Dampak Tarif Resiprokal AS terhadap RI: Moderat, Namun Waspada!
Ekonom Indef menilai dampak tarif resiprokal AS terhadap Indonesia moderat, meski beberapa produk ekspor terdampak, namun Indonesia diuntungkan karena negara pesaing juga terkena dampak.

Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor, termasuk terhadap Indonesia, pada Rabu, 2 April 2019. Kebijakan tarif resiprokal ini, yang mencapai 32 persen untuk Indonesia, berdampak pada beberapa produk ekspor Indonesia seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan kelapa sawit. Langkah ini diambil oleh Trump dengan tujuan menciptakan lapangan kerja di AS, mengatasi apa yang dianggapnya sebagai praktik perdagangan tidak adil dari berbagai negara. Dampaknya terhadap Indonesia, menurut ekonom Indef Fadhil Hasan, cenderung moderat, karena negara pesaing seperti Vietnam dan Malaysia juga terkena dampak yang lebih besar.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil Hasan, memberikan analisisnya terkait dampak kebijakan ini dalam Diskusi Publik "Waspada Genderang Perang Dagang" di Jakarta pada Jumat, 4 April 2019. Ia menekankan bahwa meskipun beberapa sektor ekspor Indonesia terdampak, dampak secara keseluruhan dinilai moderat. Pernyataan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa negara-negara pesaing Indonesia di Asia Tenggara juga terkena dampak tarif resiprokal AS.
Meskipun moderat, Indonesia tetap perlu waspada. AS merupakan mitra dagang terbesar kedua Indonesia setelah China, dengan pangsa ekspor Indonesia ke AS mencapai 10,5 persen. Indonesia juga menikmati surplus perdagangan dengan AS sebesar 16,8 miliar dolar AS. Oleh karena itu, perlu strategi mitigasi untuk meminimalisir dampak negatif kebijakan ini terhadap perekonomian Indonesia.
Produk Ekspor Indonesia yang Terdampak
Setidaknya 10 produk ekspor Indonesia diperkirakan akan terdampak oleh tarif resiprokal AS. Produk-produk tersebut meliputi tekstil, garmen, alas kaki, dan kelapa sawit. Besaran tarif yang dikenakan bervariasi, dengan Indonesia dikenakan tarif 32 persen. Negara-negara lain di Asia Tenggara juga terkena dampak, dengan Vietnam, Malaysia, Kamboja, dan Thailand masing-masing dikenakan tarif 46 persen, 24 persen, 49 persen, dan 36 persen.
Meskipun demikian, Fadhil Hasan berpendapat bahwa dampak bagi Indonesia lebih moderat dibandingkan negara-negara pesaing. Hal ini karena kebijakan tarif resiprokal AS berlaku untuk semua negara, sehingga negara-negara pesaing juga mengalami penurunan daya saing. Ini dapat mengurangi kerugian yang dialami Indonesia di pasar AS.
Pemerintah Indonesia perlu melakukan evaluasi dan mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi dampak tarif resiprokal AS. Langkah-langkah tersebut dapat berupa diversifikasi pasar ekspor, peningkatan daya saing produk, dan negosiasi dengan pemerintah AS.
Perbandingan Dampak dengan Negara Lain
Fadhil Hasan menekankan bahwa Vietnam dan Malaysia berpotensi menghadapi level tarif yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Hal ini memberikan sedikit keuntungan kompetitif bagi Indonesia di pasar AS, meskipun tetap perlu diwaspadai. Perlu strategi yang tepat untuk memanfaatkan peluang ini dan meminimalisir dampak negatif.
Perlu diingat bahwa data menunjukkan Indonesia menikmati surplus perdagangan dengan AS. Ini menunjukan potensi Indonesia untuk tetap bersaing di pasar AS meskipun dengan adanya tarif resiprokal. Namun, peningkatan daya saing produk Indonesia tetap menjadi kunci keberhasilan menghadapi tantangan ini.
Dengan demikian, dampak tarif resiprokal AS terhadap Indonesia perlu dilihat secara komprehensif, mempertimbangkan faktor-faktor seperti besaran tarif, dampak pada negara pesaing, dan potensi surplus perdagangan yang telah ada.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu bekerja sama untuk menghadapi tantangan ini dan memastikan perekonomian Indonesia tetap stabil dan tumbuh.
Presiden Trump beralasan bahwa tarif timbal balik ini bertujuan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di Amerika Serikat. Ia dan pejabat pemerintahannya berpendapat bahwa AS telah dirugikan oleh praktik perdagangan yang dianggap tidak adil dari banyak negara.
Pengumuman tarif tersebut dilakukan dalam acara 'Make America Wealthy Again' di Rose Garden, Gedung Putih.