingat bahwa harga lada putih pada periode Oktober-Desember 2024 hanya berkisar antara Rp105.000 hingga Rp110.000 per kilogram.
Kenaikan Harga Lada Putih dan Dampaknya
Kenaikan harga lada putih tidak hanya berdampak pada petani lada itu sendiri. Kenaikan harga ini juga berpotensi mendorong peningkatan produksi dan menjadi penyemangat bagi petani komoditas lainnya di Sulawesi Tenggara. Akbar Effendi menambahkan bahwa kenaikan harga komoditas perkebunan lainnya juga terjadi, seperti kopra hitam yang naik dari Rp17.300 menjadi Rp18.000 per kilogram.
"Kami harapkan kenaikan harga tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani perkebunan komoditi lada," ujar Akbar Effendi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas lada putih agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan kualitas yang baik, diharapkan harga lada putih dapat tetap terjaga atau bahkan meningkat di masa mendatang.
Selain itu, kenaikan harga lada putih ini juga berdampak positif terhadap perekonomian daerah. Meningkatnya pendapatan petani akan berdampak pada peningkatan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Pemerintah daerah diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pengembangan sektor pertanian dan perkebunan di Sulawesi Tenggara.
Harga Komoditas Perkebunan Lainnya
Data dari Pusat Informasi Pasar (PIP) Disbun Sultra menunjukkan bahwa beberapa komoditas perkebunan lainnya juga mengalami perubahan harga. Berikut beberapa komoditas dan harga terbarunya:
- Kakao non fermentasi: Rp130.000 per kg
- Arang tempurung: Rp9.000 per kg
- Bunga cengkeh kering: Rp114.000 per kg
- Mete gelondongan: Rp21.000 per kg
- Mete kupas: Rp135.000 per kg
- Pinang kupas: Rp7.000 per kg
- Kemiri gelondongan: Rp8.000 per kg
- Tandan buah segar (TBS): Rp2.600 per kg
Kenaikan harga komoditas perkebunan ini menunjukkan potensi besar sektor pertanian di Sulawesi Tenggara. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan pemerintah, sektor ini dapat menjadi penggerak utama perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Secara keseluruhan, kenaikan harga lada putih di Kendari menjadi bukti nyata potensi komoditas pertanian di Sulawesi Tenggara. Pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu terus berupaya mendukung para petani agar dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen mereka. Dengan demikian, kesejahteraan petani dapat terus meningkat dan perekonomian daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan.