Toleransi Budaya Terpancar dalam Pawai Ogoh-ogoh Lumajang
Pawai Ogoh-ogoh di Lumajang, Jawa Timur, menunjukkan toleransi antar umat beragama, Hindu dan Muslim, dalam menyambut Nyepi dan Idul Fitri.
Pawai Ogoh-ogoh di Lumajang, Jawa Timur, pada Jumat malam, 28 Maret 2024, menjelang perayaan Nyepi dan Idul Fitri, menjadi bukti nyata toleransi antar umat beragama. Ribuan umat Hindu, bersama umat Muslim, turut serta dalam perayaan tersebut, menciptakan atmosfer penuh harmoni dan kebersamaan.
Keikutsertaan umat Muslim dalam pawai Ogoh-ogoh ini semakin memperkuat semangat perayaan. Bukan hanya umat Hindu, tetapi juga masyarakat dari berbagai latar belakang keagamaan berpartisipasi aktif dalam pembuatan patung Ogoh-ogoh. Kerja sama antar umat beragama dalam menciptakan karya seni ini menjadi simbol indah toleransi dan persatuan.
Menurut Budiono, Kepala Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, pawai Ogoh-ogoh bertujuan untuk mengusir roh jahat. "Pawai Ogoh-ogoh ini merupakan tradisi untuk membuang energi negatif," ujarnya pada Sabtu, 29 Maret 2024. Sebanyak 17 patung Ogoh-ogoh yang menggambarkan Si Butha Kala, makhluk yang dianggap mengganggu kehidupan manusia, diarak dalam pawai tersebut.
Makna Filosofis Ogoh-ogoh dan Upacara Pembakaran
Budiono menjelaskan lebih lanjut bahwa ritual ini bertujuan untuk membersihkan lingkungan dari bencana dan memastikan perayaan Nyepi berjalan aman dan damai. Setelah diarak, Ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pemusnahan roh jahat dan pembersihan diri. "Pembakaran Ogoh-ogoh melambangkan penyucian diri dan lingkungan," tambahnya.
Wira Dharma, Ketua Pura Mandhara Giri Semeru Agung, menambahkan bahwa pembakaran Ogoh-ogoh bukan sekadar tindakan ritual, tetapi sarat makna dan harapan akan terciptanya dunia yang bersih dan terbebas dari gangguan makhluk jahat. Upacara ini menjadi wujud nyata dari doa dan permohonan masyarakat.
Pawai Ogoh-ogoh yang berlangsung di Jalan Senduro Raya ini merupakan agenda tahunan yang selalu dinantikan. Ribuan warga Desa Senduro, Kecamatan Lumajang, tumpah ruah menyaksikan dan turut serta dalam acara tersebut. Kehadiran musik tradisional dan penampilan-penampilan seni menambah semarak dan daya tarik pawai ini.
Suasana Harmonis Antar Umat Beragama
Pawai Ogoh-ogoh di Lumajang bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ajang memperkuat persatuan dan kesatuan antar umat beragama. Kehadiran umat Muslim dalam perayaan Nyepi menunjukkan toleransi dan saling menghormati antar keyakinan yang patut diapresiasi.
Kegiatan ini juga menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan agama tidak menghalangi terciptanya kerukunan dan kebersamaan. Semangat gotong royong dalam pembuatan Ogoh-ogoh dan partisipasi aktif dalam pawai menunjukkan betapa indahnya keberagaman di Indonesia.
Suksesnya penyelenggaraan pawai Ogoh-ogoh di Lumajang menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus menjaga dan memperkuat toleransi antar umat beragama. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman agama dapat menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Dengan demikian, pawai Ogoh-ogoh di Lumajang tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia. Semoga semangat ini terus terjaga dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia.